Penguatan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Makassar: Langkah Strategis Pemkot Menuju Kota Sehat dan Ramah Anak

MAKASSAR – Upaya menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari polusi asap rokok di Kota Makassar kini memasuki babak baru. Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar secara resmi mempertegas komitmennya dalam menegakkan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di seluruh lini pelayanan publik dan pemerintahan. Langkah ini ditandai dengan rencana penerbitan Peraturan Wali Kota (Perwali) terbaru serta pembaruan Satuan Tugas (Satgas) KTR untuk memastikan implementasi aturan di lapangan berjalan lebih efektif dan konsisten. Revitalisasi Kebijakan KTR untuk Masa Depan Makassar Dalam pertemuan strategis yang berlangsung di Ruang Rapat Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Makassar pada Kamis (5/3/2026), Sekda Kota Makassar, Andi Zulkifly, menegaskan bahwa penegakan KTR bukan sekadar pemenuhan administrasi, melainkan kebutuhan mendesak untuk melindungi hak kesehatan warga. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Hasanuddin Center for Tobacco Control and NCD Prevention (Hasanuddin Contact), sebuah lembaga yang selama ini aktif mengadvokasi pengendalian tembakau di Sulawesi Selatan. Andi Zulkifly menjelaskan bahwa selama ini kebijakan KTR sebenarnya sudah ada, namun evaluasi menunjukkan adanya kebutuhan untuk penguatan regulasi dan pengawasan. “Berdasarkan arahan Bapak Wali Kota, kita ingin benar-benar menegakkan KTR secara konsisten. Karena itu, Satgas akan diperbarui, regulasinya diperkuat melalui Perwali, dan sosialisasinya kita maksimalkan,” ujarnya. Pembaruan Satgas KTR ini bertujuan untuk memberikan wewenang yang lebih jelas dalam melakukan monitoring di tujuh tatanan kawasan yang telah ditetapkan. Kawasan tersebut meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, dan tempat umum lainnya. Fokus pada OPD dan Fasilitas Publik Sebagai langkah awal, Pemkot Makassar akan memulai penguatan dari internal pemerintahan. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diminta menjadi contoh bagi masyarakat dalam menerapkan area bebas rokok di lingkungan kantor masing-masing. Hal ini dianggap krusial karena aparatur sipil negara (ASN) diharapkan menjadi pelopor pola hidup sehat sebelum mengajak masyarakat luas untuk patuh. Lebih lanjut, Pemkot Makassar juga tengah menyusun draf regulasi mengenai pembatasan reklame rokok di titik-titik tertentu, terutama di jalan protokol dan kawasan yang sering diakses oleh anak-anak. Penataan iklan rokok ini merupakan salah satu indikator penting dalam penilaian Kota Layak Anak (KLA). Tanpa pengendalian iklan yang ketat, visi Makassar menjadi kota ramah anak akan sulit tercapai secara optimal. Kolaborasi dengan Akademisi dan Penggiat Kesehatan Keterlibatan Hasanuddin Contact dalam proses ini menunjukkan sinergi yang kuat antara pemerintah dan akademisi (FKM). Prof. Ridwan Amiruddin, selaku Direktur Hasanuddin Contact, menekankan pentingnya pengawasan yang ketat terhadap distribusi dan iklan rokok yang menyasar remaja. Data menunjukkan bahwa prevalensi perokok pemula di kalangan remaja terus meningkat, yang jika tidak dibendung, akan membebani sistem kesehatan di masa depan akibat penyakit tidak menular (PTM) seperti kanker, jantung, dan penyakit paru obstruktif kronis. Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) memiliki peran vital dalam memberikan dukungan data ilmiah (evidence-based policy) untuk memperkuat Perwali ini. Dengan adanya kajian akademis, kebijakan yang diambil Pemkot Makassar akan memiliki landasan hukum dan kesehatan yang kuat, sehingga tidak mudah digugat oleh pihak-pihak yang berkepentingan di industri tembakau. Kaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Langkah Pemkot Makassar dalam memperkuat kebijakan KTR ini sejalan dengan komitmen global dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Secara khusus, upaya ini berkontribusi langsung pada SDGs Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Salah satu target dalam tujuan ini adalah memperkuat implementasi World Health Organization Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC) di semua negara untuk mengurangi prevalensi penggunaan tembakau. Selain itu, kebijakan ini juga mendukung SDGs Tujuan 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, dengan menciptakan ruang publik yang sehat, inklusif, dan aman bagi semua kelompok umur, terutama anak-anak. Dengan menekan angka perokok, produktivitas masyarakat akan meningkat dan beban ekonomi akibat biaya pengobatan penyakit terkait rokok dapat dikurangi, yang pada akhirnya juga mendukung SDGs Tujuan 1: Tanpa Kemiskinan melalui perlindungan ekonomi rumah tangga. Tantangan dan Harapan ke Depan Meskipun regulasi diperkuat, tantangan terbesar tetap pada perubahan perilaku masyarakat dan konsistensi penegakan sanksi. Pemkot Makassar melalui Satgas KTR yang baru diharapkan tidak hanya melakukan sosialisasi, tetapi juga penindakan yang tegas sesuai aturan yang berlaku. “Kami akan mengundang seluruh kepala OPD dan camat untuk sosialisasi pada 12 Maret mendatang. Ini penting agar pemahaman mengenai KTR merata hingga ke tingkat wilayah,” tambah Andi Zulkifly. Diharapkan, dengan adanya payung hukum berupa Perwali yang lebih detail, tidak ada lagi keraguan bagi petugas di lapangan untuk menegakkan aturan demi kesehatan publik yang lebih baik. Sebagai institusi pendidikan, FKM terus berkomitmen untuk mengawal kebijakan ini. Edukasi kepada mahasiswa dan masyarakat luas mengenai bahaya asap rokok orang lain (second-hand smoke) dan pentingnya lingkungan tanpa rokok akan terus digalakkan. KTR bukan berarti melarang orang merokok, melainkan mengatur tempat agar aktivitas merokok tidak merugikan orang lain yang ingin menghirup udara bersih. Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, Kota Makassar optimis dapat mewujudkan lingkungan yang lebih sehat, ramah bagi anak, dan menjadi pionir dalam pengendalian tembakau di Indonesia Timur.
