5°07'40.9"S 119°29'11.0"E

fkm@unhas.ac.id

Mewujudkan Visi Kampus Sehat Global: Forma Kesmas FKM Unhas Gagas Diskusi Krusial “Optimalisasi Kebijakan Kampus Tanpa Rokok”

Kuliah Tamu Intenasional

Makassar – Komitmen untuk menciptakan lingkungan akademik yang sehat, bersih, dan bebas dari polusi asap rokok terus digaungkan di lingkungan Universitas Hasanuddin (Unhas). Sebagai inisiator terdepan, Forum Mahasiswa Kesehatan Masyarakat (Forma Kesmas) FKM Unhas sukses menggelar Diskusi Publik yang sangat relevan dan mendesak. Acara bertajuk “Optimalisasi Kebijakan: Membangun Kampus Sehat Tanpa Rokok” ini dilaksanakan pada Rabu, 12 November 2025, bertempat di Ruang Prof. Dr. Nasry Noor, MPH, FKM Unhas. Diskusi ini menjadi platform krusial untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan merumuskan langkah konkret untuk implementasi yang lebih baik. Antusiasme terhadap isu Kampus Sehat Tanpa Rokok ini terlihat dari tingginya partisipasi. Sebanyak 25 peserta hadir secara luring, didampingi 45 peserta yang bergabung melalui platform Zoom, dan menarik perhatian hingga 184 penonton yang menyaksikan melalui siaran langsung di TikTok. Kehadiran perwakilan dari berbagai lembaga mahasiswa, seperti BEM dan MAPERWA, serta jajaran pimpinan fakultas dan universitas menunjukkan bahwa isu KTR adalah tanggung jawab kolektif seluruh sivitas akademika Unhas. Dukungan Penuh Pimpinan: Kampus Sehat Bukan Sekadar Slogan Acara dibuka oleh Ketua Forma Kesmas yang dengan tegas menyatakan bahwa diskusi publik ini bukan hanya forum basa-basi, tetapi merupakan bentuk nyata komitmen mahasiswa untuk terus mengawal penegakan kebijakan KTR di lingkungan kampus. Sentimen ini disambut baik oleh perwakilan MAPERWA, yang menyebut bahwa isu rokok adalah tanggung jawab moral seluruh sivitas akademika, bukan hanya tugas lembaga atau Satuan Tugas tertentu. Dukungan kuat juga datang dari jajaran pimpinan FKM Unhas. Dekan FKM Unhas dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi mahasiswa dalam mendorong penerapan KTR, yang telah dimulai sejak dua dekade silam. Beliau menekankan bahwa:“Kampus sehat bukan sekadar slogan, tapi budaya yang harus kita jaga. Tidak ada kompromi untuk pelanggaran KTR,” ujar Dekan. Beliau juga secara spesifik menyoroti pentingnya keberanian untuk saling menegur jika melihat pelanggaran, sebuah tindakan yang menegaskan bahwa setiap individu di lingkungan akademik memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kawasan bebas asap rokok. Dukungan serupa juga diperkuat oleh pihak universitas, diwakili oleh Wakil Rektor II. Beliau menjamin bahwa komitmen Rektorat terhadap visi kampus sehat akan terus diperkuat, meskipun beliau mengakui adanya tantangan di lapangan. Unhas sebagai kampus terbuka menghadapi kesulitan dalam pengawasan. Oleh karena itu, langkah strategis yang akan diambil oleh Rektorat meliputi: Temuan Survei dan Rekomendasi Aksi Nyata Sesi inti diskusi menghadirkan presentasi menarik dari April, perwakilan Forma Kesmas, yang memaparkan hasil survei internal mengenai efektivitas implementasi KTR di Unhas. Data survei tersebut menjadi dasar argumentasi perlunya reformasi kebijakan. Hasilnya menunjukkan angka yang mengkhawatirkan: 70,2% mahasiswa menilai penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Unhas belum berjalan efektif. Penyebab utama ketidakefektifan ini diidentifikasi sebagai kurangnya pengawasan yang konsisten dan rendahnya tingkat kesadaran dari sebagian