5°07'40.9"S 119°29'11.0"E

fkm@unhas.ac.id

Mahasiswa Unhas Ikuti Program Pertukaran Pelajar di Okayama University, Jepang

Mahasiswa Unhas Ikuti Program Pertukaran Pelajar di Okayama University, Jepang

Sebanyak 12 mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) mengikuti Program Student Exchange for Undergraduate di Okayama University, Jepang, yang berlangsung dari tanggal 13 hingga 19 Desember. Program ini diselenggarakan sebagai upaya penguatan pengalaman akademik internasional dan pembelajaran lintas budaya bagi mahasiswa Unhas. Para peserta tiba di Jepang pada musim dingin, disambut oleh langit Jepang dan suhu yang dingin, namun mereka tetap antusias untuk menimba ilmu, budaya, dan perspektif global yang lebih luas. Mahasiswa yang terlibat berasal dari berbagai disiplin ilmu, termasuk Fakultas Kedokteran Gigi, Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan. Khusus dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), program ini diwakili oleh Najmul Janna dan Nur Aura Syafrawa Rifai. Kegiatan ini didampingi oleh Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat, Dr. Hasnawati Amqam, SKM., M.Sc., yang bertindak sebagai dosen pendamping untuk memastikan setiap kegiatan berkontribusi pada capaian pembelajaran yang nyata. Pengalaman Akademik dan Budaya Perjalanan akademik mahasiswa dimulai setibanya mereka di Okayama, di mana mereka langsung mengikuti orientasi akademik, pengenalan fasilitas, dan berdialog dengan sivitas akademika setempat. Mereka memiliki kesempatan untuk menyelami etos riset, cara belajar, dan budaya akademik Jepang yang dikenal tertata, disiplin, dan kolaboratif. Proses pembelajaran tidak terbatas pada ruang kelas dan laboratorium. Kota Okayama dan Osaka menjadi “kelas terbuka” tempat mahasiswa Unhas mengenal lebih dekat denyut kehidupan masyarakat Jepang—dari ruang publik, situs budaya, hingga praktik keseharian yang mencerminkan nilai ketepatan waktu, kebersihan, dan saling menghormati. Di sinilah kemampuan komunikasi lintas budaya para peserta diuji dan diperkaya. Dampak dan Kontribusi Global Program pertukaran ini menghasilkan bekal yang lebih mendalam bagi para peserta, tidak hanya catatan akademik, tetapi juga keberanian untuk beradaptasi, kepekaan lintas budaya, serta perspektif global yang semakin matang. Kegiatan ini sekaligus menegaskan kontribusi Unhas terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas) dan Tujuan 17 (Kemitraan Global). Selain itu, program ini mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, yaitu dalam hal pengalaman belajar di luar kampus dan kolaborasi dengan mitra kelas dunia. Ke depan, Unhas berharap kemitraan dengan Okayama University akan terus berkembang, membuka lebih banyak peluang mobilitas akademik, dan menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul di lingkungan kampus, tetapi juga siap bersaing di panggung global.

Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas Tetapkan 38 Calon Wisudawan Periode Desember 2025

Faculty of Public Health Unhas Confirms 38 Prospective Graduates for December 2025 Period

Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) telah menyelenggarakan acara yudisium penting sebagai bagian dari persiapan Wisuda Periode Desember 2025. Acara ini berlangsung pada hari Selasa, 16 Desember 2025, bertempat di Ruang Prof. Nur Nasry Noor (K-225), Lantai 2 Gedung FKM Unhas, dan dihadiri oleh para calon wisudawan dari berbagai program studi. Yudisium ini merupakan tahapan akademik yang sangat krusial, menandakan selesainya seluruh proses pendidikan mahasiswa sebelum mereka resmi menyandang gelar akademik. Melalui kegiatan ini, pimpinan fakultas secara resmi menetapkan kelulusan bagi mahasiswa yang telah memenuhi seluruh persyaratan akademik, administratif, dan etika yang ditetapkan universitas. Pesan dan Harapan untuk Lulusan. Dalam sambutannya, pimpinan FKM Unhas menyampaikan apresiasi yang tinggi atas dedikasi dan kerja keras para mahasiswa selama masa studi mereka. Para calon alumni diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu kesehatan masyarakat secara profesional dan beretika. Selain itu, mereka harus berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat, terutama di tengah tantangan kesehatan yang semakin kompleks di tingkat global dan nasional. Puncak acara ini ditandai dengan sambutan dari Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D, yang menekankan pentingnya menjaga integritas, profesionalisme, dan komitmen pengabdian dalam menjalankan peran sebagai tenaga kesehatan masyarakat. Rincian Kelulusan dan Prestasi. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKM Unhas, Dr. Wahiduddin, S.KM., M.Kes, melaporkan bahwa pada periode ini, FKM Unhas meluluskan total 38 orang. Rincian lulusan per jenjang. Program Sarjana: Menyumbang 20 lulusan (53 persen dari total). Dari jumlah tersebut, 2 orang (10 persen) meraih predikat cumlaude, sementara 18 orang (90 persen) lulus dengan predikat sangat memuaskan. Program Magister: Meluluskan 12 orang (31 persen). Sebanyak 6 orang (50 persen) meraih cumlaude dan 6 orang (50 persen) dengan predikat sangat memuaskan. Program Doktor: Terdapat 6 lulusan (16 persen). Di antaranya, 2 orang (33,3 persen) meraih cumlaude, dan 4 orang (66,7 persen) lulus dengan predikat sangat memuaskan. Penghargaan Lulusan Terbaik. Berdasarkan Keputusan Dekan FKM Unhas, tiga mahasiswa ditetapkan sebagai lulusan terbaik tingkat fakultas untuk periode ini. Muh. Fauzan Idha (Sarjana – Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja): Lulus cumlaude dengan IPK 3,93 dan masa studi 3 tahun 3 bulan. Nurjannah Husaeni (Magister – Keselamatan dan Kesehatan Kerja): Meraih IPK sempurna 4,00 dan predikat cumlaude dalam masa studi 1 tahun 9 bulan. Sherly Wulandari (Doktor – Ilmu Kesehatan Masyarakat): Menyandang predikat cumlaude dengan IPK 3,98, menyelesaikan studi dalam 2 tahun 5 bulan. Pelaksanaan yudisium ini sekaligus menegaskan komitmen FKM Unhas sebagai institusi pendidikan tinggi yang mendukung pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya melalui kontribusi lulusan dalam memperkuat sistem kesehatan dan pemerataan layanan di masyarakat.

