Memperkuat Kompetensi Berbasis Bukti: Prodi S1 Ilmu Gizi FKM Unhas Gelar Pembekalan EBL I dan EBL III

MAKASSAR – Program Studi S1 Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak tenaga gizi profesional yang kompeten melalui pelaksanaan Evidence-Based Learning (EBL). Sebagai langkah awal implementasi lapangan, Prodi S1 Ilmu Gizi secara resmi membuka kegiatan pembekalan untuk EBL Tahap I dan EBL Tahap III. Kegiatan ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan fondasi teoritis dan praktis yang kuat sebelum mereka terjun langsung ke tengah masyarakat. Pentingnya Pembelajaran Berbasis Bukti dalam Bidang Gizi Dalam sambutannya saat membuka acara, Ketua Program Studi S1 Ilmu Gizi FKM Unhas menekankan bahwa metode Evidence-Based Learning merupakan instrumen krusial dalam kurikulum kesehatan modern. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami teori di dalam kelas, tetapi juga harus mampu menerapkan data dan fakta ilmiah untuk memecahkan masalah gizi yang kompleks di dunia nyata. Pembekalan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, hingga etika berkomunikasi dengan masyarakat. Dengan persiapan yang matang, diharapkan mahasiswa mampu mengidentifikasi masalah gizi secara akurat dan memberikan rekomendasi intervensi yang tepat sasaran. Perbedaan Fokus: EBL I dan EBL III Kegiatan EBL kali ini melibatkan dua angkatan mahasiswa dengan fokus yang berbeda namun saling berkesinambungan: Proses Pembekalan: Dari Teori ke Simulasi Selama masa pembekalan, mahasiswa mendapatkan materi intensif dari para dosen pakar di lingkungan FKM Unhas. Materi yang disampaikan meliputi penggunaan alat antropometri yang presisi, pengisian kuesioner frekuensi makanan (Food Frequency Questionnaire), hingga teknik analisis data menggunakan perangkat lunak terkini. Tak hanya paparan materi, pembekalan ini juga diisi dengan sesi simulasi lapangan. Mahasiswa mempraktikkan cara melakukan wawancara yang persuasif dan edukatif, mengingat tantangan di lapangan seringkali berkaitan dengan hambatan komunikasi dan perbedaan kearifan lokal. Kolaborasi dan Sinergi Akademik Pelaksanaan EBL I dan III ini juga menjadi ajang kolaborasi antara universitas dengan berbagai mitra kesehatan, seperti Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat. Kemitraan ini sangat penting untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan mahasiswa sejalan dengan program prioritas pemerintah daerah, seperti penanganan stunting dan pencegahan penyakit tidak menular. Dukungan dari pimpinan fakultas juga terlihat dari keterlibatan langsung para pembimbing lapangan yang akan memantau progres mahasiswa secara berkala. Hal ini menjamin bahwa setiap aktivitas mahasiswa di lapangan tetap berada dalam koridor akademik dan etika profesi yang ketat. Kontribusi Nyata terhadap SDGs Program Evidence-Based Learning (EBL) yang dijalankan oleh Prodi S1 Ilmu Gizi FKM Unhas ini memiliki kaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada Tujuan ke-2: Tanpa Kelaparan dan Tujuan ke-3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Melalui identifikasi dini masalah gizi dan edukasi pola makan seimbang, mahasiswa berkontribusi langsung dalam upaya nasional menurunkan angka malnutrisi dan stunting. Selain itu, kegiatan ini mendukung Tujuan ke-4: Pendidikan Berkualitas, di mana mahasiswa mendapatkan akses pendidikan yang inklusif dan berbasis praktik nyata, serta Tujuan ke-17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama lintas sektor antara akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Dengan integrasi SDGs ini, FKM Unhas memastikan bahwa setiap kegiatan akademiknya memberikan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat global. Harapan bagi Masa Depan Mahasiswa Dekan FKM Unhas senantiasa mendorong agar mahasiswa Gizi Unhas tidak hanya menjadi pengamat, tetapi menjadi aktor aktif dalam perbaikan status gizi bangsa. Melalui EBL, mahasiswa dilatih untuk memiliki ketajaman analisis, integritas profesional, dan empati sosial yang tinggi. “Kami berharap melalui pembekalan EBL I dan III ini, mahasiswa siap menghadapi dinamika di lapangan. Mereka adalah duta kesehatan yang membawa nama baik Unhas, sehingga profesionalisme dan etika harus selalu dijunjung tinggi,” tutur pimpinan fakultas dalam pesan penutupnya. Pembekalan EBL I dan III merupakan bukti nyata komitmen Program Studi S1 Ilmu Gizi FKM Unhas dalam mewujudkan visi menjadi pusat keunggulan pendidikan gizi di Indonesia Timur. Dengan memadukan kekuatan teori dan bukti lapangan, lulusan FKM Unhas diharapkan siap menjawab tantangan kesehatan masa depan yang semakin dinamis.