besar sivitas akademika. Berdasarkan temuan survei tersebut, Forma Kesmas merekomendasikan tiga langkah strategis utama: Perspektif Pakar: Kolaborasi Lintas Sektoral dan Isu Sosial-Ekonomi Diskusi semakin mendalam dengan pandangan dari para pakar, Dr. Mugi dan Prof. Ridwan. Kedua akademisi ini menyoroti bahwa masalah rokok di lingkungan kampus tidak hanya bisa diselesaikan melalui regulasi, tetapi harus melibatkan kolaborasi seluruh sivitas akademika, bahkan lintas sektor. Dr. Mugi menegaskan bahwa rokok bukan semata masalah pilihan individu, melainkan persoalan sosial, kesehatan, dan bahkan ekonomi yang berdampak luas. Kebijakan KTR adalah bagian dari upaya perlindungan kesehatan publik, khususnya bagi perokok pasif yang memiliki hak untuk menghirup udara bersih. Sementara itu, Prof. Ridwan menekankan perlunya langkah konkret dan simbolis untuk meningkatkan awareness. Beliau mengusulkan adanya deklarasi resmi “Unhas Tanpa Asap Rokok” yang ditandatangani oleh seluruh pimpinan dan perwakilan mahasiswa. Selain itu, beliau juga mendesak percepatan pembentukan Satgas khusus yang memiliki wewenang penuh untuk menindak pelanggaran. Diskusi ini menyimpulkan bahwa perubahan menuju kampus sehat harus dimulai dari kesadaran bersama dan diikuti dengan konsistensi dalam penegakan aturan. KTR dan Komitmen FKM Unhas Terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Diskusi publik ini secara langsung menegaskan peran aktif FKM Unhas dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik). Upaya mewujudkan Kampus Sehat Tanpa Rokok adalah langkah nyata yang berkontribusi pada target SDG 3.4, yaitu mengurangi kematian dini akibat penyakit tidak menular (seperti penyakit jantung dan kanker yang dipicu rokok) dan meningkatkan kesehatan mental. Dengan mempromosikan lingkungan bebas asap rokok, FKM Unhas tidak hanya melindungi kesehatan fisik sivitas akademika dari bahaya rokok dan asap sekunder, tetapi juga menciptakan suasana akademik yang mendukung kesehatan mental dan produktivitas. Lingkungan yang bebas polusi asap adalah hak fundamental, dan penegakan KTR merupakan cerminan komitmen institusi terhadap hak tersebut. Selain itu, inisiatif mahasiswa ini juga sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), karena lingkungan yang sehat adalah prasyarat untuk proses belajar mengajar yang optimal. Kegiatan diskusi ini sendiri merupakan implementasi dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yang melibatkan kolaborasi efektif antara mahasiswa, fakultas, dan rektorat. Penutup: Menumbuhkan Budaya Peduli dan Konsistensi Penegakan Sebagai penutup, kegiatan ini berhasil mengirimkan pesan kuat: membangun kampus sehat tanpa rokok adalah lebih dari sekadar membuat larangan. Ini adalah upaya jangka panjang untuk menumbuhkan kesadaran dan budaya peduli terhadap hak setiap orang untuk mendapatkan kualitas udara yang bersih. Dengan adanya dukungan eksplisit dari Dekan FKM Unhas dan Wakil Rektor II Unhas, serta rekomendasi berbasis data dari mahasiswa, cita-cita mewujudkan Kampus Sehat Unhas diyakini dapat tercapai secara nyata. Kunci suksesnya terletak pada konsistensi penegakan aturan dan peran aktif seluruh sivitas akademika dalam menjaga kawasan tanpa asap rokok ini sebagai budaya bersama yang tak terkompromi. Aksi Forma Kesmas ini telah menjadi contoh inspiratif tentang bagaimana inisiatif mahasiswa dapat menjadi motor penggerak perubahan kebijakan yang berdampak luas pada kesehatan publik.