“Waste to Worth”: Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas Gelar Expo dan Workshop Pengolahan Sampah Inovatif

"Waste to Worth": FKM Unhas Holds Innovative Waste Management Expo and Workshop

Pada hari Senin, 08 Desember 2025, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi tuan rumah bagi kegiatan edukatif dan inovatif bertajuk “Waste to Worth: Expo & Workshop Pengolahan Sampah”. Acara ini diselenggarakan sebagai bagian integral dari upaya penguatan pembelajaran akademik sekaligus perwujudan kontribusi nyata mahasiswa terhadap isu-isu lingkungan yang mendesak. Kolaborasi Akademik dan Praktis. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara mahasiswa angkatan 2024 yang mengambil mata kuliah Teknologi Kesehatan Lingkungan dengan program kerja dari Forum Komunikasi Kesehatan Lingkungan (FORKOM KL) FKM Unhas. Kolaborasi ini secara khusus didesain untuk menjadi wadah kreatif, memungkinkan mahasiswa menampilkan berbagai inovasi, media pembelajaran, dan teknologi sederhana yang aplikatif dalam konteks pengelolaan sampah di berbagai level masyarakat. Lebih dari sekadar pemenuhan akademik, “Waste to Worth” adalah upaya kolektif untuk membangun kesadaran dan kapasitas generasi muda dalam mendukung pengurangan timbulan sampah, serta memperkuat perilaku yang mengarah pada pengelolaan sampah berkelanjutan. Inovasi Teknologi Pengolahan Sampah. Sesi Expo menampilkan keragaman prototype, alat peraga, dan model teknologi pengolahan sampah. Karya-karya yang dipamerkan oleh mahasiswa ini mencakup penanganan sampah organik maupun anorganik, yang semuanya merupakan hasil dari pembelajaran mendalam dan eksplorasi mereka terhadap teknologi yang ramah lingkungan. Suasana pameran berlangsung sangat interaktif, di mana mahasiswa dengan antusias mempresentasikan hasil karya mereka, sekaligus menerima berbagai masukan yang bersifat konstruktif. Masukan ini sangat berharga untuk memperkaya dan mengembangkan lebih lanjut teknologi pengolahan sampah di masa mendatang. Pameran ini diharapkan dapat berfungsi sebagai wadah penting untuk pertukaran gagasan, inspirasi, dan inovasi, yang pada akhirnya dapat mendorong penerapan teknologi sederhana oleh masyarakat luas. Workshop Peningkatan Keterampilan Aplikatif. Selain pameran inovasi, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan Workshop Pengolahan Sampah yang berorientasi pada pemberian pengalaman belajar yang praktis bagi seluruh peserta. Workshop ini menghadirkan dua narasumber berkompeten: Dr. Wahiduddin, SKM., M.Kes., yang menjabat sebagai Wakil Dekan I FKM Unhas, dan Muh. Fajaruddin Natsir, SKM., M.Kes., selaku dosen pengampu mata kuliah Teknologi Kesehatan Lingkungan. Kedua narasumber tersebut memberikan pemaparan yang mendalam, meliputi konsep dasar, tantangan yang dihadapi, hingga demonstrasi penerapan teknologi pengolahan sampah yang efektif dan efisien. Sesi tersebut dilanjutkan dengan diskusi teknis dan sesi interaktif, yang berhasil memperkaya pemahaman para peserta secara substansial. Melalui pelatihan ini, mahasiswa dan peserta lainnya diharapkan dapat memperoleh keterampilan aplikatif yang dapat mereka terapkan secara langsung di lingkungan tempat tinggal, organisasi, atau komunitas masing-masing, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya pengelolaan sampah yang lebih baik.

Berita Kegiatan: Partisipasi Mahasiswa S2 IKM dalam JITMM 2025 di Bangkok

Activity News: Master's Public Health Students Participate in JITMM 2025 in Bangkok

Sebanyak 18 mahasiswa dari Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) ikut serta dalam konferensi internasional Joint International Tropical Medicine Meeting (JITMM) 2025. Acara ini berlangsung selama tiga hari, yaitu dari 2 hingga 4 Desember 2025, di Eastin Grand Hotel Phayathai, Bangkok, Thailand. Rombongan mahasiswa didampingi oleh Ketua Program Studi Magister IKM, Prof. Dr. Ridwan A, SKM., M.Kes., M.Sc.PH.. Konferensi ini menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, dan praktisi kesehatan masyarakat dari berbagai negara untuk berbagi hasil penelitian, inovasi, dan strategi global terkait penanganan penyakit tropis. Highlights Kegiatan Harian Manfaaat dan Harapan Melalui partisipasi di JITMM 2025, mahasiswa IKM S2 memperoleh peluang untuk memperluas wawasan ilmiah mereka, memperkuat jejaring kolaboratif internasional, dan memahami ide-ide penelitian yang berkontribusi pada pengembangan ilmu kesehatan masyarakat. Pengalaman ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas akademik, penelitian, dan implementasi kesehatan masyarakat di Indonesia.

Menggagas Solusi Kota Sehat Global: Dekan FKM Unhas Hadiri Forum WHO di Malaysia, Identifikasi ‘Pergantian Pemimpin’ sebagai Tantangan Kunci Implementasi Berkelanjutan