Perkuat Kualitas Pembelajaran Lapangan, Dekan FKM Unhas Kunjungi Langsung Posko PBL II di Soppeng

SOPPENG – Dalam upaya memastikan kualitas pendidikan berbasis lapangan berjalan optimal, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas), Prof. Sukri Palutturi, S.KM., M.Kes., M.ScPH., Ph.D., melakukan kunjungan kerja ke lokasi Praktik Belajar Lapangan (PBL) II mahasiswa di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Kunjungan ini merupakan bagian dari komitmen fakultas untuk menjamin bahwa setiap mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang autentik dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat di daerah tersebut. Komitmen Akademik di Tengah Masyarakat Kegiatan PBL II tahun ini melibatkan sekitar 260 mahasiswa yang tersebar di 36 posko di delapan kecamatan di Kabupaten Soppeng. Dalam kunjungannya, Prof. Sukri Palutturi tidak hanya meninjau sarana dan prasarana posko, tetapi juga berdialog langsung dengan mahasiswa dan tokoh masyarakat setempat. Dekan menekankan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban akademik, melainkan sebuah misi kemanusiaan dan profesionalisme. “FKM Unhas memiliki tanggung jawab moral untuk mencetak tenaga kesehatan masyarakat yang tidak hanya cerdas secara teoritis, tetapi juga peka terhadap dinamika sosial. Melalui kunjungan ini, kami ingin memastikan proses identifikasi masalah dan pemetaan aset masyarakat berjalan sesuai dengan standar kompetensi yang kita harapkan,” ujar Prof. Sukri di sela-sela kunjungannya. Fokus pada Pemetaan Aset dan Solusi Partisipatif Berbeda dengan praktik lapangan pada umumnya, PBL II FKM Unhas kali ini mengusung tema “Eksplorasi Aset dan Pemecahan Masalah”. Pendekatan ini mendorong mahasiswa untuk tidak hanya melihat kekurangan atau penyakit di suatu wilayah, tetapi juga menggali potensi lokal (aset) yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah kesehatan tersebut secara mandiri dan berkelanjutan. Selama 14 hari pelaksanaan (5-19 Januari 2026), mahasiswa melakukan berbagai kegiatan, mulai dari observasi lingkungan, wawancara mendalam, hingga pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD). Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis untuk merumuskan program intervensi yang tepat sasaran, seperti penanganan hipertensi dan pencegahan stunting yang menjadi fokus utama di beberapa desa di Soppeng. Sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Soppeng Kehadiran pimpinan FKM Unhas di lapangan juga mempertegas kuatnya hubungan kemitraan antara Unhas dengan Pemerintah Kabupaten Soppeng. Prof. Sukri menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bupati Soppeng beserta jajarannya, mulai dari tingkat camat hingga kepala desa dan lurah, yang telah menerima mahasiswa dengan tangan terbuka. Dukungan pemerintah daerah sangat krusial dalam keberhasilan program ini. Dengan adanya kolaborasi antara akademisi dan birokrasi, rekomendasi kebijakan kesehatan yang dihasilkan oleh mahasiswa diharapkan dapat diadopsi oleh pemerintah desa atau puskesmas setempat sebagai program kerja tahunan. PBL II FKM Unhas dan Kontribusi terhadap SDGs Pelaksanaan PBL II di Kabupaten Soppeng ini secara langsung mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya pada Tujuan ke-3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Melalui intervensi kesehatan yang dirancang mahasiswa, seperti edukasi gaya hidup sehat untuk mencegah penyakit tidak menular (hipertensi) dan pendampingan gizi keluarga, FKM Unhas berkontribusi dalam menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan. Selain itu, kegiatan ini juga selaras dengan Tujuan ke-4: Pendidikan Berkualitas, di mana mahasiswa mendapatkan akses pendidikan inklusif dan praktis yang mempersiapkan mereka menghadapi tantangan kesehatan global. Pendekatan berbasis komunitas dalam PBL II juga mencerminkan Tujuan ke-17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi lintas sektor antara universitas, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil demi menciptakan solusi kesehatan yang inklusif. Harapan Bagi Mahasiswa Dekan berpesan kepada seluruh mahasiswa agar menjaga integritas dan nama baik almamater selama berada di lapangan. