5°07'40.9"S 119°29'11.0"E

fkm@unhas.ac.id

Strategi Global Menghadapi Triple Burden Malnutrition: Catatan Penting dari ICNPH 2026 di Makassar

MAKASSAR – Masalah gizi masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang paling mendesak di abad ke-21. Sebagai pusat keunggulan akademik di Indonesia Timur, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menunjukkan peran strategisnya dalam kancah internasional. Melalui gelaran The 3rd International Conference on Nutrition and Public Health (ICNPH) 2026 yang berlangsung di Makassar, berbagai pakar gizi dunia berkumpul untuk merumuskan strategi hebat dalam mengatasi krisis gizi global.

Konferensi ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah manifestasi dari komitmen kolektif untuk menjawab tantangan “Triple Burden of Malnutrition” atau beban tiga kali lipat malnutrisi yang mencakup gizi buruk (stunting dan wasting), kelebihan berat badan (obesitas), serta kekurangan mikronutrien.

Memahami Tantangan Triple Burden Malnutrition

Dunia saat ini tidak hanya menghadapi masalah kelaparan. Fenomena gizi kini jauh lebih kompleks. Di satu sisi, angka stunting masih menjadi perhatian serius bagi pemerintah Indonesia, yang saat ini berada di kisaran 14 persen. Namun di sisi lain, prevalensi obesitas pada orang dewasa dan anak-anak terus meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Selain itu, “lapar tersembunyi” atau defisiensi vitamin dan mineral penting tetap menghantui populasi yang tampak sehat secara fisik.

Dalam ICNPH 2026, ditegaskan bahwa masalah gizi tidak bisa dilihat secara parsial. Intervensi yang hanya berfokus pada satu aspek tanpa mempertimbangkan aspek lainnya justru berisiko memperburuk keadaan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan sistem pangan yang berkelanjutan dan integrasi kebijakan kesehatan masyarakat yang holistik.

Inovasi Nutrisi dan Gut Microbiota

Salah satu sorotan utama dalam konferensi ini adalah diskusi mengenai Gut Microbiota atau mikrobiota usus. Prof. Andrew Holmes, salah satu pembicara kunci, menekankan bahwa kesehatan manusia sangat bergantung pada ekosistem mikroorganisme di dalam sistem pencernaan. Inovasi dalam nutrisi personal kini mulai melirik peran mikrobiota untuk menentukan jenis asupan yang paling tepat bagi individu guna mencegah penyakit degeneratif dan memperbaiki status gizi.

Hal ini menjadi terobosan penting karena menunjukkan bahwa solusi gizi tidak lagi bersifat “one size fits all”. Strategi yang hebat melibatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana tubuh berinteraksi dengan makanan pada tingkat molekuler.

Komitmen Pemerintah: Makan Bergizi Gratis (MBG)

Isu nasional yang hangat diperbincangkan dalam konferensi ini adalah implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh pemerintah. Program ini dinilai sebagai langkah nyata untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Para akademisi dan praktisi kesehatan di ICNPH 2026 sepakat bahwa program MBG harus dikawal dengan data yang akurat dan pengawasan nutrisi yang ketat agar tujuannya untuk menurunkan angka stunting tercapai secara optimal.

Wakil Rektor Unhas, Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, ST., M.Phil., menegaskan bahwa penurunan angka stunting adalah investasi jangka panjang. Sumber daya manusia yang berkualitas hanya bisa lahir dari generasi yang mendapatkan asupan gizi yang cukup sejak dalam kandungan hingga masa pertumbuhan kritis mereka.

Sinergi dengan Sustainable Development Goals (SDGs)

Upaya yang dirumuskan dalam konferensi ICNPH 2026 ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs). Masalah gizi merupakan jantung dari pencapaian berbagai target pembangunan berkelanjutan.

Pertama, langkah ini berkontribusi langsung pada SDGs Goal 2: Zero Hunger (Tanpa Kelaparan), yang bertujuan mengakhiri segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030. Strategi gizi yang dibahas bertujuan memastikan akses universal terhadap pangan yang aman, bergizi, dan cukup sepanjang tahun.

Kedua, upaya ini mendukung SDGs Goal 3: Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Dengan mengatasi triple burden of malnutrition, kita secara otomatis menurunkan risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi yang dipicu oleh obesitas, serta meningkatkan imunitas anak-anak melalui kecukupan mikronutrien.

Terakhir, kolaborasi internasional dalam konferensi ini mencerminkan SDGs Goal 17: Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Kerja sama antara akademisi dari berbagai negara, pemerintah, dan sektor swasta adalah kunci untuk menciptakan perubahan sistemik dalam kebijakan gizi dunia. Tanpa kemitraan global, solusi lokal akan sulit mencapai skala yang dibutuhkan untuk mengatasi krisis gizi global.

Peran FKM Unhas sebagai Katalisator Perubahan

Sebagai penyelenggara, FKM Unhas terus memperkuat jejaring globalnya. Konferensi ini menjadi wadah bagi ratusan karya ilmiah untuk dipaparkan, memberikan bukti berbasis data (evidence-based) yang dapat digunakan oleh pengambil kebijakan. Keberhasilan acara ini menunjukkan bahwa Makassar telah menjadi titik temu penting bagi diskusi kesehatan publik di tingkat internasional.

Diharapkan, hasil-hasil pemikiran dan catatan strategis dari ICNPH 2026 tidak hanya berhenti di meja seminar, tetapi segera bertransformasi menjadi aksi nyata di lapangan. Perubahan kebijakan gizi yang lebih hebat, berkelanjutan, dan inklusif adalah impian yang harus diwujudkan demi masa depan generasi mendatang.

Kabar Terkini

tentang kami

FKM UNHAS

Jln. Perintis Kemerdekaan Km. 10.
Kampus Unhas Tamalanrea Makassar 90245
Sulawesi Selatan, Indonesia