Makassar – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) terus memperluas kontribusi akademiknya ke level internasional, khususnya dalam isu-isu kesehatan masyarakat dan lingkungan perkotaan. Prof. Sukri Palluturi, Dekan FKM Unhas, diundang secara khusus untuk berpartisipasi dan memberikan pemaparan krusial dalam sebuah forum bergengsi: Forum WHO Perwakilan Malaysia, Brunei, dan Singapura Rumpun Negara di Western Pacific Region Organization (WPRO). Forum yang diselenggarakan pada 25-26 November di Royale Chulan Penang George Town, Malaysia, ini menjadi ajang pertemuan penting bagi para pengambil kebijakan, akademisi, dan praktisi kesehatan dari kawasan Asia Pasifik. Kehadiran Prof. Sukri Palluturi menjadi penegasan atas pengakuan internasional terhadap kepakaran FKM Unhas dalam kajian kesehatan lingkungan dan pembangunan kota berkelanjutan. Forum ini secara spesifik membahas penguatan pengaturan tatanan sehat di bawah inisiatif AFCC (Alliance for Healthy Cities) di Malaysia, dihadiri oleh berbagai Wali Kota Asia Pasifik yang berkomitmen pada visi Healthy Cities. Pergantian Pemimpin: Tantangan Wujudkan Kota Sehat Dalam pemaparannya yang mendalam, Prof. Sukri Palluturi menyoroti tantangan paling krusial yang secara struktural menghambat upaya berkelanjutan dalam mewujudkan Kota Sehat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurut alumni Griffith University Australia ini, isu yang paling merusak kesinambungan program adalah: “Tantangan paling krusial dalam penyelenggaraan kota sehat adalah pergantian pimpinan daerah, seperti bupati dan walikota, yang juga diikuti dengan pergantian para pimpinan OPD (Organisasi Perangkat Daerah),” tegasnya. Prof. Sukri menjelaskan bahwa dampak domino dari pergantian kepala daerah adalah hilangnya memori institusional program kesehatan. Setiap kepemimpinan baru yang masuk seringkali memerlukan penjelasan ulang (mulai dari nol) mengenai esensi Kota Sehat—baik dalam konteks nasional maupun internasional, hingga urgensi dari program jangka panjang tersebut. Hal ini menciptakan ketidakpastian kebijakan, pemutusan alokasi sumber daya, dan kegagalan dalam mewujudkan rencana pembangunan berkelanjutan yang telah disusun oleh pendahulu. Tiga Pilar Masalah Krusial Berdasarkan Kajian FKM Unhas Berdasarkan kajian mendalam (review berbagai literatur dan pengalaman praktik di hampir semua regional WHO) yang dilakukan oleh tim FKM Unhas, Prof. Sukri mengidentifikasi tiga pilar masalah utama yang menghambat implementasi program Kota Sehat: 1. Masalah Pemahaman dan Kapasitas: Prof. Sukri melihat bahwa masalah yang dihadapi berkaitan dengan pemahaman mengenai kota sehat yang belum dipahami secara komprehensif oleh seluruh pemangku kepentingan, terutama para pejabat baru di OPD. Karena itu, pengembangan kapasitas menjadi sangat penting dan harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya pada tingkat teknis, tetapi juga pada tingkat konseptual dan kebijakan. 2. Masalah Kelembagaan dan Pendanaan: “Kedua adalah berkaitan dengan kelembagaan dan pendanaan. Kelembagaan kota sehat beragam, seringkali tumpang tindih atau tidak memiliki otoritas kuat, demikian pula sumber-sumber pendanaan yang relatif terbatas dan tidak berkelanjutan,” ujarnya. Keterbatasan pendanaan menyebabkan program hanya berjalan sesaat dan gagal mencapai dampak sistemik yang diharapkan. 3. Masalah Ketidaksinambungan Kepemimpinan: Inilah pilar tantangan yang paling krusial, di mana pergantian rezim politik mengganggu visi jangka panjang pembangunan kesehatan. Dari Sistem Sakit (Sick System) menuju Sistem Kesehatan Komprehensif Forum di Penang ini juga memperkaya wawasan Prof. Sukri dengan perspektif internasional yang sejalan. Dalam pemaparan yang sangat komprehensif oleh perwakilan tuan rumah, ditekankan bahwa pendekatan kesehatan di banyak negara masih didominasi oleh pendekatan sakit (sick system). “Dia menekankan bahwa pendekatan kesehatan banyak dilakukan pendekatan sakit, melayani orang sakit dan cenderung reaktif sehingga gagal meningkatkan derajat kesehatan, padahal ada sistem kesehatan yang lebih komprehensif untuk melihat masalah kesehatan secara keseluruhan,” ucap Prof. Sukri. Dr. Rabindra, Perwakilan WHO Malaysia, Brunei, dan Singapura, juga menjelaskan secara rinci tentang pentingnya menggeser fokus ke populasi yang lebih sehat dari pendekatan sick system ke sistem kesehatan yang proaktif. Pendekatan ini membutuhkan investasi pada determinan kesehatan sosial dan lingkungan, bukan hanya pada penyediaan layanan kuratif di rumah sakit. Sementara itu, Dr. Devender Singh selaku Koordinator Pelaksana Unit Masyarakat Pemberdayaan Kesehatan WPRO, menambahkan bahwa penggunaan determinan kesehatan untuk mengkaji masalah kesehatan memberikan ruang yang lebih luas untuk melihat dan menyelesaikan akar masalahnya, bukan hanya gejala penyakit. Pendekatan ini sangat sejalan dengan filosofi Ilmu Kesehatan Masyarakat yang diusung oleh FKM Unhas. Peran Strategis FKM Unhas dalam Solusi Kota Sehat Keikutsertaan Prof. Sukri Palluturi dalam forum WHO ini menunjukkan bahwa FKM Unhas tidak hanya aktif dalam riset lokal, tetapi juga berkontribusi pada dialog kebijakan kesehatan global. FKM Unhas berpotensi menjadi pusat kajian yang mampu menjembatani pemahaman dan implementasi program Kota Sehat di Indonesia. Temuan mengenai tantangan pergantian kepemimpinan, pemahaman, dan pendanaan akan menjadi masukan berharga bagi pemerintah pusat dan daerah di Indonesia. FKM Unhas dapat menawarkan program pengembangan kapasitas yang berkelanjutan bagi para pimpinan OPD dan teknokrat daerah, memastikan bahwa pemahaman tentang Kota Sehat tetap utuh meskipun terjadi rotasi jabatan. Keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Isu Kota Sehat yang diangkat dalam forum WHO ini memiliki korelasi yang sangat kuat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya yang menjadi inti dari upaya keberlanjutan global: Penutup: Agenda FKM Unhas untuk Keberlanjutan Inovasi Kebijakan Partisipasi aktif Prof. Sukri Palluturi dalam forum internasional ini menegaskan kembali peran FKM Unhas sebagai institusi yang berorientasi pada riset yang berdampak kebijakan (policy-oriented research). Hasil kajian dan insight yang diperoleh dari forum WHO WPRO akan diintegrasikan ke dalam kurikulum dan program pengabdian masyarakat FKM Unhas. Fokus untuk mengatasi tantangan pergantian pemimpin melalui pengembangan master lan kota sehat yang diikat secara hukum dan program pengembangan kapastitas yang terus menerus akan menjadi agenda utama FKM Unhas ke depan, demi memastikan bahwa upaya mewujudkan kota yang sehat di Indonesia dapat terus berlanjut tanpa terpengaruh oleh dinamika politik daerah.

Menggagas Masa Depan Gizi Nasional: FKM Unhas Gelar Webinar “Makanan Aman, Halal, dan Bermutu”, Tantangan Krusial Program Makanan Bergizi Gratis (MBG)