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan (agent of change) yang membawa inovasi tanpa mengesampingkan kearifan lokal. “Gunakan kesempatan ini untuk belajar dari ‘universitas kehidupan’. Dengarkan suara masyarakat, pahami kendala mereka, dan tawarkan solusi yang manusiawi. Kami ingin lulusan FKM Unhas menjadi pemimpin yang memiliki empati tinggi terhadap derajat kesehatan masyarakat,” tambah Prof. Sukri. Penutup: Menuju Masa Depan Kesehatan yang Lebih Baik Kunjungan Dekan FKM Unhas ke posko-posko di Soppeng ini menjadi simbol dukungan penuh institusi terhadap pengembangan kompetensi mahasiswa. Dengan berakhirnya PBL II nantinya, diharapkan muncul data-data kesehatan yang akurat serta rekomendasi strategis yang dapat membantu Kabupaten Soppeng dalam mewujudkan daerah yang lebih sehat dan tangguh secara mandiri. FKM Unhas terus berkomitmen untuk menjadi pusat keunggulan dalam pendidikan kesehatan masyarakat, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di kancah internasional, dengan tetap berpijak pada pengabdian nyata di bumi pertiwi.
FKM Unhas Turunkan 260 Mahasiswa PBL II di Kabupaten Soppeng, Dorong Pendekatan Aset dan Solusi Kesehatan

MAKASSAR — Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan pembelajaran berbasis masyarakat dengan menurunkan 260 mahasiswa untuk melaksanakan Praktik Belajar Lapangan (PBL) II di Kabupaten Soppeng. Kegiatan ini berlangsung selama 14 hari, mulai 5 hingga 19 Januari 2026, dan tersebar di sejumlah desa dan kelurahan. PBL II mengusung pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), di mana mahasiswa tidak hanya memetakan permasalahan kesehatan, tetapi juga mengidentifikasi berbagai aset dan potensi lokal yang dimiliki masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan solusi kesehatan yang kontekstual, berkelanjutan, dan berbasis partisipasi masyarakat. Selama pelaksanaan PBL II, mahasiswa akan melakukan pengumpulan data, observasi lapangan, diskusi bersama masyarakat, serta berkolaborasi dengan pemerintah desa, puskesmas, dan pemangku kepentingan setempat. Fokus utama kegiatan meliputi isu-isu kesehatan masyarakat seperti kesehatan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), gizi, kesehatan ibu dan anak, serta faktor sosial yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Pihak FKM Unhas menegaskan bahwa PBL II bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan sarana pembentukan kompetensi mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan masyarakat yang mampu berpikir kritis, bekerja secara kolaboratif, serta menghasilkan rekomendasi program kesehatan yang aplikatif. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat juga diharapkan dapat memberikan manfaat nyata melalui edukasi dan rekomendasi solusi yang sesuai dengan kondisi lokal. Pemerintah Kabupaten Soppeng menyambut baik pelaksanaan PBL II ini dan berharap sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dapat terus terjalin dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan ini, FKM Unhas terus berupaya menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat, sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Lima Tahun Eksistensi ICONS FKM Unhas: Mengukuhkan Peran Riset Gizi Berbasis Bukti dalam Transformasi Kebijakan Nasional.