Strategi FKM Unhas Menuju World Class University: Finalisasi Renstra Prodi 2025-2029

MAKASSAR – Dalam upaya mempertegas eksistensinya di kancah internasional, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) sukses menggelar agenda strategis bertajuk “Workshop Finalisasi Rencana Strategis (Renstra) Program Studi Periode 2025-2029”. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 28 Februari 2026 ini, menjadi tonggak penting bagi setiap program studi (prodi) dalam menyusun peta jalan akademis yang adaptif dan visioner. Dilaksanakan secara hybrid dari Hotel Unhas Makassar dan terkoneksi melalui platform Zoom Meeting, acara ini melibatkan partisipasi aktif dari seluruh civitas akademika, mulai dari pimpinan fakultas, dosen, hingga pemangku kepentingan eksternal. Menghidupkan Dokumen Strategis: Bukan Sekadar Formalitas Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Sumber Daya, dan Alumni, Prof. Dr. Atjo Wahyu, SKM., M.Kes., yang hadir mewakili Dekan FKM Unhas, menekankan pentingnya perubahan paradigma terhadap dokumen Renstra. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa Renstra program studi tidak boleh menjadi dokumen statis yang hanya “tersimpan di laci meja”. “Renstra adalah panduan hidup bagi setiap prodi. Ia harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman namun tetap berpijak pada Renstra Universitas sebagai rujukan utama,” ujar Prof. Atjo. Beliau juga menambahkan bahwa setiap langkah pengembangan akan terus dipantau secara ketat oleh Gugus Penjaminan Mutu dan Reputasi (GPM-PR) guna memastikan standar kualitas tetap terjaga. Menyelaraskan Visi dengan Lima Pilar Utama Unhas Sesi utama workshop menghadirkan Prof. Sumbangan Baja, M.Phil, Ph.D., yang membedah strategi finalisasi dokumen dengan mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Unhas 2030. Beliau memaparkan bahwa setiap prodi di lingkup FKM Unhas wajib menyinergikan visi dan misinya ke dalam Lima Pilar Utama Pengembangan Unhas, yaitu: Selain itu, Prof. Sumbangan juga menyoroti sembilan isu strategis nasional dan global, termasuk transformasi sistem pembelajaran digital serta persiapan sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045. Sinergi Multisektor: Melibatkan Alumni dan Pengguna Lulusan Kekuatan dari workshop ini terletak pada sesi diskusi paralel melalui breakout room. Sebanyak 10 Program Studi di FKM Unhas—mulai dari jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), Doktor (S3), hingga Pendidikan Profesi—memaparkan draf program kerja mereka untuk dikritisi oleh para pemangku kepentingan. Diskusi ini melibatkan alumni, mahasiswa aktif, hingga para pengguna lulusan (users) untuk memastikan bahwa kurikulum dan rencana pengembangan prodi relevan dengan kebutuhan pasar kerja global. Menariknya, bagi Program Studi S2 Administrasi Rumah Sakit (ARS), kegiatan ini menjadi ajang sosialisasi karena dokumen Renstra mereka telah disahkan lebih awal oleh Senat. Adapun daftar program studi yang terlibat aktif dalam finalisasi ini antara lain: Kontribusi Nyata terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) Finalisasi Renstra Prodi FKM Unhas ini bukan sekadar urusan internal kampus, melainkan bentuk komitmen nyata dalam mendukung agenda global Sustainable Development Goals (SDGs). FKM Unhas secara spesifik memfokuskan rencananya pada dua poin utama: Menatap Masa Depan: Komprehensif dan Terarah Dengan berakhirnya workshop ini, FKM Unhas menargetkan seluruh program studi memiliki pedoman pengembangan akademik, penelitian, dan tata kelola yang komprehensif untuk periode 2025–2029. Dokumen ini diharapkan menjadi kompas bagi fakultas untuk terus bergerak maju, meningkatkan daya saing global, dan mewujudkan visi internasionalisasi yang dicanangkan oleh universitas. Penyusunan strategi yang matang ini menjadi bukti bahwa FKM Unhas siap menghadapi tantangan kesehatan di masa depan dengan fondasi perencanaan yang kuat dan inklusif.
FKM Unhas Ukir Sejarah: Sambut 194 Mahasiswa Pascasarjana dan Angkatan Perdana Profesi Dietisien Berstandar Global

MAKASSAR – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) kembali mempertegas posisinya sebagai institusi pendidikan kesehatan terkemuka di Indonesia Timur. Dalam sebuah momentum bersejarah yang menandai lompatan akademik signifikan, FKM Unhas secara resmi menerima 194 mahasiswa baru untuk jenjang Pascasarjana (Magister dan Doktor) serta menyambut kehadiran angkatan pertama mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien untuk Semester Akhir Tahun Akademik 2025/2026. Prosesi penerimaan ini dilakukan melalui kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang berlangsung khidmat di Aula Prof. Dr. Ir. Fachruddin, Sekolah Pascasarjana Unhas, pada Rabu (25/02). Acara ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan simbol kesiapan FKM Unhas dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang siap bersaing di kancah global. Transformasi Akademik dan Angkatan Perdana Profesi Dietisien Salah satu sorotan utama dalam penerimaan kali ini adalah dimulainya perkuliahan bagi mahasiswa angkatan perdana Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien. Kehadiran program ini merupakan jawaban atas kebutuhan mendesak akan tenaga ahli gizi (dietisien) yang memiliki kompetensi klinis dan manajerial yang tersertifikasi secara profesional. Dekan FKM Unhas dalam sambutannya menekankan bahwa pembukaan program Profesi Dietisien ini merupakan hasil dari proses panjang akreditasi dan pemenuhan standar kualitas dari LAM-PTKes. Sebagai angkatan pertama, para mahasiswa ini diharapkan menjadi pionir yang membawa perubahan dalam standar pelayanan gizi di rumah sakit, institusi kesehatan, maupun sektor industri makanan di Indonesia. Total 194 mahasiswa yang diterima terdiri dari berbagai latar belakang daerah dan institusi, yang mencakup 37 mahasiswa laki-laki dan 157 mahasiswa perempuan. Komposisi ini menunjukkan tingginya minat masyarakat, khususnya kaum perempuan, untuk mendalami ilmu kesehatan masyarakat dan gizi di level lanjut. Visi Global dan Kualitas Pendidikan FKM Unhas terus berkomitmen untuk memberikan kualitas pendidikan berstandar internasional. Dengan kurikulum yang terus diperbarui sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta kebutuhan pasar kerja global, mahasiswa pascasarjana di dorong untuk tidak hanya menguasai teori, tetapi juga tajam dalam analisis kebijakan dan riset kesehatan. Langkah strategis ini sejalan dengan visi Universitas Hasanuddin sebagai World Class University. Di FKM, mahasiswa diberikan akses ke berbagai laboratorium mutakhir, jaringan kemitraan dengan rumah sakit internasional, serta bimbingan dari dosen-dosen berkualitas yang memiliki reputasi riset di tingkat dunia. Kontribusi Nyata terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) Penerimaan mahasiswa baru pascasarjana dan profesi di FKM Unhas memiliki keterkaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Khususnya pada SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, peran lulusan FKM sangat krusial dalam memperkuat sistem kesehatan nasional dan menurunkan angka mortalitas melalui intervensi kesehatan masyarakat yang tepat sasaran. Selain itu, keberadaan angkatan perdana Profesi Dietisien secara langsung mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan, yang juga mencakup perbaikan gizi dan ketahanan pangan. Para dietisien masa depan ini dilatih untuk menangani masalah malnutrisi, stunting, hingga penyakit degeneratif yang disebabkan oleh pola makan yang