webinar MBG

MAKASSAR – Di tengah meningkatnya perhatian dan fokus strategis bangsa terhadap isu krusial kualitas gizi dan ketahanan pangan nasional, muncul satu pertanyaan mendasar yang wajib dijawab: bagaimana pemerintah dapat memastikan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, menerima asupan makanan yang tidak hanya bergizi seimbang, tetapi juga terjamin aman, bermutu, dan memenuhi standar kehalalan yang diyakini mayoritas masyarakat? Pertanyaan kompleks ini bukan sekadar isu kebijakan yang bersifat teknis, melainkan cerminan dari kesadaran moral, etika, dan ilmiah generasi muda terhadap masa depan sumber daya manusia (SDM) bangsa. Dari ruang kuliah Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas), semangat tanggung jawab itu mewujud nyata dalam penyelenggaraan Webinar Nasional bertajuk “Makanan Aman, Halal, dan Bermutu: Tantangan MBG (Makanan Bergizi Gratis)”. Forum ilmiah berskala nasional ini berhasil digelar pada 22 November 2025 di Ruang ICONS FKM Unhas, menunjukkan komitmen FKM dalam merespons isu-isu strategis nasional. Antusiasme Melampaui Batas Geografis Antusiasme publik terhadap isu ini terbukti luar biasa. Webinar yang diinisiasi dan diselenggarakan sepenuhnya oleh Mahasiswa Ilmu Gizi Angkatan 2023 FKM Unhas ini berhasil menjaring lebih dari 1.120 peserta yang terhubung secara daring dari seluruh penjuru Indonesia—mulai dari Banda Aceh di ujung barat hingga Merauke di timur. Peserta yang bergabung meliputi mahasiswa, akademisi, praktisi kesehatan, ahli gizi di rumah sakit, hingga masyarakat umum yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu gizi keluarga. Angka partisipasi yang tinggi ini menunjukkan bahwa isu gizi, keamanan pangan, dan kehalalan bukan lagi hanya domain teknis para ahli, melainkan telah menjadi bagian integral dari kesadaran sosial dan literasi kritis yang semakin tumbuh subur di kalangan generasi muda dan profesional kesehatan. FKM Unhas sukses menjadi katalisator bagi diskusi publik yang sehat dan berbasis ilmiah ini. Ilmu yang Menyapa Kehidupan dan Tanggung Jawab Mahasiswa Sejak pagi, suasana ruang webinar terasa hidup dan terorganisir dengan sangat baik, mencerminkan profesionalisme panitia muda. Ketua Panitia, Naila Syakirah, membuka acara dengan laporan yang disampaikan penuh keyakinan dan visi. Ia menjelaskan bahwa latar belakang kegiatan ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap masih rendahnya literasi gizi dan keamanan pangan di masyarakat, di tengah wacana implementasi program pangan skala besar. “Kami ingin ilmu yang kami pelajari di FKM Unhas tak berhenti di ruang kuliah, tetapi bisa memberi manfaat langsung bagi bangsa. Webinar ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang pembelajaran dan refleksi bersama tentang bagaimana kebijakan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dapat dijalankan tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan, kehalalan produk, dan mutu gizi — tiga pilar penting yang menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan,” ujar Naila dengan nada yang menggugah, menegaskan peran aktif mahasiswa Gizi sebagai agen perubahan. Gizi, Kehalalan, dan Martabat Bangsa: Suara Pimpinan Unhas Dukungan institusi terhadap inisiatif mahasiswa ini disampaikan langsung oleh Guru Besar Ilmu Gizi Unhas, Prof. dr. Veny Hadju, M.Sc., Ph.D., yang memberikan sambutan dengan penekanan kuat pada pentingnya memperkuat integritas pangan nasional. “Program MBG tidak sekadar berbicara tentang memberi makan dalam jumlah yang cukup. Ia adalah tentang memastikan generasi yang lahir dan tumbuh dari asupan sehat, halal, dan bergizi. Di situlah letak martabat bangsa dan tanggung jawab kita sebagai akademisi,” tutur Prof. Veny dengan suara tenang namun menggugah. Nada apresiasi yang sama disampaikan oleh Dr. Wahiduddin, SKM., M.Kes., yang mewakili Dekan FKM Unhas. Beliau menyampaikan kebanggaannya kepada mahasiswa yang berhasil menyelenggarakan kegiatan akademik berskala nasional ini dengan isu yang sangat relevan. “Ketika mahasiswa Ilmu Gizi FKM Unhas berbicara tentang gizi dan kemanusiaan, di situlah universitas menjalankan perannya: mencetak insan yang peduli dan berilmu, siap berkontribusi pada kebijakan publik,” tegas Dr. Wahiduddin. Suara dari Para Ahli: Menautkan Ilmu, Agama, dan Kebijakan Tiga narasumber utama yang hadir dalam webinar ini menghadirkan dimensi yang saling melengkapi dan komprehensif, mengaitkan aspek kebijakan, agama/etika, dan ilmiah gizi: Ilmu yang Menghidupkan Empati dan Literasi Webinar ini tidak hanya bersifat satu arah. Peserta diuji melalui pre-test dan post-test dengan 15 butir pertanyaan yang mengukur pemahaman sebelum dan sesudah kegiatan. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat literasi gizi dan kesadaran akan pentingnya keamanan serta kehalalan pangan. Di sela-sela webinar, terselenggara pula Lomba Poster Ilmiah yang diikuti oleh 19 peserta dari berbagai universitas. Poster-poster tersebut menampilkan pesan kreatif tentang makanan aman, halal, dan bergizi—sebagian menggugah emosi, menampilkan wajah polos anak Indonesia yang penuh harap akan masa depan yang lebih sehat berkat program gizi yang terjamin. Dari Unhas untuk Indonesia: Keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Inisiatif mahasiswa Ilmu Gizi FKM Unhas ini memiliki korelasi yang sangat kuat dan langsung dengan komitmen nasional terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), menempatkan Unhas sebagai motor penggerak pembangunan berkelanjutan. Penutup: Sendok Nasi Sebagai Simbol Harapan Bagi mahasiswa penyelenggara, kegiatan ini jauh melampaui ajang akademik. Ini adalah langkah kecil menuju perubahan sosial dan penanaman empati. Mereka percaya, pendidikan gizi tidak cukup hanya dengan teori; ia harus disampaikan dengan empati, dijalankan dengan tanggung jawab, dan diterjemahkan dalam tindakan nyata. “Webinar ini adalah bentuk cinta kami kepada bangsa,” tutur salah satu panitia di penghujung acara, matanya berbinar menyiratkan harapan. “Kami ingin semua orang Indonesia tahu bahwa makanan bergizi bukanlah kemewahan, tetapi hak setiap anak bangsa, yang harus dijamin keamanannya dan kehalalannya.” Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto yang hangat, menandai berakhirnya kegiatan penuh makna itu. Namun bagi para peserta, khususnya generasi muda Ilmu Gizi Unhas, semangatnya baru saja dimulai—semangat untuk terus berjuang memastikan bahwa setiap sendok nasi yang dikonsumsi rakyat Indonesia adalah simbol kebaikan: aman, halal, dan bermutu, sebagai jaminan masa depan bangsa yang lebih sehat dan berintegritas.

Pesta Inovasi Akademik Nasional: Unhas Sukses Selenggarakan PIMNAS ke-38, FKM Unhas Jadi Episentrum Kompetisi PKM-PM