Setengah Dekade ICONS FKM Unhas: Melintasi Batas Riset, Menyatukan Visi Gizi Nasional di Era Transformasi MAKASSAR – Sebuah perjalanan intelektual yang dimulai dari keresahan akademik kini telah genap berusia lima tahun. Pada penghujung tahun, tepatnya Senin, 30 Desember 2025, Indonesian Centre for Nutrition Studies (ICONS) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) menyelenggarakan sebuah momentum refleksi strategis di Hotel Swiss-Belinn Panakkukang, Makassar. Pertemuan ini bukan sekadar perayaan angka, melainkan sebuah pernyataan sikap tentang posisi ICONS dalam konstelasi kebijakan gizi nasional. Selama lima tahun terakhir, ICONS telah tumbuh melampaui fungsinya sebagai lembaga kajian. Ia telah menjadi “titik temu” di mana teori-teori gizi yang rumit diubah menjadi solusi praktis bagi pemerintah dan masyarakat. Perayaan Dies Natalis ke-5 ini pun dirancang sebagai ruang jeda—sebuah kesempatan untuk menarik napas, mengevaluasi jejak yang telah tertinggal, dan mempertajam kompas untuk perjalanan lima tahun ke depan. Menatap Cakrawala Baru: Senyum optimisme terpancar dari wajah jajaran peneliti dan civitas ICONS FKM Unhas dalam sesi foto bersama pada peringatan hari jadi ke-5 mereka. Lebih dari sekadar seremoni, momentum di Makassar ini menjadi simbol penguatan komitmen ICONS untuk terus menghadirkan kajian gizi berbasis bukti demi kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Menelusuri Akar Inovasi: Jembatan Antara Kampus dan Kebijakan Kilas balik lima tahun lalu membawa kita pada alasan fundamental berdirinya ICONS. Indonesia, dengan segala dinamika demografisnya, terus berhadapan dengan masalah gizi yang persisten—mulai dari angka stunting yang masih menjadi pekerjaan rumah besar hingga beban ganda malnutrisi. Prof. Dr. Abdul Razak Thaha, MSc, sosok visioner yang memimpin ICONS sejak awal, dalam pidatonya menguraikan bahwa ICONS lahir untuk meruntuhkan tembok pemisah antara riset murni dan kebijakan publik. Beliau menekankan bahwa riset tanpa implementasi kebijakan adalah kesia-siaan akademik, sementara kebijakan tanpa landasan riset adalah langkah buta. ICONS mengambil peran berisiko namun vital sebagai penjembatan (bridge builder). Di bawah arahannya, ICONS memastikan bahwa setiap rekomendasi yang dihasilkan merupakan produk dari metodologi riset yang ketat namun tetap relevan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Inilah yang menjadikan ICONS sebagai salah satu simpul terkuat dalam ekosistem riset kesehatan di Universitas Hasanuddin. Milestone 5 Tahun: Sebuah Refleksi Kolektif Semangat Dies Natalis kali ini bertumpu pada tema refleksi. Prof. dr. Veni Hadju, MSc, PhD, selaku Ketua Panitia, menggambarkan lima tahun ini sebagai fase konsolidasi. Menurutnya, ICONS tidak ingin terjebak dalam romantisme keberhasilan masa lalu. Refleksi yang dilakukan adalah refleksi kritis: menanyakan kembali apakah kontribusi lembaga ini sudah cukup signifikan bagi penurunan angka masalah gizi di Indonesia Timur khususnya, dan nasional umumnya. Dukungan penuh dari birokrasi kampus juga tampak jelas. Mewakili Dekan FKM Unhas, Prof. Dr. Atjo Wahyu, SKM, M.Kes (Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Sumber Daya, dan Alumni), memberikan apresiasi tinggi terhadap fleksibilitas dan ketangguhan ICONS. Dalam pandangan fakultas, ICONS telah menjadi model ideal bagaimana sebuah pusat studi harus bekerja—tidak hanya mengandalkan dana internal, tetapi aktif menjemput kolaborasi internasional untuk memperkuat kapasitas riset nasional. Sebagai bentuk dokumentasi intelektual, penyerahan buku perjalanan ICONS menjadi simbolisasi bahwa setiap tantangan, perdebatan ilmiah, dan keberhasilan selama 60 bulan terakhir telah tercatat dengan rapi sebagai warisan bagi generasi peneliti berikutnya. Kekuatan Kolaborasi: Menghubungkan Makassar dengan Dunia Keunikan ICONS terletak pada kemampuannya merajut jejaring yang inklusif. Dalam sesi diskusi “Jejak Langkah ICONS”, terungkap betapa besarnya kepercayaan lembaga internasional terhadap pusat studi ini. Testimoni dari para mitra bukan sekadar basa-basi seremonial, melainkan pengakuan atas integritas data yang diproduksi oleh ICONS. Hadirnya suara dari UNICEF melalui Nike Frans, serta Vitamin Angels Indonesia melalui Otte Santika, memperlihatkan bahwa ICONS adalah mitra strategis dalam skala global. Kolaborasi ini mencakup berbagai spektrum, mulai dari riset implementasi Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) hingga intervensi gizi di