salah. Melalui pendidikan ini, FKM Unhas berkontribusi dalam memastikan akses kesehatan yang merata dan bermutu bagi seluruh lapisan masyarakat, guna menciptakan generasi emas yang sehat dan produktif. Menghadapi Tantangan Kesehatan Masa Depan Dunia kesehatan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari ancaman pandemi masa depan hingga beban ganda masalah gizi. Mahasiswa pascasarjana FKM Unhas dipersiapkan untuk menjadi pemimpin (leaders) dan pembuat kebijakan yang mampu memberikan solusi berbasis bukti (evidence-based policy). Program Doktor (S3) Ilmu Kesehatan Masyarakat di Unhas fokus pada pengembangan inovasi dan teori baru, sementara Program Magister (S2) lebih ditekankan pada penguasaan manajerial dan teknis spesifik di bidang seperti Epidemiologi, Kesehatan Lingkungan, K3, hingga Administrasi Kebijakan Kesehatan. Dengan sinergi antara jenjang S2, S3, dan Pendidikan Profesi, FKM Unhas menciptakan ekosistem akademik yang komprehensif. Fasilitas dan Ekosistem Pendukung Selama menempuh pendidikan di FKM Unhas, mahasiswa akan didukung oleh fasilitas yang memadai. Mulai dari perpustakaan digital dengan akses jurnal internasional ternama, hingga pusat-pusat studi yang aktif melakukan pengabdian masyarakat. Lingkungan kampus yang inklusif dan dinamis di Makassar juga memberikan pengalaman belajar yang unik bagi mahasiswa yang berasal dari luar Sulawesi. Pimpinan fakultas juga mengingatkan pentingnya integritas akademik dan kolaborasi interdisipliner. Di era sekarang, masalah kesehatan tidak bisa diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Oleh karena itu, mahasiswa pascasarjana didorong untuk berkolaborasi lintas departemen guna menghasilkan riset yang berdampak luas bagi kemaslahatan umat manusia. Penutup: Harapan untuk Mahasiswa Baru Penerimaan 194 mahasiswa ini adalah langkah awal dari perjalanan panjang menuju karier profesional yang bermakna. FKM Unhas berharap para mahasiswa baru dapat segera beradaptasi dengan budaya akademik Unhas yang mengedepankan nilai-nilai Maritim: Manusiawi, Arif, Religius, Integritas, Tangguh, Inovatif, dan Mandiri. Dengan bergabungnya angkatan baru ini, FKM Unhas optimis dapat terus memberikan kontribusi signifikan bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia dan dunia. Selamat datang kepada para pejuang kesehatan masyarakat dan calon dietisien profesional di Kampus Merah, Universitas Hasanuddin.
Menata Masa Depan: Arah Strategis Magister Kesehatan Lingkungan FKM Unhas 2025-2029

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) terus memperkuat posisinya sebagai institusi pendidikan terdepan di Indonesia. Melalui Program Studi Magister (S2) Kesehatan Lingkungan, FKM Unhas baru-baru ini menyelenggarakan Workshop Penyusunan Visi, Misi, Tujuan, Strategi, dan Unggulan (VMTSU) serta Rencana Strategis (Renstra) untuk periode 2025-2029. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam mencetak sumber daya manusia yang kompeten menghadapi tantangan kesehatan lingkungan global yang kian kompleks. Transformasi Pendidikan untuk Tantangan Global Dunia saat ini tengah menghadapi “triple planetary crisis”, yaitu perubahan iklim, polusi, dan kehilangan keanekaragaman hayati. Ketiga isu besar ini berdampak langsung pada derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, Program Studi Magister Kesehatan Lingkungan FKM Unhas memandang perlu untuk melakukan kalibrasi ulang terhadap arah strategisnya. Workshop yang berlangsung di Ruang Aula Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Unhas ini menjadi momentum penting bagi para akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk merumuskan kurikulum dan roadmap riset yang relevan. Fokus utama pengembangan periode 2025-2029 adalah mengintegrasikan teknologi kesehatan lingkungan terkini dengan kearifan lokal Benua Maritim Indonesia. Sinergi Pakar: Mendukung Transformasi Kesehatan Nasional Penyusunan VMTSU ini melibatkan berbagai pakar lintas sektor. Salah satu poin penting yang dibahas adalah keselarasan arah pendidikan dengan Transformasi Kesehatan Nasional yang dicanangkan oleh pemerintah. Prof. Dr. Arif Sumantri, SKM., M.Kes, menekankan bahwa pendidikan kesehatan lingkungan harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial dan teknis dalam mitigasi risiko lingkungan. Di sisi lain, aspek kebutuhan sumber daya manusia di tingkat daerah juga menjadi sorotan. Dr. Muhammadong, S.KM., M.Kes, menyoroti pentingnya penguatan kapasitas tenaga kesehatan lingkungan di daerah agar mampu menjawab tantangan spesifik wilayah, seperti pengelolaan limbah medis di daerah kepulauan maupun mitigasi dampak tambang terhadap kualitas air pemukiman. Inovasi Kurikulum dan Riset Berbasis Bukti Untuk mencapai target sebagai pusat unggulan di tahun 2029, Magister Kesehatan Lingkungan FKM Unhas mengedepankan Best Practice dalam pengembangan kurikulum. Dr. R. Sudirman menjelaskan bahwa kurikulum masa depan akan lebih fleksibel dan berbasis riset. Mahasiswa didorong untuk melakukan penelitian yang memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Beberapa area riset unggulan yang akan dikembangkan meliputi: Kontribusi Nyata terhadap SDGs (Sustainable Development Goals) Upaya strategis yang dilakukan oleh Magister Kesehatan Lingkungan FKM Unhas merupakan langkah konkret dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Secara khusus, arah strategis 2025-2029 ini berkontribusi langsung pada beberapa poin SDGs, antara lain: Dengan mengaitkan seluruh proses akademik pada prinsip pembangunan berkelanjutan, FKM Unhas memastikan bahwa setiap lulusannya memiliki paradigma hijau dalam setiap pengambilan keputusan profesional. Kolaborasi dan Jejaring Internasional Menuju 2029, Magister Kesehatan Lingkungan FKM Unhas tidak berjalan sendiri. Penguatan jejaring internasional menjadi salah satu strategi utama. Melalui pertukaran mahasiswa, kolaborasi riset dengan universitas luar negeri, dan publikasi pada jurnal bereputasi global, program studi ini berupaya meningkatkan international outlook-nya. Kerja sama dengan industri dan instansi pemerintah juga dipererat untuk memastikan adanya link and match antara lulusan dengan kebutuhan pasar kerja. Lulusan Magister Kesehatan Lingkungan diharapkan mampu mengisi posisi strategis di Kementerian Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, konsultan AMDAL, hingga departemen HSE (Health, Safety, and Environment) di perusahaan multinasional. Menuju Visi 2029 Dengan semangat “Menata Arah Strategis”, workshop ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan peletakan batu pertama bagi masa depan kesehatan lingkungan di Indonesia Timur dan nasional. Dekan FKM Unhas menyampaikan optimisme bahwa dengan Renstra yang matang, Magister Kesehatan Lingkungan akan menjadi rujukan utama bagi siapa saja yang ingin mendalami ilmu kesehatan lingkungan dengan karakteristik Benua Maritim. Proses penyusunan visi dan misi ini bersifat inklusif, menyerap aspirasi dari alumni dan pengguna lulusan. Hal ini memastikan bahwa visi yang ditetapkan bukan sekadar tulisan di dinding, melainkan target hidup yang diperjuangkan oleh seluruh sivitas akademika. Kesimpulan Langkah Magister Kesehatan Lingkungan FKM Unhas dalam merumuskan arah strategis 2025-2029 adalah bentuk responsivitas terhadap perubahan zaman. Melalui kurikulum yang inovatif, riset yang berdampak, dan komitmen terhadap SDGs, FKM Unhas siap mencetak pemimpin-pemimpin masa depan di bidang kesehatan lingkungan yang akan membawa perubahan positif bagi bangsa dan dunia.