PIMNAS ke 38

Makassar– Universitas Hasanuddin (Unhas) telah mengukir sejarah sebagai tuan rumah penyelenggaraan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38. Acara bergengsi tingkat nasional ini, yang menjadi puncak apresiasi dan kompetisi bagi karya ilmiah mahasiswa terbaik se-Indonesia, dibuka secara resmi melalui upacara pembukaan yang berlangsung meriah pada Senin, 24 November, bertempat di Baruga A.P. Pettarani yang legendaris. Sejak pagi pukul 07.30 WITA, Baruga telah dipenuhi oleh aura semangat dan optimisme dari delegasi mahasiswa terbaik yang mewakili seluruh perguruan tinggi di penjuru Nusantara. Upacara pembukaan berlangsung sangat semarak, memadukan kekhidmatan akademik dengan kekayaan budaya Indonesia. Suasana semakin hidup dengan berbagai tampilan seni dan budaya Nusantara yang memukau, termasuk peragaan busana adat dari berbagai daerah. Peragaan busana ini bukan sekadar hiburan, tetapi refleksi mendalam dari semangat kebhinekaan serta persatuan dalam dunia akademik, menegaskan bahwa inovasi lahir dari kolaborasi keberagaman. Hari Pertama yang Penuh Dedikasi Ilmiah Hari pertama PIMNAS ke-38 diawali dengan tahapan teknis krusial. Sejak pagi, proses registrasi peserta berlangsung lancar, dilanjutkan dengan sesi pemasangan poster ilmiah serta instalasi file presentasi (PPT) di lokasi kompetisi. Tahapan ini sangat penting untuk menjamin kesiapan seluruh tim dalam menghadapi sesi penilaian yang intensif. Pada hari yang sama, dilaksanakan pula sesi penilaian poster ilmiah yang menampilkan ratusan karya inovatif mahasiswa dari beragam bidang keilmuan. Poster-poster tersebut menjadi etalase bagi ide-ide brilian mahasiswa yang mencerminkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta komitmen untuk memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian berbagai persoalan bangsa melalui pendekatan ilmiah dan teknologi. Mulai dari solusi lingkungan, kesehatan, sosial, hingga rekayasa teknologi maju, semua beradu gagasan di Unhas. Inspirasi dan Motivasi: Kuliah Umum dan Talkshow Mental Juara Selain sesi kompetisi yang menguras energi dan pikiran, PIMNAS ke-38 juga dirangkaikan dengan kegiatan non-kompetisi yang bertujuan memperkaya wawasan dan memotivasi peserta. Kegiatan ini meliputi Kuliah Umum dan Talkshow Inspiratif. Kuliah umum menghadirkan Miklos Sunario (Co-Founder dan CEO Futurity) sebagai pemuda inspiratif yang sukses membawa inovasi ke level global. Miklos berbagi pengalaman berharganya dalam membangun startup berbasis teknologi dan wawasan tentang bagaimana mahasiswa dapat mentransformasi ide riset menjadi produk atau layanan yang memiliki nilai ekonomi dan sosial tinggi. Tak kalah menarik, peserta juga mengikuti Talkshow Inspiratif dengan tema “Rahasia Membangun Mental Juara untuk Generasi Z”. Sesi ini menjadi ruang diskusi dan motivasi yang berharga bagi mahasiswa untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mengembangkan diri secara profesional dan personal. Narasumber membagikan kiat-kiat dalam menghadapi kegagalan, pentingnya ketahanan mental (resilience), dan strategi mengubah tantangan menjadi peluang, yang merupakan modal utama bagi generasi muda yang akan memimpin di masa depan. FKM Unhas: Episentrum Inovasi Pengabdian Masyarakat Salah satu fakultas yang menunjukkan antusiasme tertinggi dan menjadi lokasi strategis bagi terselenggaranya PIMNAS ke-38 adalah Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas. Pelaksanaan kegiatan kompetisi di lingkungan FKM menghadirkan atmosfer yang sangat hidup dan penuh semangat kolaborasi. FKM Unhas didapuk menjadi lokasi pelaksanaan lomba Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM). Cabang lomba ini secara khusus menantang mahasiswa untuk tidak hanya berinovasi di laboratorium, tetapi menerapkannya langsung di tengah masyarakat. Lomba PKM-PM ini berlangsung di Ruangan K111 dan K112 FKM Unhas. Sebanyak 17 tim peserta dari berbagai perguruan tinggi berpartisipasi dalam cabang lomba ini, menampilkan program-program pengabdian yang inovatif, solutif, dan didasarkan pada kebutuhan nyata di masyarakat. Program yang ditampilkan sangat beragam, mulai dari edukasi kesehatan, pembangunan infrastruktur air bersih sederhana, hingga pemberdayaan ekonomi komunitas pesisir. Pelaksanaan di FKM Unhas menunjukkan peran aktif dan sentral mahasiswa dalam pembangunan berbasis kesehatan dan sosial. Mahasiswa peserta tampak antusias memamerkan berbagai inovasi dari beragam bidang keilmuan, mulai dari kesehatan masyarakat, teknologi tepat guna, hingga pemberdayaan sosial. Setiap tim berusaha menampilkan ide terbaiknya secara kreatif dan solutif di hadapan dewan juri serta pengunjung, menjadikan FKM Unhas kancah pertempuran ide yang paling berdampak sosial. Expo Side Fest: Ruang Temu Kreativitas dan Kewirausahaan PIMNAS ke-38 semakin meriah dengan diselenggarakannya Expo Side Fest. Expo ini menjadi ruang temu gagasan, inovasi, dan kreativitas dari seluruh sivitas akademika Unhas. Beragam stand dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) mahasiswa, fakultas, Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), hingga berbagai sponsor turut meramaikan Plataran MKU. Expo ini menampilkan beragam produk unggulan serta karya inovatif, mulai dari produk makanan fungsional hasil riset, aplikasi teknologi digital untuk layanan masyarakat, hingga karya seni dan kerajinan. Expo Side Fest terbuka untuk umum dan berlangsung hingga 27 November, yang juga menjadi hari penutupan sekaligus penganugerahan PIMNAS 38. Expo ini tidak hanya menjadi pameran, tetapi juga inkubator bagi ide-ide wirausaha mahasiswa, memberikan penghargaan bagi karya mahasiswa terbaik. Kehadiran FKM Unhas dalam Expo Side Fest juga sangat terasa, dengan memamerkan produk-produk inovasi kesehatan dan startup berbasis public health. PIMNAS ke-38 dan Kontribusi Nyata pada Sustainable Development Goals (SDGs) Penyelenggaraan PIMNAS ke-38 di Universitas Hasanuddin, dengan seluruh rangkaian kegiatan dan inovasinya, selaras secara fundamental dengan komitmen Indonesia terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Ajang PIMNAS ini menjadi bukti nyata peran strategis perguruan tinggi dalam membangun generasi unggul dan berdaya saing global yang berorientasi pada keberlanjutan. Penutup: Unhas, Tuan Rumah yang Sukses Membangun Generasi Inovatif Secara keseluruhan, PIMNAS ke-38 di Universitas Hasanuddin tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga festival intelektual yang berhasil memobilisasi kreativitas mahasiswa dari seluruh Indonesia. Kesuksesan Unhas sebagai tuan rumah, khususnya peran FKM Unhas yang menjadi panggung utama bagi PKM-PM, memperkuat citra universitas sebagai institusi yang peduli terhadap pengabdian masyarakat dan inovasi berkelanjutan. Penganugerahan di hari penutupan akan menjadi penutup manis bagi ajang yang telah berhasil melahirkan ribuan gagasan cemerlang dan menegaskan kembali peran strategis perguruan tinggi dalam membangun masa depan bangsa yang berbasis ilmu pengetahuan.