wilayah-wilayah terpencil di Maluku dan Sulawesi. Komentar dari Prof. dr. Endang L. Achadi (pakar gizi UI) dan Prof. Dr. Sri Sumarmi (UNAIR) mempertegas bahwa ICONS telah menjadi katalisator bagi persatuan akademisi gizi di Indonesia. Mereka melihat ICONS sebagai institusi yang mampu menerjemahkan kebutuhan teknis Dinas Kesehatan—seperti yang disampaikan oleh Dr. Anang S. Otoluwa dari Gorontalo—menjadi desain riset yang aplikatif. Estafet Kepemimpinan: Menuju Era Baru Riset Gizi Momentum yang paling emosional sekaligus strategis adalah penyerahan tongkat estafet kepemimpinan. Dari Prof. Abdul Razak Thaha kepada Prof. Veni Hadju. Pergantian ini adalah sinyal transisi dari fase “pembentukan fondasi” menuju fase “akselerasi inovasi”. Di bawah nakhoda baru, ICONS diharapkan mampu merespons tantangan gizi di era digital, di mana data besar (big data) dan teknologi informasi mulai memegang peranan kunci dalam surveilans gizi. Diskusi strategis yang melibatkan para mahaguru seperti Prof. Abu Bakar Tawali, Prof. Meta Mahendratta, hingga Prof. Ida Leida M., memberikan arahan bahwa ICONS harus mulai melirik isu ketahanan pangan yang terancam oleh perubahan iklim, serta bagaimana dampaknya terhadap status gizi balita di masa depan. ICONS dan Komitmen Terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) Seluruh aktivitas ICONS selama setengah dekade ini tidak pernah lepas dari payung besar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). ICONS memahami bahwa masalah gizi adalah masalah multisektoral yang menjadi inti dari martabat manusia. Penutup: Menatap Cakrawala Baru Meskipun acara ditutup dengan suasana hangat dan apresiasi bagi para purnabakti, narasi besar yang tertinggal adalah: ICONS baru saja memulai babak keduanya. Lima tahun pertama adalah tentang pembuktian eksistensi; lima tahun ke depan adalah tentang kepemimpinan pemikiran (thought leadership) di tingkat Asia Pasifik. Tantangan gizi Indonesia akan terus berevolusi, namun dengan fondasi riset yang kuat, jejaring yang luas, dan kepemimpinan yang berintegritas, ICONS FKM Unhas siap menjadi garda terdepan dalam memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan hak atas gizi yang terbaik. ICONS tidak hanya mencatat sejarah, mereka sedang membentuk masa depan gizi bangsa.
Dedikasi Mahasiswa FKM Unhas dalam KKN Tematik Tanggap Bencana di Aceh Tamiang

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tanggap Bencana di Kabupaten Aceh Tamiang pada 13–26 Desember 2025 menjadi panggung nyata bagi mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin untuk terjun langsung dalam misi kemanusiaan. Fitria Ramadani, salah satu mahasiswa yang terlibat, menjadi representasi kontribusi akademisi muda dalam mendukung proses pemulihan masyarakat setelah tertimpa bencana alam. Kolaborasi Strategis dan Aktivitas Lapangan. Keberhasilan misi ini tidak lepas dari sinergi antara mahasiswa dengan berbagai pihak di lapangan. Fitria terlibat aktif dalam koordinasi intensif dengan perangkat desa setempat serta berbagai organisasi relawan, di antaranya: Selama masa penugasan, fokus utama tim adalah menangani aspek vital kesehatan dan logistik yang meliputi pendataan kebutuhan dasar warga serta implementasi program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH). Langkah ini krusial untuk memastikan akses air bersih dan sanitasi tetap terjaga di tengah kondisi pascabencana yang dinamis. Pemulihan Holistik: Dari Fisik hingga Psikososial. Tim KKN Tematik ini memahami bahwa pemulihan tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga mental. Oleh karena itu, dilakukan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) yang menyasar anak-anak dan keluarga terdampak. Melalui metode edukasi sederhana dan aktivitas bermain, relawan berupaya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman guna meminimalisir dampak trauma psikologis pada warga. Relevansi Ilmu dan Kontribusi SDGs Bagi Fitria, pengalaman ini merupakan laboratorium hidup untuk menerapkan ilmu kesehatan masyarakat secara humanis. Peran tenaga kesehatan masyarakat dinilai sangat krusial dalam situasi darurat, mulai dari pencegahan penyakit hingga pemulihan psikososial. Selain itu, kegiatan ini secara langsung mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu: Kesuksesan program ini juga didukung penuh oleh pihak dekanat, khususnya Dr. Wahiduddin, SKM, M.Kes (Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKM Unhas), yang mengawal proses dari keberangkatan hingga kepulangan tim.