Strategi Inovatif Rekrutmen Mahasiswa Pascasarjana: Catatan Keberhasilan Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas

MAKASSAR – Di tengah dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, tantangan dalam menjaring mahasiswa baru untuk jenjang pascasarjana menjadi isu krusial bagi banyak perguruan tinggi di Indonesia. Pergeseran tren minat calon mahasiswa serta banyaknya pilihan institusi pendidikan menuntut pengelola program studi untuk lebih kreatif dan strategis. Menanggapi tantangan ini, Program Studi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) berbagi pengalaman sukses dalam menjaga stabilitas rekrutmen melalui pendekatan kolaborasi kelembagaan yang kuat. Dalam Workshop Rencana Kerja Strategis (Renstra) 2025-2029 yang digelar baru-baru ini, Ketua Program Studi S2 AKK FKM Unhas, Prof. Amran Razak, S.E., M.Sc., memaparkan berbagai tips praktis dan tren rekrutmen yang efektif. Menurutnya, kunci keberhasilan bukan lagi sekadar mengandalkan promosi konvensional, melainkan membangun kepercayaan melalui jejaring profesional dan kemitraan strategis dengan pemerintah daerah. Menembus Batas Kampus: Strategi Kolaborasi Pemerintah Daerah Salah satu capaian menonjol dari Prodi S2 AKK adalah kemampuannya mempertahankan kuota mahasiswa ideal, yakni sekitar 35 mahasiswa per angkatan. Hal ini dicapai bukan melalui iklan masif, melainkan lewat skema kerja sama strategis (MoU) dengan berbagai instansi pemerintah di luar Sulawesi Selatan. Prof. Amran mengungkapkan bahwa kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Kesehatan menjadi salah satu contoh sukses. Saat ini, sebanyak 24 Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Maluku tengah menempuh pendidikan magister di Prodi S2 AKK FKM Unhas. Keberhasilan ini merupakan hasil dari komunikasi intensif antara pihak Prodi dan dukungan penuh dari Dekanat FKM Unhas yang dipimpin oleh Prof. Sukri Palutturi, Ph.D. “Kemitraan ini bersifat mutualisme. Para mahasiswa yang merupakan praktisi kesehatan di daerah asal tidak hanya belajar secara akademis, tetapi juga tetap terhubung dengan kebutuhan birokrasi mereka. Kami membantu mereka meningkatkan kapasitas SDM, sementara universitas mendapatkan input mahasiswa yang berkualitas dan berpengalaman,” jelas Prof. Amran. Selain Maluku, rekam jejak kerja sama Prodi S2 AKK juga mencakup wilayah Kalimantan Utara, terutama pada masa kepemimpinan Gubernur Zainal Arifin Paliwang. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan institusional kepada kepala daerah dan pemangku kebijakan merupakan strategi yang sangat efektif untuk memperluas jangkauan rekrutmen di jenjang S1, S2, hingga S3. Fleksibilitas Pembelajaran: Metode Blocking Class dan Kedekatan Emosional Menyadari bahwa sebagian besar mahasiswa pascasarjana adalah pekerja profesional, FKM Unhas menerapkan metode pembelajaran yang adaptif. Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, menjelaskan bahwa Prodi S2 AKK menerapkan sistem blocking class. Dalam skema ini, jadwal perkuliahan disusun berdasarkan kesepakatan bersama sehingga mahasiswa dapat mengikuti proses belajar mengajar secara intensif dalam periode waktu tertentu tanpa harus meninggalkan kewajiban pekerjaan mereka secara total. Lokasi pembelajaran pun bersifat fleksibel; perkuliahan dapat dilaksanakan secara luring di Kampus Tamalanrea Makassar maupun di lokasi daerah mitra. Namun, Prof. Sukri menekankan bahwa kehadiran fisik di kampus tetap menjadi aspek penting. “Penting bagi mahasiswa untuk mengenal almamaternya secara langsung. Mereka harus merasakan atmosfer akademik di FKM Unhas agar terbangun kedekatan emosional dan rasa bangga terhadap universitas. Hal ini akan memperkuat solidaritas alumni di masa depan,” tambahnya. Optimalisasi Jejaring Personal dan Profesional Prof. Amran Razak, yang juga memiliki pengalaman sebagai tenaga ahli di kementerian, menekankan pentingnya memanfaatkan jejaring personal pengelola fakultas dan para guru besar. Komunikasi etis dengan kepala daerah atau pimpinan lembaga menjadi pintu masuk utama dalam membangun kerja sama pendidikan yang tematik. “Kerja sama bisa dirancang sesuai kebutuhan spesifik daerah, misalnya kelas khusus kebijakan kesehatan atau administrasi rumah sakit. Jika sosialisasi ini dilakukan secara lebih terstruktur melalui Ikatan Alumni (IKA) Unhas atau organisasi profesi, potensinya tentu akan jauh lebih besar lagi,” urai Prof. Amran. Sinergi dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Langkah strategis yang dilakukan oleh Prodi S2 AKK FKM Unhas ini sejatinya merupakan kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Khususnya pada SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Dengan mempermudah akses pendidikan tinggi bagi para praktisi kesehatan di daerah terpencil melalui kerja sama pemerintah, FKM Unhas berperan dalam meningkatkan kualitas SDM yang kompeten dalam mengelola kebijakan kesehatan nasional. Pendidikan yang inklusif dan merata (SDG 4) akan berujung pada penguatan sistem kesehatan masyarakat di tingkat daerah, yang secara langsung mendukung target kesehatan global (SDG 3). Selain itu, kemitraan antara universitas dan pemerintah daerah mencerminkan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sinergi ini membuktikan bahwa tantangan kompleks di sektor kesehatan dan pendidikan tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan. Kesimpulan dan Harapan Masa Depan Pengalaman dari Program Studi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas menjadi pembelajaran berharga bagi program studi lain. Kunci keberlanjutan sebuah program studi di era modern bukan hanya terletak pada kurikulum, tetapi pada kemampuan membaca kebutuhan pasar, membangun kepercayaan dengan mitra eksternal, dan menyediakan solusi pendidikan yang fleksibel namun tetap berkualitas. Dengan terus memperkuat jejaring dan melakukan inovasi dalam metode rekrutmen, FKM Unhas optimis dapat terus melahirkan pemimpin-pemimpin di bidang kesehatan masyarakat yang mampu membawa perubahan positif bagi Indonesia dan dunia.