Mengukir Jejak Global: Kontingen FKM Unhas Dominasi Plenary Session di 11th AHLA Conference Taiwan

11th Asian Health Literacy Association

Taichung, Taiwan– Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menegaskan posisinya sebagai institusi akademik terdepan di Indonesia dalam isu-isu kesehatan global, khususnya di bidang literasi kesehatan. FKM Unhas mengirimkan kontingen besar untuk berpartisipasi aktif dalam 11th Asian Health Literacy Association (AHLA) Conference 2025 yang berlangsung di Chung Shan Medical University Hospital di kota Taichung, Taiwan. Konferensi ini diselenggarakan sejak tanggal 24 hingga 25 November 2025. Forum ilmiah bergengsi ini menjadi titik pertemuan penting bagi akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara di Asia, dan bahkan menarik partisipasi dari Eropa. Kehadiran Universitas Hasanuddin, yang diwakili oleh FKM, menjadi bukti nyata komitmen universitas dalam memperluas jejaring internasional dan menyebarluaskan hasil-hasil riset unggulan yang relevan dengan tantangan kesehatan masa kini. Kontingen dan Kekuatan Akademik FKM Unhas Kontingen FKM Unhas yang bertolak ke Taichung membawa kekuatan akademik yang solid, terdiri dari 3 orang dosen senior dan 10 orang mahasiswa pascasarjana. Komposisi delegasi ini menunjukkan komitmen fakultas dalam melibatkan mahasiswa dalam diseminasi riset tingkat internasional. Secara spesifik, delegasi FKM Unhas terdiri dari: Keterlibatan mahasiswa S2 dan S3 dari konsentrasi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku menunjukkan fokus strategis FKM Unhas pada pengembangan ilmu perilaku kesehatan, yang merupakan kunci dalam meningkatkan literasi dan mengubah perilaku masyarakat secara fundamental. Riset Unggulan yang Mendominasi Plenary Session Partisipasi FKM Unhas dalam AHLA Conference kali ini sangat menonjol, dengan empat artikel ilmiah yang diterima untuk dipresentasikan. Yang lebih membanggakan, tiga artikel di antaranya mendapat kehormatan untuk dipresentasikan dalam plenary session, sesi utama yang dihadiri oleh seluruh peserta konferensi dan dianggap sebagai sesi paling prestisius. Sementara satu artikel lainnya dipresentasikan melalui sesi poster. Karya-karya ilmiah yang dipresentasikan menyoroti isu-isu kesehatan yang sangat krusial dan memiliki dampak signifikan di tingkat nasional maupun global: Keberhasilan tiga karya FKM Unhas menembus sesi plenary adalah pengakuan internasional atas kualitas riset dan relevansi topik yang diangkat oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas. Memperkuat Jejaring dan Kualitas Pendidikan Pascasarjana Keikutsertaan mahasiswa S2 dan S3 dalam konferensi ini memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi kualitas pendidikan pascasarjana di FKM Unhas. Mahasiswa tidak hanya mendapat kesempatan untuk menyaksikan presentasi dari pakar global, tetapi juga terlibat langsung dalam suasana akademik internasional. Partisipasi ini mencerminkan komitmen FKM Unhas terhadap Indikator Kinerja Utama (IKU) Unhas, khususnya dalam hal internasionalisasi dan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan global. Mahasiswa didorong untuk berinteraksi dengan peserta dari universitas-universitas terkemuka, menjalin networking, dan membandingkan metodologi riset mereka dengan standar internasional. Pengalaman ini secara signifikan akan memperkaya tesis dan disertasi mereka, sekaligus mempersiapkan mereka menjadi peneliti dan akademisi kesehatan masyarakat yang unggul dan berwawasan global. Kolaborasi Lintas Negara dan Kontribusi Kebijakan Di sela-sela sesi presentasi di Chung Shan Medical University Hospital, para dosen dan mahasiswa FKM Unhas menjalin komunikasi intensif dengan perwakilan dari berbagai organisasi anggota AHLA. Pertemuan ini berpotensi membuka jalan bagi: Riset yang dipresentasikan, terutama mengenai stunting dan HIV, tidak hanya memiliki nilai akademik tetapi juga memiliki potensi besar untuk memengaruhi kebijakan publik. Misalnya, temuan Prof. Suriah tentang literasi calon pengantin dapat menjadi dasar bagi Dinas Kesehatan setempat untuk merevisi dan memperkuat modul edukasi pra-nikah di Sulawesi Selatan. Literasi Kesehatan dan Keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Partisipasi FKM Unhas dalam AHLA Conference secara langsung mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya yang berkaitan dengan kesehatan dan pendidikan. Kontribusi FKM Unhas ini membuktikan bahwa riset di bidang Promosi Kesehatan memiliki peran sentral sebagai intervensi non-medis yang paling efektif untuk memecahkan masalah kesehatan kompleks, sejalan dengan visi Unhas sebagai World-Class University yang berdampak. Penutup: Semangat Diseminasi Ilmu Pengetahuan Keikutsertaan FKM Unhas dalam 11th Asian Health Literacy Association Conference di Taichung, Taiwan, bukan sekadar daftar kehadiran, tetapi merupakan penegasan atas kualitas dan relevansi riset FKM di panggung global. Kesempatan untuk mempresentasikan tiga artikel di sesi plenary dan satu poster adalah prestasi yang membanggakan, memperkuat reputasi Prodi Kesehatan Masyarakat FKM Unhas di Asia-Pasifik. Dengan semangat diseminasi ilmu pengetahuan ini, FKM Unhas optimis akan terus berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih sehat, teredukasi, dan berliterasi tinggi di Indonesia dan dunia.

Mewujudkan Visi Kampus Sehat Global: Forma Kesmas FKM Unhas Gagas Diskusi Krusial “Optimalisasi Kebijakan Kampus Tanpa Rokok”