Membangun Martabat Lansia SMART di Era Penuaan Penduduk

Indonesia saat ini telah resmi memasuki fase aging population, sebuah kondisi demografis di mana proporsi penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat secara signifikan. Menanggapi fenomena ini, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas), Prof. Sukri Palutturi, menekankan perlunya pergeseran paradigma dalam melihat penuaanDalam sebuah diskusi di Fajar TV Makassar pada 22 Desember 2025, beliau menegaskan bahwa tantangan utama bangsa bukan hanya memperpanjang angka harapan hidup, melainkan memastikan masa tua dijalani dengan sehat, mandiri, dan bermartabat. Konsep Lansia SMART dan Pendekatan Healthy Ageing Inti dari gagasan Prof. Sukri adalah penerapan konsep Lansia SMART yang didukung oleh fondasi healthy ageing. Healthy ageing atau penuaan sehat adalah proses pengembangan dan pemeliharaan kemampuan fungsional yang memungkinkan kesejahteraan di usia tua. Lansia tidak lagi dipandang sebagai beban atau subjek pasif yang bergantung sepenuhnya pada orang lain, melainkan sebagai subjek pembangunan yang: Sehat: Terjaga kondisi fisik dan mentalnya. Mandiri: Mampu melakukan aktivitas harian tanpa ketergantungan total. Aktif & Adaptif: Tetap terlibat dalam kegiatan sosial serta mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Ekosistem Layanan Berbasis Komunitas. Untuk mewujudkan visi tersebut, diperlukan ekosistem pendukung yang kuat melalui layanan kesehatan primer dan berbasis komunitas. Prof. Sukri menyoroti peran penting Puskesmas, kader kesehatan, dan lingkungan keluarga sebagai garda terdepan dalam pendampingan lansia. Sinergi antara pemerintah melalui BKKBN dan institusi pendidikan sangat krusial agar gagasan akademis dapat bertransformasi menjadi kebijakan nyata yang berbasis bukti dan dapat direplikasi secara luas. Harapan Masa Depan. Kesiapan Indonesia menghadapi penuaan penduduk sangat bergantung pada seberapa cepat pengetahuan dan kebijakan dapat diimplementasikan di lapangan. Melalui kolaborasi lintas sektor, diharapkan peningkatan usia harapan hidup berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hidup para lansia di Indonesia.
Mahasiswa Unhas Ikuti Program Pertukaran Pelajar di Okayama University, Jepang

Sebanyak 12 mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) mengikuti Program Student Exchange for Undergraduate di Okayama University, Jepang, yang berlangsung dari tanggal 13 hingga 19 Desember. Program ini diselenggarakan sebagai upaya penguatan pengalaman akademik internasional dan pembelajaran lintas budaya bagi mahasiswa Unhas. Para peserta tiba di Jepang pada musim dingin, disambut oleh langit Jepang dan suhu yang dingin, namun mereka tetap antusias untuk menimba ilmu, budaya, dan perspektif global yang lebih luas. Mahasiswa yang terlibat berasal dari berbagai disiplin ilmu, termasuk Fakultas Kedokteran Gigi, Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan. Khusus dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), program ini diwakili oleh Najmul Janna dan Nur Aura Syafrawa Rifai. Kegiatan ini didampingi oleh Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat, Dr. Hasnawati Amqam, SKM., M.Sc., yang bertindak sebagai dosen pendamping untuk memastikan setiap kegiatan berkontribusi pada capaian pembelajaran yang nyata. Pengalaman Akademik dan Budaya Perjalanan akademik mahasiswa dimulai setibanya mereka di Okayama, di mana mereka langsung mengikuti orientasi akademik, pengenalan fasilitas, dan berdialog dengan sivitas akademika setempat. Mereka memiliki kesempatan untuk menyelami etos riset, cara belajar, dan budaya akademik Jepang yang dikenal tertata, disiplin, dan kolaboratif. Proses pembelajaran tidak terbatas pada ruang kelas dan laboratorium. Kota Okayama dan Osaka menjadi “kelas terbuka” tempat mahasiswa Unhas mengenal lebih dekat denyut kehidupan masyarakat Jepang—dari ruang publik, situs budaya, hingga praktik keseharian yang mencerminkan nilai ketepatan waktu, kebersihan, dan saling menghormati. Di sinilah kemampuan komunikasi lintas