FKM Unhas Genap 43 Tahun: Memperkuat Riset Global dan Pengabdian Komunitas, Mendukung Indonesia Emas 2045

Puncak Dies FKM

Makassar – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) telah membuktikan eksistensinya sebagai salah satu pilar utama dalam pengembangan ilmu kesehatan masyarakat di Indonesia. Tepat pada Sabtu, 15 November 2025, FKM Unhas sukses menggelar Puncak Dies Natalis ke-43 yang berlangsung meriah di kompleks FKM Unhas. Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah penegasan kembali atas komitmen FKM Unhas dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Mengusung semangat “Satu Keluarga, Satu Tujuan: FKM Unhas Maju”, perayaan ini menjadi penutup rangkaian kegiatan akademik dan non-akademik yang telah melibatkan seluruh sivitas akademika, alumni, serta mitra FKM Unhas. Dies Natalis ke-43 FKM Unhas ini menarik perhatian publik, termasuk para pengambil kebijakan di tingkat nasional dan regional. Kehadiran tokoh-tokoh penting menjadi indikasi kuat atas peran strategis FKM Unhas dalam pembangunan kesehatan. Rangkaian acara yang padat dan terstruktur telah dirancang untuk memberikan dampak nyata dan nilai tambah, baik bagi internal fakultas maupun masyarakat luas. Penguatan Kapasitas Global melalui Seminar dan Konferensi Jauh sebelum acara puncak, FKM Unhas telah menjalankan agenda utama yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan networking internasional. Salah satu kegiatan unggulan adalah Kuliah Tamu Internasional yang mendatangkan pembicara dari berbagai universitas terkemuka dunia. Kehadiran pakar-pakar internasional ini tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa dan dosen tentang isu-isu kesehatan masyarakat global yang bervariasi, tetapi juga memicu kolaborasi riset lintas negara. Selain itu, pelatihan intensif mengenai pengolahan data juga diselenggarakan untuk memastikan sivitas akademika FKM Unhas mampu menguasai metodologi penelitian terkini. Titik fokus akademik lainnya adalah suksesnya penyelenggaraan “The 2nd International Conference on Safety and Public Health”. Konferensi internasional ini mengusung tema relevan: “Global Research and Innovation For Safety and Public Health”. Acara ini berfungsi sebagai platform penting bagi peneliti, akademisi, dan praktisi untuk berbagi temuan dan inovasi terbaru di bidang keselamatan dan kesehatan masyarakat. Konferensi ini diperkuat dengan kehadiran keynote speaker ternama, yaitu Dr. Benyamin P. Oktovianus, Sp.P, FISR, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dan Muhammad Idham, M.KKK, Direktur Bina Kelembagaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan. Partisipasi pejabat tinggi negara menunjukkan dukungan pemerintah terhadap inisiatif riset FKM Unhas yang berdampak pada kebijakan publik. Kontribusi Nyata: Pengabdian Masyarakat Terpadu di Takalar Dies Natalis ke-43 ini juga disikapi oleh FKM Unhas sebagai momentum untuk mempertegas komitmen pengabdian kepada masyarakat. Program Pengabdian Masyarakat Terpadu dilaksanakan secara masif di Kabupaten Takalar, tepatnya di Kecamatan Palantikang dan Kecamatan Laikang. Uniknya, kegiatan ini melibatkan kontribusi dari seluruh departemen di FKM Unhas, memastikan intervensi yang diberikan bersifat holistik dan sesuai dengan keahlian spesifik masing-masing departemen. Secara total, terdapat 19 kegiatan yang tersebar di 10 titik lokasi di Kecamatan Laikang. Bentuk kegiatannya sangat beragam, mulai dari edukasi kesehatan preventif, pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga setempat, hingga pembagian paket sembako untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini bukan hanya sekadar bakti sosial, tetapi juga merupakan implementasi langsung dari hasil-hasil riset FKM Unhas, memastikan ilmu pengetahuan yang dikembangkan memiliki dampak praktis di tingkat akar rumput. Acara Puncak: Peresmian Aula dan Penghargaan Prestasi