Kuliah Tamu Intenasional

Makassar – Komitmen untuk menciptakan lingkungan akademik yang sehat, bersih, dan bebas dari polusi asap rokok terus digaungkan di lingkungan Universitas Hasanuddin (Unhas). Sebagai inisiator terdepan, Forum Mahasiswa Kesehatan Masyarakat (Forma Kesmas) FKM Unhas sukses menggelar Diskusi Publik yang sangat relevan dan mendesak. Acara bertajuk “Optimalisasi Kebijakan: Membangun Kampus Sehat Tanpa Rokok” ini dilaksanakan pada Rabu, 12 November 2025, bertempat di Ruang Prof. Dr. Nasry Noor, MPH, FKM Unhas. Diskusi ini menjadi platform krusial untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan merumuskan langkah konkret untuk implementasi yang lebih baik. Antusiasme terhadap isu Kampus Sehat Tanpa Rokok ini terlihat dari tingginya partisipasi. Sebanyak 25 peserta hadir secara luring, didampingi 45 peserta yang bergabung melalui platform Zoom, dan menarik perhatian hingga 184 penonton yang menyaksikan melalui siaran langsung di TikTok. Kehadiran perwakilan dari berbagai lembaga mahasiswa, seperti BEM dan MAPERWA, serta jajaran pimpinan fakultas dan universitas menunjukkan bahwa isu KTR adalah tanggung jawab kolektif seluruh sivitas akademika Unhas. Dukungan Penuh Pimpinan: Kampus Sehat Bukan Sekadar Slogan Acara dibuka oleh Ketua Forma Kesmas yang dengan tegas menyatakan bahwa diskusi publik ini bukan hanya forum basa-basi, tetapi merupakan bentuk nyata komitmen mahasiswa untuk terus mengawal penegakan kebijakan KTR di lingkungan kampus. Sentimen ini disambut baik oleh perwakilan MAPERWA, yang menyebut bahwa isu rokok adalah tanggung jawab moral seluruh sivitas akademika, bukan hanya tugas lembaga atau Satuan Tugas tertentu. Dukungan kuat juga datang dari jajaran pimpinan FKM Unhas. Dekan FKM Unhas dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi mahasiswa dalam mendorong penerapan KTR, yang telah dimulai sejak dua dekade silam. Beliau menekankan bahwa:“Kampus sehat bukan sekadar slogan, tapi budaya yang harus kita jaga. Tidak ada kompromi untuk pelanggaran KTR,” ujar Dekan. Beliau juga secara spesifik menyoroti pentingnya keberanian untuk saling menegur jika melihat pelanggaran, sebuah tindakan yang menegaskan bahwa setiap individu di lingkungan akademik memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kawasan bebas asap rokok. Dukungan serupa juga diperkuat oleh pihak universitas, diwakili oleh Wakil Rektor II. Beliau menjamin bahwa komitmen Rektorat terhadap visi kampus sehat akan terus diperkuat, meskipun beliau mengakui adanya tantangan di lapangan. Unhas sebagai kampus terbuka menghadapi kesulitan dalam pengawasan. Oleh karena itu, langkah strategis yang akan diambil oleh Rektorat meliputi: Temuan Survei dan Rekomendasi Aksi Nyata Sesi inti diskusi menghadirkan presentasi menarik dari April, perwakilan Forma Kesmas, yang memaparkan hasil survei internal mengenai efektivitas implementasi KTR di Unhas. Data survei tersebut menjadi dasar argumentasi perlunya reformasi kebijakan. Hasilnya menunjukkan angka yang mengkhawatirkan: 70,2% mahasiswa menilai penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Unhas belum berjalan efektif. Penyebab utama ketidakefektifan ini diidentifikasi sebagai kurangnya pengawasan yang konsisten dan rendahnya tingkat kesadaran dari sebagian besar sivitas akademika. Berdasarkan temuan survei tersebut, Forma Kesmas merekomendasikan tiga langkah strategis utama: Perspektif Pakar: Kolaborasi Lintas Sektoral dan Isu Sosial-Ekonomi Diskusi semakin mendalam dengan pandangan dari para pakar, Dr. Mugi dan Prof. Ridwan. Kedua akademisi ini menyoroti bahwa masalah rokok di lingkungan kampus tidak hanya bisa diselesaikan melalui regulasi, tetapi harus melibatkan kolaborasi seluruh sivitas akademika, bahkan lintas sektor. Dr. Mugi menegaskan bahwa rokok bukan semata masalah pilihan individu, melainkan persoalan sosial, kesehatan, dan bahkan ekonomi yang berdampak luas. Kebijakan KTR adalah bagian dari upaya perlindungan kesehatan publik, khususnya bagi perokok pasif yang memiliki hak untuk menghirup udara bersih. Sementara itu, Prof. Ridwan menekankan perlunya langkah konkret dan simbolis untuk meningkatkan awareness. Beliau mengusulkan adanya deklarasi resmi “Unhas Tanpa Asap Rokok” yang ditandatangani oleh seluruh pimpinan dan perwakilan mahasiswa. Selain itu, beliau juga mendesak percepatan pembentukan Satgas khusus yang memiliki wewenang penuh untuk menindak pelanggaran. Diskusi ini menyimpulkan bahwa perubahan menuju kampus sehat harus dimulai dari kesadaran bersama dan diikuti dengan konsistensi dalam penegakan aturan. KTR dan Komitmen FKM Unhas Terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Diskusi publik ini secara langsung menegaskan peran aktif FKM Unhas dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik). Upaya mewujudkan Kampus Sehat Tanpa Rokok adalah langkah nyata yang berkontribusi pada target SDG 3.4, yaitu mengurangi kematian dini akibat penyakit tidak menular (seperti penyakit jantung dan kanker yang dipicu rokok) dan meningkatkan kesehatan mental. Dengan mempromosikan lingkungan bebas asap rokok, FKM Unhas tidak hanya melindungi kesehatan fisik sivitas akademika dari bahaya rokok dan asap sekunder, tetapi juga menciptakan suasana akademik yang mendukung kesehatan mental dan produktivitas. Lingkungan yang bebas polusi asap adalah hak fundamental, dan penegakan KTR merupakan cerminan komitmen institusi terhadap hak tersebut. Selain itu, inisiatif mahasiswa ini juga sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), karena lingkungan yang sehat adalah prasyarat untuk proses belajar mengajar yang optimal. Kegiatan diskusi ini sendiri merupakan implementasi dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yang melibatkan kolaborasi efektif antara mahasiswa, fakultas, dan rektorat. Penutup: Menumbuhkan Budaya Peduli dan Konsistensi Penegakan Sebagai penutup, kegiatan ini berhasil mengirimkan pesan kuat: membangun kampus sehat tanpa rokok adalah lebih dari sekadar membuat larangan. Ini adalah upaya jangka panjang untuk menumbuhkan kesadaran dan budaya peduli terhadap hak setiap orang untuk mendapatkan kualitas udara yang bersih. Dengan adanya dukungan eksplisit dari Dekan FKM Unhas dan Wakil Rektor II Unhas, serta rekomendasi berbasis data dari mahasiswa, cita-cita mewujudkan Kampus Sehat Unhas diyakini dapat tercapai secara nyata. Kunci suksesnya terletak pada konsistensi penegakan aturan dan peran aktif seluruh sivitas akademika dalam menjaga kawasan tanpa asap rokok ini sebagai budaya bersama yang tak terkompromi. Aksi Forma Kesmas ini telah menjadi contoh inspiratif tentang bagaimana inisiatif mahasiswa dapat menjadi motor penggerak perubahan kebijakan yang berdampak luas pada kesehatan publik.