budaya para peserta diuji dan diperkaya. Dampak dan Kontribusi Global Program pertukaran ini menghasilkan bekal yang lebih mendalam bagi para peserta, tidak hanya catatan akademik, tetapi juga keberanian untuk beradaptasi, kepekaan lintas budaya, serta perspektif global yang semakin matang. Kegiatan ini sekaligus menegaskan kontribusi Unhas terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas) dan Tujuan 17 (Kemitraan Global). Selain itu, program ini mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, yaitu dalam hal pengalaman belajar di luar kampus dan kolaborasi dengan mitra kelas dunia. Ke depan, Unhas berharap kemitraan dengan Okayama University akan terus berkembang, membuka lebih banyak peluang mobilitas akademik, dan menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul di lingkungan kampus, tetapi juga siap bersaing di panggung global.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas Tetapkan 38 Calon Wisudawan Periode Desember 2025

Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) telah menyelenggarakan acara yudisium penting sebagai bagian dari persiapan Wisuda Periode Desember 2025. Acara ini berlangsung pada hari Selasa, 16 Desember 2025, bertempat di Ruang Prof. Nur Nasry Noor (K-225), Lantai 2 Gedung FKM Unhas, dan dihadiri oleh para calon wisudawan dari berbagai program studi. Yudisium ini merupakan tahapan akademik yang sangat krusial, menandakan selesainya seluruh proses pendidikan mahasiswa sebelum mereka resmi menyandang gelar akademik. Melalui kegiatan ini, pimpinan fakultas secara resmi menetapkan kelulusan bagi mahasiswa yang telah memenuhi seluruh persyaratan akademik, administratif, dan etika yang ditetapkan universitas. Pesan dan Harapan untuk Lulusan. Dalam sambutannya, pimpinan FKM Unhas menyampaikan apresiasi yang tinggi atas dedikasi dan kerja keras para mahasiswa selama masa studi mereka. Para calon alumni diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu kesehatan masyarakat secara profesional dan beretika. Selain itu, mereka harus berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat, terutama di tengah tantangan kesehatan yang semakin kompleks di tingkat global dan nasional. Puncak acara ini ditandai dengan sambutan dari Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D, yang menekankan pentingnya menjaga integritas, profesionalisme, dan komitmen pengabdian dalam menjalankan peran sebagai tenaga kesehatan masyarakat. Rincian Kelulusan dan Prestasi. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKM Unhas, Dr. Wahiduddin, S.KM., M.Kes, melaporkan bahwa pada periode ini, FKM Unhas meluluskan total 38 orang. Rincian lulusan per jenjang. Program Sarjana: Menyumbang 20 lulusan (53 persen dari total). Dari jumlah tersebut, 2 orang (10 persen) meraih predikat cumlaude, sementara 18 orang (90 persen) lulus dengan predikat sangat memuaskan. Program Magister: Meluluskan 12 orang (31 persen). Sebanyak 6 orang (50 persen) meraih cumlaude dan 6 orang (50 persen) dengan predikat sangat memuaskan. Program Doktor: Terdapat 6 lulusan (16 persen). Di antaranya, 2 orang (33,3 persen) meraih cumlaude, dan 4 orang (66,7 persen) lulus dengan predikat sangat memuaskan. Penghargaan Lulusan Terbaik. Berdasarkan Keputusan Dekan FKM Unhas, tiga mahasiswa ditetapkan sebagai lulusan terbaik tingkat fakultas untuk periode ini. Muh. Fauzan Idha (Sarjana – Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja): Lulus cumlaude dengan IPK 3,93 dan masa studi 3 tahun 3 bulan. Nurjannah Husaeni (Magister – Keselamatan dan Kesehatan Kerja): Meraih IPK sempurna 4,00 dan predikat cumlaude dalam masa studi 1 tahun 9 bulan. Sherly Wulandari (Doktor – Ilmu Kesehatan Masyarakat): Menyandang predikat cumlaude dengan IPK 3,98, menyelesaikan studi dalam 2 tahun 5 bulan. Pelaksanaan yudisium ini sekaligus menegaskan komitmen FKM Unhas sebagai institusi pendidikan tinggi yang mendukung pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya melalui kontribusi lulusan dalam memperkuat sistem kesehatan dan pemerataan layanan di masyarakat.