Transformasi Lima Tahun Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Unhas: Menuju Pusat Unggulan Kebijakan Kesehatan Berkarakter Maritim

MAKASSAR – Program Studi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK), Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin (Unhas) kini genap melangkah selama lima tahun. Sejak resmi didirikan, perjalanan setengah dekade ini bukan sekadar angka, melainkan sebuah fase krusial yang menandai transformasi institusional yang signifikan. Dari tahap perintisan yang penuh tantangan, kini Magister AKK Unhas telah berhasil mengukuhkan posisinya sebagai pusat unggulan pendidikan kebijakan kesehatan yang memiliki karakter unik, yakni berfokus pada wilayah maritim. Ketua Program Studi Magister AKK Unhas, Prof. Amran Razak, S.E., M.Sc., dalam momentum Workshop Rencana Strategis (Renstra) 2025-2029, menegaskan bahwa pencapaian selama lima tahun ini adalah bukti nyata dari komitmen seluruh civitas akademika. Kualitas akademik yang terjaga, relevansi kurikulum yang selalu diperbarui, serta kapasitas kelembagaan yang semakin solid menjadi pondasi utama dalam menjawab tantangan sektor kesehatan yang kian kompleks di masa depan. Visi Strategis dan Kurikulum Berbasis Systems Thinking Dalam menghadapi dinamika global, Magister AKK Unhas tidak hanya mencetak lulusan yang mahir secara administratif, tetapi juga pemimpin yang memiliki ketajaman analisis. Kurikulum yang diterapkan dibangun di atas pilar-pilar strategis, dengan penekanan utama pada penguatan kepemimpinan (leadership) dan pola pikir sistem (systems thinking). Pendekatan systems thinking menjadi sangat vital karena sektor kesehatan tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dengan memahami kompleksitas ini secara utuh, lulusan Magister AKK Unhas diharapkan mampu menjadi nakhoda dalam perubahan kebijakan kesehatan yang lebih adaptif dan solutif. Policy Lab: Menjembatani Akademisi dan Praktisi Kebijakan Salah satu inovasi unggulan yang terus diperkuat oleh prodi ini adalah keberadaan Policy Lab (Laboratorium Kebijakan). Laboratorium ini dirancang sebagai jembatan yang menghubungkan dunia teoretis di kampus dengan realitas praktik kebijakan publik di lapangan. Melalui Policy Lab, hasil-hasil riset tesis mahasiswa dan penelitian dosen tidak hanya berakhir sebagai tumpukan kertas di perpustakaan. Fungsi utama Policy Lab adalah melakukan translasi riset menjadi policy brief, naskah akademik kebijakan, serta model tata kelola kesehatan yang berbasis bukti (evidence-based policy). Hal ini sejalan dengan arahan Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc (Prof JJ), yang senantiasa mendorong terbentuknya Thematic Research Group. Magister AKK mengambil peran strategis di sini dengan memfokuskan kajian pada isu-isu krusial seperti rujukan lintas pulau, mobilitas penduduk di wilayah pesisir, serta sistem pembiayaan kesehatan yang sesuai dengan karakteristik geografis wilayah kepulauan. Fokus Maritim: Menjawab Tantangan Geografis Indonesia Sebagai universitas yang berada di gerbang Indonesia Timur, karakter maritim menjadi ruh dari setiap kajian di Magister AKK Unhas. Tantangan akses kesehatan bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil memerlukan pendekatan administrasi yang berbeda dibandingkan dengan wilayah daratan. Adaptasi sistem kesehatan terhadap perubahan iklim dan potensi bencana di wilayah pesisir juga menjadi prioritas riset utama. Seluruh agenda riset yang dijalankan diarahkan untuk menghasilkan manfaat publik yang terukur. Dengan melibatkan kemitraan strategis bersama pemerintah daerah, sektor industri, serta jejaring internasional, Magister AKK Unhas berupaya menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih tangguh. Kontribusi Terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) Perjalanan dan visi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Unhas secara langsung berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Khususnya pada SDG Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, prodi ini berperan aktif dalam memperkuat sistem kesehatan nasional guna mencapai cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage). Melalui riset mengenai rujukan lintas pulau dan pembiayaan kesehatan berbasis wilayah, Magister AKK berupaya mengurangi ketimpangan akses kesehatan (SDG Tujuan 10: Mengurangi Ketimpangan) bagi masyarakat di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Selain itu, fokus pada adaptasi sistem kesehatan terhadap perubahan iklim di wilayah pesisir sejalan dengan SDG Tujuan 13: Penanganan Perubahan Iklim. Dengan mencetak administrator kesehatan yang kompeten dan memiliki visi keberlanjutan, Magister AKK Unhas turut serta dalam membangun institusi yang tangguh dan efektif (SDG Tujuan 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), guna memastikan bahwa pembangunan kesehatan tidak meninggalkan satu orang pun di belakang (leave no one behind). Harapan dan Masa Depan (Renstra 2025-2029) Memasuki periode rencana strategis yang baru, Magister AKK Unhas menargetkan reputasi alumni yang lebih kuat secara global. Alumni diharapkan tidak hanya unggul dalam tataran konsep akademik, tetapi juga menjadi agen perubahan yang nyata dalam menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat. Transformasi lima tahun pertama ini hanyalah awal dari perjalanan panjang. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas siap menjadi pelopor dalam mewujudkan masyarakat maritim yang sehat, berdaulat, dan memiliki daya tahan tinggi terhadap berbagai tantangan kesehatan di masa depan.
