MAKASSAR – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menancapkan taringnya di kancah internasional dengan menyelenggarakan The 3rd International Conference on Nutrition and Public Health (ICNPH). Perhelatan akbar yang berlangsung pada 8-9 April 2026 di Unhas Hotel and Convention ini menjadi pusat gravitasi bagi para pakar gizi, praktisi kesehatan, dan akademisi dunia untuk mendiskusikan masa depan kesehatan masyarakat yang lebih berkelanjutan.
Dengan mengangkat tema sentral “Unpacking the Triple Burden of Malnutrition: Holistic Approaches to Nutrition Challenges”, konferensi ini menyoroti fenomena “beban tiga kali lipat” masalah gizi yang tengah melanda berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Masalah tersebut meliputi kekurangan gizi (stunting dan wasting), kekurangan zat gizi mikro, serta kelebihan berat badan atau obesitas yang seringkali terjadi secara simultan dalam satu komunitas bahkan satu rumah tangga.
Eksplorasi Mikrobiota Usus: Kunci Baru Kesehatan Modern
Salah satu sesi yang paling mencuri perhatian adalah pembahasan mengenai peran krusial kesehatan usus terhadap kualitas hidup manusia. Dalam paparan materinya, Prof. Andrew Holmes menekankan bahwa ekosistem bakteri dalam perut (mikrobiota) adalah fondasi utama metabolisme.
“Kita tidak hanya makan untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk triliunan mikroba di dalam tubuh kita. Menjaga keseimbangan ekosistem usus adalah kunci untuk memastikan proses metabolisme berjalan sempurna dan mencegah berbagai penyakit degeneratif,” ungkapnya di hadapan ratusan peserta.
Diskusi ini membuka cakrawala baru bahwa intervensi gizi tidak hanya soal asupan makanan secara kuantitas, tetapi juga bagaimana makanan tersebut berinteraksi dengan genetika dan mikrobioma tubuh untuk menciptakan ketahanan kesehatan yang optimal.
Menghadapi Krisis Iklim dan Ketahanan Pangan
Tak hanya bicara soal metabolisme internal, ICNPH ke-3 ini juga memperluas cakupan diskusinya ke ranah eksternal: perubahan iklim. Para ahli dalam konferensi ini sepakat bahwa krisis iklim memiliki dampak langsung terhadap pola konsumsi dan ketersediaan pangan bergizi.
Perubahan cuaca yang ekstrem memengaruhi siklus tanam dan kualitas nutrisi pada hasil pertanian. Oleh karena itu, strategi kesehatan masyarakat masa depan harus mampu mengintegrasikan pendekatan kesehatan lingkungan dengan kebijakan gizi. Kolaborasi lintas sektor menjadi harga mati untuk memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap pangan fungsional di tengah kondisi bumi yang kian dinamis.
Program Makan Bergizi Gratis: Menuju Indonesia Emas 2045
Pada hari kedua, perhatian peserta tertuju pada implementasi program strategis nasional Indonesia, yakni Program Makan Bergizi Gratis. Para akademisi dari FKM Unhas bersama pakar internasional membedah bagaimana program ini dapat menjadi katalisator dalam menurunkan angka stunting secara drastis sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Program ini dinilai sebagai langkah nyata dalam intervensi gizi spesifik dan sensitif yang memerlukan pengawalan ketat dari sisi sains agar distribusinya tepat sasaran dan kandungan gizinya memenuhi standar kesehatan global.
Kontribusi Nyata Terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)
Penyelenggaraan ICNPH ke-3 oleh FKM Unhas ini merupakan wujud nyata komitmen universitas dalam mendukung agenda global Sustainable Development Goals (SDGs). Secara khusus, konferensi ini berkontribusi langsung pada SDG 2 (Zero Hunger) melalui upaya mengatasi malnutrisi dan mencapai ketahanan pangan, serta SDG 3 (Good Health and Well-being) dengan merumuskan strategi pencegahan penyakit melalui pendekatan gizi holistik.
Selain itu, dengan melibatkan berbagai pakar dari institusi ternama seperti UNICEF dan berbagai universitas mancanegara, kegiatan ini memperkuat SDG 17 (Partnerships for the Goals). Melalui kolaborasi riset dan pertukaran pengetahuan antarnegara, diharapkan tercipta solusi inovatif yang dapat diterapkan secara lokal maupun global untuk mengakhiri segala bentuk kelaparan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh dunia.
Harapan bagi Masa Depan Gizi Masyarakat
Ketua Panitia ICNPH 3, Dr. Rahayu Indriasari, SKM., MPH., CN., Ph.D., mengungkapkan rasa bangganya atas antusiasme peserta yang datang dari berbagai belahan dunia. Beliau berharap hasil dari konferensi ini tidak hanya berhenti di meja diskusi, tetapi bertransformasi menjadi kebijakan yang aplikatif.
“ICNPH bukan sekadar forum akademik. Ini adalah panggilan aksi bagi kita semua untuk melihat masalah gizi secara lebih luas, mulai dari tingkat molekuler di dalam usus hingga kebijakan sistem pangan global,” ujarnya.
Dengan suksesnya acara ini, FKM Unhas kembali membuktikan perannya sebagai institusi pendidikan yang progresif dan tanggap terhadap isu-isu kesehatan global, sekaligus memperkuat posisi Makassar sebagai kota destinasi konferensi internasional yang bergengsi.