Puncak perayaan Dies Natalis ke-43 berlangsung semarak sejak pagi hari. Rangkaian kegiatan dimulai dengan kegiatan yang mempromosikan gaya hidup sehat, yaitu Fun Run 5K yang dilepas secara resmi oleh Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., MSc.PH.,Ph.D. Kegiatan dilanjutkan dengan senam bersama dan flashmob yang melibatkan seluruh peserta, memperkuat semangat kebersamaan. Momen paling bersejarah pada acara puncak adalah Peresmian Aula Prof. dr. H. Sirajuddin Beku, SKM. Peresmian ini dilakukan langsung oleh Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. Kehadiran Rektor Unhas dan antusiasmenya terhadap rangkaian Dies Natalis ini menunjukkan dukungan penuh universitas terhadap pengembangan infrastruktur dan kualitas FKM Unhas. Acara puncak secara resmi dibuka oleh Rektor Unhas setelah serangkaian acara protokoler seperti pemutaran video ucapan, pembacaan ayat suci Al-Quran, dan laporan dari ketua panitia. Sambutan hangat juga disampaikan oleh Ketua IKA FKM, Dr. Azri Rasul, M.Si., MH dan Ketua IKA Unhas, menegaskan peran penting alumni sebagai mitra strategis fakultas. Salah satu sesi yang paling dinanti adalah Penganugerahan FKM Award. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa yang telah menunjukkan prestasi luar biasa dalam bidang akademik, penelitian, dan pengabdian. Selain itu, diberikan pula penghargaan khusus kepada tenaga kependidikan purnabakti dan almarhumah Dr. Sri Handayani, SKM., M.Kes. atas dedikasi mereka. Peluncuran Inovasi dan Dukungan Pemimpin Daerah Dies Natalis ke-43 juga menjadi momen peluncuran beberapa produk inovatif dan strategis FKM Unhas, antara lain: Dukungan terhadap FKM Unhas juga datang dari pemerintah daerah. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, S.H., MH, turut hadir dan menyampaikan sambutannya. Beliau mengucapkan selamat atas usia ke-43 FKM Unhas yang dinilainya sebagai usia matang dan produktif. Wali Kota secara khusus menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang siap menghadapi tantangan kesehatan masa depan. Beliau juga menegaskan dukungan penuh Pemerintah Kota Makassar agar FKM Unhas terus berinovasi dan memberikan dampak positif bagi kemajuan masyarakat Makassar dan Indonesia secara umum. FKM Unhas dan Keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perayaan Dies Natalis ke-43 ini bukanlah sekadar pesta, melainkan sebuah ajang refleksi mendalam mengenai peran krusial FKM Unhas dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) atau Sustainable Development Goals. Sebagai institusi yang berfokus pada kesehatan masyarakat, FKM Unhas secara eksplisit berkomitmen untuk berkontribusi pada pencapaian SDGs, terutama Tujuan 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik). FKM Unhas mengimplementasikan Tujuan 3 melalui berbagai inisiatif: Lebih dari itu, pelaksanaan konferensi internasional, kuliah tamu, dan kolaborasi dengan instansi pemerintah (Kemenkes dan Kemenaker) merupakan wujud nyata komitmen FKM Unhas terhadap Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Dengan memperkuat kemitraan di tingkat lokal, nasional, dan global, FKM Unhas berupaya meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya kesehatan masyarakat, yang pada akhirnya akan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Penutup: Semangat Kebersamaan dan Visi Masa Depan Dies Natalis ke-43 ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antara dosen, tenaga pendidik, mahasiswa, dan alumni. Kegiatan lomba-lomba yang meliputi penalaran, keagamaan, olahraga, dan seni telah sukses membangun semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Acara diakhiri dengan pengumuman pemenang lomba, pembagian doorprize, hiburan musik, dan sesi foto bersama. Semua rangkaian acara ini menegaskan bahwa kegiatan Dies Natalis tahunan FKM Unhas akan terus menjadi ajang untuk berbagi inspirasi dan menyamakan visi. Dengan semangat

