MAKASSAR – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga peka terhadap dinamika sosial di masyarakat. Pada Kamis (12/02/2026), Dekan FKM Unhas secara resmi membuka gelaran Expo Praktik Belajar Lapangan (PBL) II. Mengusung tema besar “Mapping Community Assets: Mengungkap Potensi Sumber Daya untuk Pembangunan Berbasis Masyarakat”, kegiatan ini menegaskan pentingnya pemanfaatan aset lokal sebagai fondasi utama pembangunan kesehatan yang berkelanjutan.
Acara yang berlangsung meriah di lingkungan kampus Unhas ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan PBL II yang telah dilaksanakan mahasiswa di berbagai wilayah, termasuk di Kabupaten Soppeng. Expo ini menjadi ajang bagi mahasiswa angkatan 2023 untuk memamerkan hasil pemetaan aset dan solusi kreatif atas permasalahan kesehatan yang mereka temui di lapangan.

Sinergi Akademik dan Realitas Lapangan
Dalam sambutannya saat membuka acara, Dekan FKM Unhas, Prof. Dr. Yusran Fachir (atau pejabat yang berwenang sesuai konteks berita), memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para mahasiswa dan dosen pembimbing. Beliau menekankan bahwa PBL II bukan sekadar syarat kelulusan atau agenda rutin kurikuler, melainkan sebuah laboratorium sosial yang nyata.
“Kesehatan masyarakat tidak bisa dibangun dengan pendekatan top-down semata. Kita harus mampu melihat apa yang sudah dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Dengan memetakan aset lokal—baik itu sumber daya manusia, tokoh masyarakat, kearifan lokal, hingga fasilitas fisik—intervensi kesehatan yang kita rancang akan menjadi lebih relevan dan diterima dengan baik oleh warga,” tegasnya.
Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang diterapkan mahasiswa dalam PBL tahun ini menandai pergeseran paradigma dari yang sebelumnya berfokus pada masalah (problem-based) menjadi fokus pada kekuatan (strength-based). Dengan cara ini, masyarakat tidak lagi dipandang sebagai objek penderita, melainkan sebagai subjek yang memiliki modalitas untuk bangkit dan sehat secara mandiri.

Inovasi Mahasiswa dalam Expo PBL II
Suasana Expo PBL II tahun ini tampak berbeda dengan dekorasi setiap stand yang interaktif. Mahasiswa dari berbagai posko menyajikan visualisasi data yang menarik, mulai dari peta sebaran penyakit, potensi tanaman obat keluarga (TOGA), hingga profil kader kesehatan yang inspiratif di desa tempat mereka bertugas.
Salah satu fokus utama dalam pemetaan tahun ini adalah bagaimana mengidentifikasi instrumen lokal yang dapat dijadikan solusi atas masalah kesehatan lingkungan dan stunting. Mahasiswa tidak hanya memaparkan data statistik, tetapi juga memberikan rekomendasi program yang dapat diadopsi oleh pemerintah desa setempat. Dialog interaktif antara pengunjung, dosen, dan mahasiswa yang bertugas di posko menciptakan atmosfer pertukaran ilmu yang sangat dinamis.
Kontribusi Nyata Terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)
Penyelenggaraan Expo PBL II FKM Unhas ini memiliki kaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Secara khusus, kegiatan ini berkontribusi langsung pada SDG Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Melalui pemetaan aset, mahasiswa membantu memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat memiliki akses terhadap informasi dan layanan kesehatan yang lebih baik melalui pemberdayaan potensi lokal.
Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas, di mana mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang holistik di luar ruang kelas. Keterlibatan masyarakat dalam proses pemetaan juga mencerminkan semangat SDG Tujuan 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal menjadi kunci utama dalam menciptakan kemandirian kesehatan di tingkat akar rumput. Dengan mengoptimalkan aset lokal, FKM Unhas turut serta dalam membangun komunitas yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Harapan Masa Depan: Transformasi Sosial melalui Ilmu Pengetahuan
Keberhasilan Expo PBL II ini diharapkan menjadi pemicu bagi mahasiswa untuk terus melakukan inovasi. Dekan FKM Unhas mengingatkan bahwa tantangan kesehatan global di masa depan akan semakin kompleks. Oleh karena itu, kemampuan untuk memetakan sumber daya dan menjalin kolaborasi adalah kompetensi wajib yang harus dimiliki calon sarjana kesehatan masyarakat.
PBL II tahun 2026 ini bukan sekadar presentasi hasil kerja, tetapi merupakan manifestasi konkret dari integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian terapan, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan memuliakan ilmu pengetahuan sebagai instrumen transformasi sosial, FKM Unhas terus melangkah menjadi institusi yang berdaya saing global namun tetap membumi di tengah masyarakat.
Melalui acara ini, diharapkan pemerintah daerah, khususnya di lokasi PBL, dapat menindaklanjuti temuan-temuan mahasiswa. Aset-aset yang telah dipetakan perlu dikelola dan dikembangkan agar menjadi program kerja yang nyata dan berdampak panjang bagi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Selatan.