FKM Unhas Dukung Implementasi Girls Act untuk Perempuan Muda di Makassar

Makassar — Program Girls Act: Berdayakan Perempuan Ubah Dunia resmi diluncurkan di Makassar pada 14 Februari 2026. Program ini fokus pada pemberdayaan perempuan muda melalui empat fokus utama, yaitu pencegahan HIV dan IMS, pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan, dukungan beasiswa bagi anak dari keluarga kurang mampu, serta memberikan dukungan kepada perempuan muda penderita HIV untuk mendapatkan perawatan. Girls Act merupakan kolaborasi antara Yayasan Gaya Celebes, AHF Indonesia, dan Kementerian Sosial sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan dan anak di Indonesia. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA), kekerasan berbasis gender di Kota Makassar mengalami peningkatan yang signifikan. Sebanyak 1.222 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tercatat sepanjang tahun 2025, meningkat 14% dibandingkan tahun sebelumnya. Kekerasan seksual mendominasi laporan, disusul kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta meningkatnya kekerasan berbasis gender online (KBGO). Kegiatan ini juga didukung melalui kolaborasi antara Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas dan Yayasan Gaya Celebes (YGC). Keterlibatan FKM Unhas menjadi salah satu penguat dalam implementasi program. Sejumlah mahasiswa FKM Unhas, khususnya dari Departemen Promosi Kesehatan, bergabung dalam Girls Act Kota Makassar. Partisipasi mahasiswa diharapkan mampu memperkuat pendekatan edukatif berbasis komunitas. Senior Program AHF Indonesia, Lusi Siagan, menjelaskan bahwa prioritas Girls Act kedepannya meliputi penguatan pendidikan seksualitas secara komprehensif, pembentukan peer educator , serta penguatan mekanisme referensi layanan ramah remaja yang fokus pada remaja sekolah. Sementara itu, Direktur Rumah Mama Sulawesi Selatan, Lusia Palulungan, yang hadir sebagai narasumber, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat meningkatkan kapasitas pelajar dan pelajar perempuan dalam pencegahan serta penanganan IMS/HIV dan kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan berbasis gender online (KBGO). Peluncuran program ini juga dihadiri oleh perwakilan organisasi masyarakat sipil, akademisi, tenaga kesehatan, serta komunitas remaja di Kota Makassar. Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi pemaparan program dan diskusi tanya jawab. Melalui implementasi Girls Act , para pemangku kepentingan berkomitmen untuk memperluas akses informasi kesehatan reproduksi yang komprehensif, memperkuat jejaring layanan ramah remaja, serta mendorong partisipasi aktif perempuan muda dalam upaya pencegahan HIV, IMS, dan kekerasan berbasis gender. Pendekatan berbasis komunitas diharapkan mampu menjangkau kelompok sasaran secara lebih efektif dan berkelanjutan. Program Girls Act di Kota Makassar direncanakan akan dilaksanakan secara bertahap melalui kegiatan edukasi di sekolah dan komunitas, pelatihan peer pendidik , serta penguatan sistem rujukan layanan kesehatan dan perlindungan sosial bagi perempuan muda yang membutuhkan. Pemantauan dan evaluasi secara berkala juga akan dilakukan untuk memastikan efektivitas dan kelangsungan program.
Sinergi Inklusif: FKM Unhas dan DPRD Toraja Utara Godok Ranperda Inisiatif Perlindungan Hak Disabilitas

MAKASSAR – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) terus memperkuat perannya sebagai institusi akademik yang kontributif dalam pembangunan daerah berbasis kemanusiaan. Dalam langkah strategis terbaru, FKM Unhas menjalin kolaborasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Toraja Utara guna menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Inisiatif mengenai Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Pertemuan yang berlangsung khidmat pada Kamis, 19 Februari 2026, di Ruang Prof. Dr. Nur Nasry Noor, MPH, Kampus FKM Unhas, Tamalanrea, ini menjadi momentum penting bagi penguatan hak-hak kelompok difabel di Toraja Utara. Melalui pendampingan akademis, regulasi ini diharapkan tidak hanya menjadi dokumen hukum semata, tetapi menjadi instrumen nyata untuk menciptakan tatanan sosial yang adil dan setara bagi semua warga negara tanpa terkecuali. Komitmen Akademis untuk Kebijakan yang Berkeadilan Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH, PhD, yang memimpin langsung pertemuan tersebut, menegaskan bahwa universitas memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kebijakan publik agar berpihak pada kelompok rentan. Dalam sambutannya, Prof. Sukri menyatakan komitmen penuh FKM Unhas dalam menyediakan kepakaran akademis untuk menyusun naskah akademik yang komprehensif dan implementatif. “Penyusunan Ranperda ini adalah langkah besar bagi Toraja Utara. Kami di FKM Unhas siap mengerahkan tenaga ahli kami untuk memastikan bahwa regulasi ini memenuhi standar kesehatan masyarakat dan hak asasi manusia. Kita ingin memastikan bahwa saudara-saudara kita yang menyandang disabilitas di Toraja Utara mendapatkan perlindungan hukum yang kuat dan akses pelayanan yang 100 persen merata,” ujar Prof. Sukri. Turut mendampingi dalam pertemuan tersebut, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. Wahiduddin, SKM, M.Kes, serta Ketua Gugus Penjaminan Mutu dan Peningkatan Reputasi, Prof. dr. Hasanuddin Ishak, MSc. Kehadiran jajaran pimpinan ini menunjukkan betapa seriusnya FKM Unhas dalam merespons inisiatif legislatif yang bersentuhan langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Fokus Strategis: ODGJ dan Aksesibilitas Fasilitas Publik Diskusi antara pihak akademisi dan legislatif ini mengerucut pada beberapa poin krusial yang selama ini sering terabaikan dalam kebijakan daerah. Salah satu fokus utamanya adalah penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan penguatan peran keluarga dalam sistem pendukung disabilitas. Pihak DPRD Toraja Utara menekankan bahwa regulasi ini harus mampu menyentuh akar permasalahan di lapangan, di mana penyandang disabilitas seringkali menghadapi hambatan ganda: stigmatisasi sosial dan keterbatasan infrastruktur. Oleh karena itu, Ranperda ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap gedung pemerintah, ruang publik, hingga layanan transportasi di masa depan harus dibangun dengan standar aksesibilitas universal. Sejalan dengan visi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Toraja Utara yang turut hadir dalam proses koordinasi ini mendorong agar regulasi ini memberikan mandat tegas bagi pembangunan fasilitas umum yang ramah difabel. “Kita ingin Toraja Utara menjadi kabupaten yang inklusif, di mana penyandang disabilitas dapat bergerak mandiri dan merasa dihargai di ruang publik,” ungkapnya. Langkah Strategis dan Implementasi Pertemuan ini menghasilkan sejumlah rencana tindak lanjut yang akan segera dieksekusi. Tahap awal mencakup penyusunan naskah akademik yang melibatkan survei lapangan dan kajian literatur mendalam mengenai kondisi disabilitas di Toraja Utara. FKM Unhas akan bertindak sebagai mitra utama dalam memberikan rekomendasi berbasis data (evidence-based policy) kepada DPRD. Delegasi dari DPRD Kabupaten Toraja Utara yang hadir terdiri dari unsur Wakil Ketua DPRD, Ketua Komisi I, Wakil Ketua Komisi I, Sekretaris Komisi I, para anggota Komisi I, serta Sekretaris Dewan. Kehadiran representasi luas dari legislatif ini menandakan adanya dukungan politik yang kuat agar Ranperda ini dapat segera disahkan