“Waste to Worth”: Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas Gelar Expo dan Workshop Pengolahan Sampah Inovatif

Pada hari Senin, 08 Desember 2025, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi tuan rumah bagi kegiatan edukatif dan inovatif bertajuk “Waste to Worth: Expo & Workshop Pengolahan Sampah”. Acara ini diselenggarakan sebagai bagian integral dari upaya penguatan pembelajaran akademik sekaligus perwujudan kontribusi nyata mahasiswa terhadap isu-isu lingkungan yang mendesak. Kolaborasi Akademik dan Praktis. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara mahasiswa angkatan 2024 yang mengambil mata kuliah Teknologi Kesehatan Lingkungan dengan program kerja dari Forum Komunikasi Kesehatan Lingkungan (FORKOM KL) FKM Unhas. Kolaborasi ini secara khusus didesain untuk menjadi wadah kreatif, memungkinkan mahasiswa menampilkan berbagai inovasi, media pembelajaran, dan teknologi sederhana yang aplikatif dalam konteks pengelolaan sampah di berbagai level masyarakat. Lebih dari sekadar pemenuhan akademik, “Waste to Worth” adalah upaya kolektif untuk membangun kesadaran dan kapasitas generasi muda dalam mendukung pengurangan timbulan sampah, serta memperkuat perilaku yang mengarah pada pengelolaan sampah berkelanjutan. Inovasi Teknologi Pengolahan Sampah. Sesi Expo menampilkan keragaman prototype, alat peraga, dan model teknologi pengolahan sampah. Karya-karya yang dipamerkan oleh mahasiswa ini mencakup penanganan sampah organik maupun anorganik, yang semuanya merupakan hasil dari pembelajaran mendalam dan eksplorasi mereka terhadap teknologi yang ramah lingkungan. Suasana pameran berlangsung sangat interaktif, di mana mahasiswa dengan antusias mempresentasikan hasil karya mereka, sekaligus menerima berbagai masukan yang bersifat konstruktif. Masukan ini sangat berharga untuk memperkaya dan mengembangkan lebih lanjut teknologi pengolahan sampah di masa mendatang. Pameran ini diharapkan dapat berfungsi sebagai wadah penting untuk pertukaran gagasan, inspirasi, dan inovasi, yang pada akhirnya dapat mendorong penerapan teknologi sederhana oleh masyarakat luas. Workshop Peningkatan Keterampilan Aplikatif. Selain pameran inovasi, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan Workshop Pengolahan Sampah yang berorientasi pada pemberian pengalaman belajar yang praktis bagi seluruh peserta. Workshop ini menghadirkan dua narasumber berkompeten: Dr. Wahiduddin, SKM., M.Kes., yang menjabat sebagai Wakil Dekan I FKM Unhas, dan Muh. Fajaruddin Natsir, SKM., M.Kes., selaku dosen pengampu mata kuliah Teknologi Kesehatan Lingkungan. Kedua narasumber tersebut memberikan pemaparan yang mendalam, meliputi konsep dasar, tantangan yang dihadapi, hingga demonstrasi penerapan teknologi pengolahan sampah yang efektif dan efisien. Sesi tersebut dilanjutkan dengan diskusi teknis dan sesi interaktif, yang berhasil memperkaya pemahaman para peserta secara substansial. Melalui pelatihan ini, mahasiswa dan peserta lainnya diharapkan dapat memperoleh keterampilan aplikatif yang dapat mereka terapkan secara langsung di lingkungan tempat tinggal, organisasi, atau komunitas masing-masing, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya pengelolaan sampah yang lebih baik.
Berita Kegiatan: Partisipasi Mahasiswa S2 IKM dalam JITMM 2025 di Bangkok

Sebanyak 18 mahasiswa dari Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) ikut serta dalam konferensi internasional Joint International Tropical Medicine Meeting (JITMM) 2025. Acara ini berlangsung selama tiga hari, yaitu dari 2 hingga 4 Desember 2025, di Eastin Grand Hotel Phayathai, Bangkok, Thailand. Rombongan mahasiswa didampingi oleh Ketua Program Studi Magister IKM, Prof. Dr. Ridwan A, SKM., M.Kes., M.Sc.PH.. Konferensi ini menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, dan praktisi kesehatan masyarakat dari berbagai negara untuk berbagi hasil penelitian, inovasi, dan strategi global terkait penanganan penyakit tropis. Highlights Kegiatan Harian Manfaaat dan Harapan Melalui partisipasi di JITMM 2025, mahasiswa IKM S2 memperoleh peluang untuk memperluas wawasan ilmiah mereka, memperkuat jejaring kolaboratif internasional, dan memahami ide-ide penelitian yang berkontribusi pada pengembangan ilmu kesehatan masyarakat. Pengalaman ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas akademik, penelitian, dan implementasi kesehatan masyarakat di Indonesia.