FKM Unhas Genap 43 Tahun: Memperkuat Riset Global dan Pengabdian Komunitas, Mendukung Indonesia Emas 2045

Puncak Dies FKM

Makassar – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) telah membuktikan eksistensinya sebagai salah satu pilar utama dalam pengembangan ilmu kesehatan masyarakat di Indonesia. Tepat pada Sabtu, 15 November 2025, FKM Unhas sukses menggelar Puncak Dies Natalis ke-43 yang berlangsung meriah di kompleks FKM Unhas. Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah penegasan kembali atas komitmen FKM Unhas dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Mengusung semangat “Satu Keluarga, Satu Tujuan: FKM Unhas Maju”, perayaan ini menjadi penutup rangkaian kegiatan akademik dan non-akademik yang telah melibatkan seluruh sivitas akademika, alumni, serta mitra FKM Unhas. Dies Natalis ke-43 FKM Unhas ini menarik perhatian publik, termasuk para pengambil kebijakan di tingkat nasional dan regional. Kehadiran tokoh-tokoh penting menjadi indikasi kuat atas peran strategis FKM Unhas dalam pembangunan kesehatan. Rangkaian acara yang padat dan terstruktur telah dirancang untuk memberikan dampak nyata dan nilai tambah, baik bagi internal fakultas maupun masyarakat luas. Penguatan Kapasitas Global melalui Seminar dan Konferensi Jauh sebelum acara puncak, FKM Unhas telah menjalankan agenda utama yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan networking internasional. Salah satu kegiatan unggulan adalah Kuliah Tamu Internasional yang mendatangkan pembicara dari berbagai universitas terkemuka dunia. Kehadiran pakar-pakar internasional ini tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa dan dosen tentang isu-isu kesehatan masyarakat global yang bervariasi, tetapi juga memicu kolaborasi riset lintas negara. Selain itu, pelatihan intensif mengenai pengolahan data juga diselenggarakan untuk memastikan sivitas akademika FKM Unhas mampu menguasai metodologi penelitian terkini. Titik fokus akademik lainnya adalah suksesnya penyelenggaraan “The 2nd International Conference on Safety and Public Health”. Konferensi internasional ini mengusung tema relevan: “Global Research and Innovation For Safety and Public Health”. Acara ini berfungsi sebagai platform penting bagi peneliti, akademisi, dan praktisi untuk berbagi temuan dan inovasi terbaru di bidang keselamatan dan kesehatan masyarakat. Konferensi ini diperkuat dengan kehadiran keynote speaker ternama, yaitu Dr. Benyamin P. Oktovianus, Sp.P, FISR, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dan Muhammad Idham, M.KKK, Direktur Bina Kelembagaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan. Partisipasi pejabat tinggi negara menunjukkan dukungan pemerintah terhadap inisiatif riset FKM Unhas yang berdampak pada kebijakan publik. Kontribusi Nyata: Pengabdian Masyarakat Terpadu di Takalar Dies Natalis ke-43 ini juga disikapi oleh FKM Unhas sebagai momentum untuk mempertegas komitmen pengabdian kepada masyarakat. Program Pengabdian Masyarakat Terpadu dilaksanakan secara masif di Kabupaten Takalar, tepatnya di Kecamatan Palantikang dan Kecamatan Laikang. Uniknya, kegiatan ini melibatkan kontribusi dari seluruh departemen di FKM Unhas, memastikan intervensi yang diberikan bersifat holistik dan sesuai dengan keahlian spesifik masing-masing departemen. Secara total, terdapat 19 kegiatan yang tersebar di 10 titik lokasi di Kecamatan Laikang. Bentuk kegiatannya sangat beragam, mulai dari edukasi kesehatan preventif, pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga setempat, hingga pembagian paket sembako untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini bukan hanya sekadar bakti sosial, tetapi juga merupakan implementasi langsung dari hasil-hasil riset FKM Unhas, memastikan ilmu pengetahuan yang dikembangkan memiliki dampak praktis di tingkat akar rumput. Acara Puncak: Peresmian Aula dan Penghargaan Prestasi Puncak perayaan Dies Natalis ke-43 berlangsung semarak sejak pagi hari. Rangkaian kegiatan dimulai dengan kegiatan yang mempromosikan gaya hidup sehat, yaitu Fun Run 5K yang dilepas secara resmi oleh Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., MSc.PH.,Ph.D. Kegiatan dilanjutkan dengan senam bersama dan flashmob yang melibatkan seluruh peserta, memperkuat semangat kebersamaan. Momen paling bersejarah pada acara puncak adalah Peresmian Aula Prof. dr. H. Sirajuddin Beku, SKM. Peresmian ini dilakukan langsung oleh Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. Kehadiran Rektor Unhas dan antusiasmenya terhadap rangkaian Dies Natalis ini menunjukkan dukungan penuh universitas terhadap pengembangan infrastruktur dan kualitas FKM Unhas. Acara puncak secara resmi dibuka oleh Rektor Unhas setelah serangkaian acara protokoler seperti pemutaran video ucapan, pembacaan ayat suci Al-Quran, dan laporan dari ketua panitia. Sambutan hangat juga disampaikan oleh Ketua IKA FKM, Dr. Azri Rasul, M.Si., MH dan Ketua IKA Unhas, menegaskan peran penting alumni sebagai mitra strategis fakultas. Salah satu sesi yang paling dinanti adalah Penganugerahan FKM Award. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa yang telah menunjukkan prestasi luar biasa dalam bidang akademik, penelitian, dan pengabdian. Selain itu, diberikan pula penghargaan khusus kepada tenaga kependidikan purnabakti dan almarhumah Dr. Sri Handayani, SKM., M.Kes. atas dedikasi mereka. Peluncuran Inovasi dan Dukungan Pemimpin Daerah Dies Natalis ke-43 juga menjadi momen peluncuran beberapa produk inovatif dan strategis FKM Unhas, antara lain: Dukungan terhadap FKM Unhas juga datang dari pemerintah daerah. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, S.H., MH, turut hadir dan menyampaikan sambutannya. Beliau mengucapkan selamat atas usia ke-43 FKM Unhas yang dinilainya sebagai usia matang dan produktif. Wali Kota secara khusus menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang siap menghadapi tantangan kesehatan masa depan. Beliau juga menegaskan dukungan penuh Pemerintah Kota Makassar agar FKM Unhas terus berinovasi dan memberikan dampak positif bagi kemajuan masyarakat Makassar dan Indonesia secara umum. FKM Unhas dan Keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perayaan Dies Natalis ke-43 ini bukanlah sekadar pesta, melainkan sebuah ajang refleksi mendalam mengenai peran krusial FKM Unhas dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) atau Sustainable Development Goals. Sebagai institusi yang berfokus pada kesehatan masyarakat, FKM Unhas secara eksplisit berkomitmen untuk berkontribusi pada pencapaian SDGs, terutama Tujuan 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik). FKM Unhas mengimplementasikan Tujuan 3 melalui berbagai inisiatif: Lebih dari itu, pelaksanaan konferensi internasional, kuliah tamu, dan kolaborasi dengan instansi pemerintah (Kemenkes dan Kemenaker) merupakan wujud nyata komitmen FKM Unhas terhadap Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Dengan memperkuat kemitraan di tingkat lokal, nasional, dan global, FKM Unhas berupaya meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya kesehatan masyarakat, yang pada akhirnya akan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Penutup: Semangat Kebersamaan dan Visi Masa Depan Dies Natalis ke-43 ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antara dosen, tenaga pendidik, mahasiswa, dan alumni. Kegiatan lomba-lomba yang meliputi penalaran, keagamaan, olahraga, dan seni telah sukses membangun semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Acara diakhiri dengan pengumuman pemenang lomba, pembagian doorprize, hiburan musik, dan sesi foto bersama. Semua rangkaian acara ini menegaskan bahwa kegiatan Dies Natalis tahunan FKM Unhas akan terus menjadi ajang untuk berbagi inspirasi dan menyamakan visi. Dengan semangat