5°07'40.9"S 119°29'11.0"E

fkm@unhas.ac.id

Transformasi Jakarta Barat Menuju Kota Sehat Berbasis Sains: Perspektif Global dan Strategi Lokal

JAKARTA – Di tengah laju urbanisasi yang kian tak terbendung, tantangan dalam mengelola wilayah perkotaan bukan lagi sekadar membangun infrastruktur fisik yang megah. Kini, fokus utama bergeser pada bagaimana menciptakan lingkungan yang menunjang kualitas hidup dan kesehatan masyarakatnya. Hal inilah yang menjadi poin utama dalam Forum Musrenbang Kota Administrasi Jakarta Barat yang digelar baru-baru ini, di mana perspektif sains menjadi kompas utama dalam transformasi menuju “Kota Sehat”.

Dalam forum strategis tersebut, Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH, Ph.D, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin, memberikan paparan mendalam mengenai urgensi pendekatan berbasis sains dalam kebijakan publik. Menurutnya, masa depan sebuah kota tidak lagi diukur dari tingginya gedung pencakar langit, melainkan dari seberapa sehat warga yang mendiaminya.

Paradoks Urbanisasi: Kemajuan vs Ancaman Kesehatan

Dunia saat ini sedang mengalami pergeseran demografis yang masif. Data menunjukkan bahwa sekitar 4,4 miliar manusia kini menetap di wilayah perkotaan. Angka ini diprediksi akan terus melonjak hingga mencapai 68 persen dari total populasi dunia pada tahun 2050. Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, tersimpan paradoks yang memprihatinkan.

Prof. Sukri mengungkapkan bahwa sekitar 1,1 miliar orang di dunia masih hidup di kawasan kumuh dengan sanitasi yang buruk. Lebih tragis lagi, polusi udara di wilayah urban menjadi penyebab sekitar 8,1 juta kematian setiap tahunnya. Krisis ini merupakan “beban ganda” (double burden) bagi negara berkembang seperti Indonesia, di mana penyakit menular seperti TBC dan demam berdarah masih menjadi ancaman, sementara penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, jantung, dan stroke terus meningkat akibat gaya hidup urban yang tidak sehat.

Jakarta Barat dalam Angka dan Realitas Lapangan

Jakarta Barat, sebagai salah satu penyangga utama ibu kota, memiliki kompleksitas yang luar biasa. Dengan populasi mencapai 2,49 juta jiwa dan tingkat kepadatan penduduk yang menembus angka 19.200 jiwa per kilometer persegi, Jakarta Barat adalah salah satu wilayah terpadat di dunia.

Tingginya kepadatan ini membawa implikasi langsung terhadap kesehatan masyarakat. Prof. Sukri menekankan bahwa determinan sosial—seperti kualitas perumahan, akses air bersih, pengelolaan sampah, hingga ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)—memainkan peran yang jauh lebih besar dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat dibandingkan dengan layanan medis itu sendiri.

“Kesehatan bukan hanya soal apa yang terjadi di dalam rumah sakit, tetapi lebih banyak ditentukan oleh lingkungan di mana masyarakat lahir, tumbuh, bekerja, dan menua,” ujar Prof. Sukri dalam forum tersebut.

Strategi Transformasi: Pendekatan Sains dan Kebijakan Berbasis Data

Untuk menghadapi tantangan ini, Jakarta Barat diarahkan untuk melakukan transformasi menjadi kota modern yang berbasis sains. Pendekatan ini melibatkan beberapa pilar utama:

  1. Penguatan Open Defecation Free (ODF): Upaya memastikan seluruh lapisan masyarakat memiliki akses terhadap sanitasi yang layak adalah langkah dasar yang tidak bisa ditawar. Sanitasi yang buruk adalah akar dari berbagai masalah penyakit menular.
  2. Revitalisasi Ruang Terbuka Hijau: RTH bukan hanya sekadar estetika kota, melainkan paru-paru kota yang berfungsi menyerap polutan dan menyediakan ruang bagi warga untuk beraktivitas fisik serta menjaga kesehatan mental.
  3. Integrasi Kebijakan Lintas Sektoral: Masalah kesehatan tidak bisa diselesaikan oleh sektor kesehatan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi antara dinas pekerjaan umum, perumahan, lingkungan hidup, dan transportasi untuk menciptakan ekosistem kota yang sehat.
  4. Pemanfaatan Data untuk Intervensi: Sains memungkinkan pemerintah memetakan wilayah-wilayah yang memiliki risiko kesehatan tinggi sehingga intervensi dapat dilakukan secara tepat sasaran dan efisien.

Kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Transformasi Jakarta Barat menjadi kota sehat berbasis sains ini sejalan dengan komitmen global dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Upaya ini secara langsung mendukung SDG Goal 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dengan fokus pada penurunan angka kematian akibat polusi dan penyakit tidak menular.

Selain itu, inisiatif ini sangat erat kaitannya dengan SDG Goal 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. Dengan memperbaiki sistem sanitasi, memperluas RTH, dan meningkatkan kualitas hidup di kawasan padat penduduk, Jakarta Barat sedang berupaya membangun kota yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Pendekatan sains yang ditekankan oleh Prof. Sukri memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil memiliki dasar empiris yang kuat, sehingga mendukung tercapainya target-target pembangunan global tanpa meninggalkan satu orang pun (leave no one behind).

Peran Akademisi dan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Keterlibatan pakar dari FKM Unhas dalam Musrenbang Jakarta Barat menunjukkan betapa pentingnya sinergi antara dunia akademis dan praktisi kebijakan. Peran perguruan tinggi adalah memberikan landasan teori dan riset (sains) agar kebijakan yang diambil pemerintah daerah memiliki dampak yang nyata dan terukur.

FKM Unhas terus berkomitmen untuk memberikan kontribusi pemikiran dalam skala nasional, membuktikan bahwa riset-riset kesehatan masyarakat sangat relevan dalam menjawab tantangan urbanisasi di kota-kota besar seperti Jakarta.

Menuju Masa Depan Kota Sehat

Menutup paparannya, Prof. Sukri menegaskan bahwa transformasi ini memerlukan konsistensi dan keberanian untuk mengubah pola lama pembangunan. Kota sehat bukan hanya sebuah predikat atau penghargaan, melainkan sebuah proses berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap warganya mencapai potensi kesehatan yang setinggi-tingginya.

Jakarta Barat kini berada di persimpangan jalan sejarah. Dengan mengadopsi pendekatan berbasis sains dan berkomitmen pada tujuan pembangunan berkelanjutan, kota ini memiliki peluang besar untuk menjadi model bagi kota-kota lain di Indonesia dalam mewujudkan kota modern yang benar-benar berpihak pada kesejahteraan manusianya.

Kabar Terkini

tentang kami

FKM UNHAS

Jln. Perintis Kemerdekaan Km. 10.
Kampus Unhas Tamalanrea Makassar 90245
Sulawesi Selatan, Indonesia