dan diimplementasikan. Penyusunan regulasi ini juga akan mencakup aturan spesifik mengenai pembinaan keluarga penyandang disabilitas, penyediaan kuota kerja bagi difabel di instansi daerah, hingga kemudahan akses pendidikan dan layanan kesehatan khusus. Kontribusi Terhadap SDGs (Sustainable Development Goals) Inisiatif kerja sama antara FKM Unhas dan DPRD Toraja Utara ini merupakan manifestasi nyata dari dukungan terhadap agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Secara spesifik, penyusunan Ranperda Perlindungan Disabilitas ini berkaitan erat dengan beberapa poin SDGs, antara lain: Dengan menyelaraskan regulasi daerah dengan target SDGs, Toraja Utara di bawah pendampingan FKM Unhas tengah melangkah menuju standar global dalam pemenuhan hak asasi manusia. Harapan Masa Depan Toraja Utara yang Inklusif Melalui Ranperda Inisiatif ini, diharapkan tidak ada lagi warga Toraja Utara yang tertinggal dalam proses pembangunan. Pendidikan publik mengenai hak-hak difabel juga akan terus ditingkatkan agar masyarakat luas dapat bersama-sama membangun lingkungan yang suportif. Penutupan acara ditandai dengan sesi foto bersama sebagai simbol sinergi antara dunia akademik dan praktisi politik. Komitmen ini diharapkan menjadi role model bagi daerah lain di Sulawesi Selatan dalam melibatkan perguruan tinggi untuk merumuskan kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat paling rentan. FKM Unhas berkomitmen untuk terus mengawal proses ini hingga Ranperda tersebut resmi menjadi Peraturan Daerah, memastikan bahwa setiap kata dalam regulasi tersebut bertransformasi menjadi manfaat nyata bagi seluruh penyandang disabilitas di Bumi Lakipadada.
Guru Besar FKM Unhas Dorong Penguatan Kesehatan Mental dan Rencana Aksi Kesehatan Berbasis Kelurahan di Makassar

MAKASSAR – Tantangan kesehatan di wilayah urban atau perkotaan semakin kompleks. Tidak hanya berkutat pada penyakit menular dan tidak menular secara fisik, namun isu kesehatan mental kini menjadi ancaman nyata bagi produktivitas warga kota. Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas), Prof. Amran Razak, M.Sc., menekankan pentingnya revitalisasi fungsi pengawasan sosial dan rencana aksi kesehatan yang menyentuh level akar rumput atau kelurahan. Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Amran saat hadir sebagai penanggap dalam diskusi “Ngopi Bareng” bertajuk “Problematika Kesehatan Warga Urban: Data, Kebijakan, dan Catatan Warga”. Acara yang diselenggarakan oleh Pelakita.ID bekerja sama dengan FKM Unhas ini berlangsung di Cafe Red Corner, Makassar, pada 15 Februari 2026. Mengembalikan Fungsi Posyandu sebagai Alat Monitoring Sosial Dalam pemaparannya, Prof. Amran Razak menyoroti pergeseran peran Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di masa kini. Menurutnya, di masa lalu, Posyandu bukan sekadar tempat menimbang bayi atau imunisasi, melainkan instrumen monitoring sosial yang sangat efektif. “Dulu, jika ada seorang ibu yang tidak hadir di Posyandu, hal itu langsung menjadi alarm bagi kader. Itu indikator adanya masalah, entah itu masalah kesehatan, ekonomi, atau sosial. Sekarang, fungsi monitoring ini melemah. Akibatnya, banyak kasus fatal seperti kematian warga yang baru diketahui tetangga setelah kejadian,” ungkap Prof. Amran. Beliau mendorong agar fungsi pengawasan komunitas ini dihidupkan kembali melalui sistem komunikasi kesehatan yang lebih fokus. Penguatan layanan primer di Puskesmas dan optimalisasi peran kader di tingkat kelurahan adalah kunci untuk melakukan langkah preventif dan promotif sebelum masalah kesehatan menjadi beban biaya yang mahal di tingkat layanan sekunder (rumah sakit). Urgensi Kesehatan Mental di Tengah Stres Perkotaan Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh Prof. Amran adalah isu kesehatan mental yang seringkali terabaikan dalam kebijakan kesehatan urban. Kehidupan di kota besar seperti Makassar membawa beban psikologis tersendiri, mulai dari kemacetan, kebisingan, hingga tekanan ekonomi. “Stres perkotaan bukan hanya masalah individu, tetapi masalah produktivitas wilayah. Stres yang dialami warga di perjalanan menuju tempat kerja akan berdampak pada kinerja mereka. Saat ini, akses terhadap layanan kesehatan mental masih sangat mahal dan seringkali tidak terjangkau oleh masyarakat luas,” jelasnya. Data menunjukkan bahwa pasien kesehatan mental di Makassar tidak hanya berasal dari dalam kota, tetapi juga daerah penyangga seperti Gowa dan Maros. Ini menandakan bahwa intervensi kesehatan mental harus menjadi prioritas dalam rencana aksi kesehatan pemerintah kota, termasuk dalam penyusunan anggaran (APBD). Politik Kesehatan dan Digitalisasi Layanan Sebagai pakar politik kesehatan, Prof. Amran juga memotivasi mahasiswa dan alumni FKM Unhas untuk tidak hanya bercita-cita menjadi aparatur sipil negara (ASN), tetapi juga berani masuk ke ranah politik atau legislatif (DPRD). “Kita butuh orang-orang yang paham kesehatan masyarakat duduk di kursi pengambilan kebijakan. Dengan begitu, pembahasan mengenai pembiayaan kesehatan dan politik kesehatan bisa dilakukan oleh mereka yang memang kompeten di bidangnya,” tuturnya. Selain itu, beliau menyoroti pentingnya riset mengenai efektivitas digitalisasi layanan kesehatan. Meski digitalisasi menawarkan efisiensi dan biaya rendah, Prof. Amran mengingatkan bahwa tidak semua kasus kesehatan—terutama yang kompleks dan membutuhkan sentuhan empati—bisa diselesaikan melalui layar gadget. Perbandingan antara layanan konvensional dan digital harus terus dikaji untuk menemukan format terbaik bagi warga Makassar. Usulan Rencana Aksi Skala Kelurahan Sebagai langkah konkret, Prof. Amran mengusulkan adanya “Kelurahan Percontohan” di Makassar yang menerapkan prinsip-prinsip kota sehat secara komprehensif. Rencana aksi ini bisa dimulai dari hal-hal mendasar namun berdampak besar, seperti: Sinergi dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Upaya yang didorong oleh FKM Unhas ini sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan ke-3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Dalam target SDGs ini, ditekankan bahwa memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua usia adalah hal yang esensial. Fokus Prof. Amran pada kesehatan mental berkaitan erat dengan target SDGs untuk mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan. Selain itu, penguatan layanan primer dan monitoring sosial di tingkat kelurahan mendukung target cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage). Melalui pendekatan Healthy City yang diusung oleh tokoh seperti Prof. Sukri Palutturi, FKM Unhas berperan aktif dalam menciptakan kota yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga menjamin hak-hak kesehatan warganya secara inklusif (SDGs Tujuan ke-11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan). Penutup: FKM Unhas sebagai Mitra Strategis Pemerintah Prof. Amran menegaskan bahwa forum diskusi dan riset yang dilakukan oleh akademisi bukan untuk mencari kesalahan pemerintah, melainkan sebagai bentuk pendampingan berbasis data. Dengan modal besar Makassar sebagai pusat layanan kesehatan nasional di Indonesia Timur, kolaborasi antara praktisi, akademisi, dan pembuat kebijakan diharapkan dapat melahirkan kebijakan publik yang lebih pro-rakyat dan berorientasi pada pencegahan. “Kita mulai dari satu contoh nyata di kelurahan. Itu adalah praktik politik kesehatan yang sebenarnya,” pungkasnya.
Profil Basir, Akademisi Muda FKM Unhas: Dedikasi untuk Kesehatan Lingkungan dan Transformasi Urban di Tallo

MAKASSAR – Tantangan kesehatan masyarakat di era modern tidak lagi hanya berkutat pada persoalan klinis, melainkan telah bergeser ke arah kompleksitas lingkungan dan ekosistem perkotaan. Di tengah dinamika ini, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) bangga memperkenalkan salah satu akademisi mudanya yang progresif, Basir, S.K.M, M.Sc. Ia adalah sosok ilmuwan yang mendedikasikan pemikirannya untuk membedah keterkaitan antara kualitas lingkungan dengan kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang sering terpinggirkan. Fokus pada Kesehatan Lingkungan dan Realitas Urban Basir membawa perspektif baru dalam memandang isu kesehatan lingkungan. Baginya, kesehatan lingkungan bukan sekadar angka-angka di laboratorium, melainkan sebuah realitas sosial yang harus dihadapi langsung di lapangan. Salah satu fokus utama penelitian dan advokasi yang ia lakukan saat ini tertuju pada kawasan Tallo, Makassar. Tallo merupakan salah satu wilayah historis yang kini menghadapi tantangan kesehatan urban yang sangat kompleks. Menurut Basir, problem kesehatan di kawasan seperti Tallo tidak bisa dipahami secara parsial atau sektoral saja. Fenomena penumpukan limbah, sanitasi yang buruk, hingga kerentanan sosial seperti kriminalitas dan narkoba, semuanya saling bertaut dalam satu ekosistem yang ia sebut sebagai “ekosistem kerentanan”. “Isu lingkungan di wilayah urban bukan hanya soal sampah, tapi soal bagaimana manusia berinteraksi dengan ruangnya. Ketika ruang tersebut tidak lagi sehat secara fisik, maka aspek sosial dan psikologis masyarakatnya pun ikut terancam,” ujar Basir dalam sebuah kesempatan diskusi. Menembus Batas Akademik: Turun ke Lapangan Sebagai seorang akademisi muda FKM Unhas, Basir memilih gaya pendekatan yang inklusif. Ia meyakini bahwa keberpihakan seorang ilmuwan dimulai dengan hadir dan mendengar suara masyarakat. Baginya, data yang paling valid ditemukan di sela-sela permukiman padat, di mana warga berjuang setiap hari dengan kondisi lingkungan yang kurang ideal. Ia menyoroti secara khusus kondisi di RW 5 kawasan Tallo, belakang SMK 5 Makassar. Wilayah ini menjadi salah satu potret nyata betapa mendesaknya intervensi kesehatan lingkungan. Basir tidak ragu untuk meninggalkan kenyamanan ruang akademik demi menyusuri gang-gang sempit dan berinteraksi langsung dengan warga untuk memahami akar permasalahan kesehatan yang mereka hadapi. Pendekatan ini sangat relevan dengan visi FKM Unhas untuk melahirkan tenaga ahli yang tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga peka terhadap kebutuhan riil masyarakat (community-based approach). Kontribusi pada Tata Kelola Lingkungan Nasional Selain fokus pada isu urban di Makassar, kepakaran Basir juga mencakup penguatan tata kelola lingkungan di wilayah-wilayah rentan lainnya di Indonesia, termasuk daerah yang terdampak oleh aktivitas pertambangan rakyat. Aktivitas tambang seringkali menyisakan residu logam berat dan kerusakan ekosistem yang berdampak jangka panjang bagi kesehatan penduduk lokal. Melalui riset-risetnya, Basir berupaya mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Ia berharap model tata kelola yang ia kembangkan dapat diaplikasikan untuk memitigasi risiko kesehatan di wilayah-wilayah dengan aktivitas industri tinggi, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak harus dibayar mahal dengan rusaknya kesehatan publik. Sinergi dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Kiprah Basir di FKM Unhas merupakan manifestasi nyata dari komitmen universitas dalam mendukung agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Fokus kerjanya bersentuhan langsung dengan beberapa poin krusial dalam SDGs: Keterkaitan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh akademisi FKM Unhas bukan sekadar kewajiban profesional, melainkan bagian dari gerakan global untuk menyelamatkan planet dan manusia. Harapan Masa Depan bagi FKM Unhas Kehadiran akademisi muda seperti Basir memberikan napas segar bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya di Universitas Hasanuddin. Ia membuktikan bahwa ilmu kesehatan masyarakat adalah jembatan antara kebijakan pemerintah dengan realitas di akar rumput. FKM Unhas terus berkomitmen untuk mendukung riset-riset inovatif yang dilakukan oleh para dosen mudanya. Harapannya, hasil kajian dari tokoh seperti Basir dapat menjadi rujukan bagi Pemerintah Kota Makassar maupun pemerintah pusat dalam merancang kebijakan pembangunan yang berbasis kesehatan lingkungan. Kesehatan lingkungan adalah investasi masa depan. Dengan lingkungan yang sehat, kita tidak hanya memperpanjang usia harapan hidup, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang agar lebih produktif dan sejahtera.