Menggagas Solusi Lintas Spesies: FKM Unhas Ajak University of Amsterdam Bedah Krisis Iklim dan Keadilan Ekologis dalam Kuliah Tamu Internasional

Public Health in a Climate-Changing World

Menggagas Solusi Lintas Spesies: FKM Unhas Ajak University of Amsterdam Bedah Krisis Iklim dan Keadilan Ekologis dalam Kuliah Tamu Internasional Makassar – Dalam rangka memeriahkan Dies Natalis ke-43, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkuat reputasi internasionalnya dengan menggelar Kuliah Tamu Internasional yang sangat strategis. Acara ini diselenggarakan pada Senin, 10 November 2025, dengan mengusung tema kritis: “Public Health in a Climate-Changing World: Rethinking Risk Across Species and Scales”. FKM Unhas berhasil menghadirkan narasumber utama berkelas dunia, yaitu Prof. dr. E.M. (Eileen) Moyer dari Department of Anthropology, University of Amsterdam, The Netherlands. Prof. Moyer dikenal luas sebagai seorang antropolog medis dan lingkungan terkemuka yang memiliki keahlian mendalam dalam mengkaji hubungan kompleks antara kesehatan, ekologi, dan keadilan sosial di tengah krisis iklim yang terus memburuk. Kehadiran beliau menjadi magnet bagi seluruh sivitas akademika dan menegaskan komitmen FKM Unhas dalam membuka wawasan global. Dukungan Pimpinan dan Komitmen Penguatan Jejaring Ilmiah Acara dibuka secara resmi oleh pimpinan FKM Unhas, Prof. Dr. Atjo Wahyu, S.KM., M.Kes. dan Prof. Anwar Mallongi, S.KM., M.Sc.PH., Ph.D. Dalam sambutan mereka, kedua profesor ini menegaskan bahwa tantangan kesehatan masyarakat saat ini, terutama yang dipicu oleh perubahan iklim, tidak dapat dijawab hanya dengan pendekatan medis tradisional. Dibutuhkan kolaborasi lintas disiplin ilmu—melibatkan antropologi, ekologi, sosiologi, hingga kebijakan—untuk merumuskan solusi yang holistik dan berkelanjutan. Dukungan kuat juga datang dari Dian Sidik Arsyad, S.KM., M.KM., Ph.D., Ketua Departemen Epidemiologi FKM Unhas yang juga merupakan alumni Belanda. Ia menyampaikan bahwa forum akademik internasional ini merupakan momentum emas bagi FKM Unhas untuk memperkuat jejaring ilmiah dengan berbagai universitas di Eropa dan memperluas cakupan kolaborasi riset global. Hal ini sejalan dengan visi Unhas untuk mencapai IKU (Indikator Kinerja Utama) dalam aspek internasionalisasi. Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., MSc.PH., Ph.D., memberikan apresiasi penuh dan menegaskan bahwa kegiatan ini merefleksikan semangat FKM Unhas untuk terus membuka ruang dialog internasional. Tujuannya adalah memperkaya perspektif sivitas akademika dalam memahami isu-isu strategis kesehatan masyarakat yang semakin terkoneksi secara global. Antropologi Iklim: Memahami Keterhubungan Manusia dan Ekosistem Kuliah tamu yang berlangsung dinamis selama 90 menit ini dipandu oleh Basir, SKM., M.Sc., dosen dari Departemen Kesehatan Lingkungan. Basir berhasil memfasilitasi dialog interaktif antara Prof. Moyer dan para peserta, yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan peneliti. Dalam pemaparannya, Prof. Eileen Moyer berbagi pengalaman dan keahliannya di bidang antropologi iklim dan kesehatan masyarakat. Beliau menjelaskan secara komprehensif bagaimana perubahan iklim tidak hanya memengaruhi suhu dan cuaca, tetapi juga secara fundamental mengubah ekosistem, pola penyebaran penyakit, dan pada akhirnya, kesejahteraan manusia. Salah satu poin utama yang ditekankan Prof. Moyer adalah pentingnya pendekatan lintas spesies (across species) dalam memahami risiko. Beliau berpendapat bahwa kesehatan manusia sangat bergantung pada kesehatan ekosistem dan spesies lain. “To rethink public health in a climate-changing world means to recognize that human wellbeing is deeply intertwined with the health of ecosystems and other species,” tegas Prof. Eileen Moyer, menggarisbawahi perlunya perubahan paradigma dari human-centric menjadi eco-centric. Pendekatan ini membuka mata peserta bahwa upaya pencegahan penyakit dan promosi kesehatan harus mencakup perlindungan keanekaragaman hayati dan ekosistem alam. Respon Lokal dan Tantangan Nyata: Kasus Makassar dan Isu Sampah Sesi dialog interaktif menjadi bagian paling menarik, di mana peserta diajak berbagi pengalaman nyata terkait dampak perubahan iklim di lingkungan masing-masing. Para dosen, mahasiswa, dan peneliti FKM Unhas menyampaikan berbagai fenomena yang mereka amati di wilayah Sulawesi Selatan, seperti: Isu lokal lain yang mendapat sorotan tajam adalah persoalan sampah plastik yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Akumulasi sampah plastik dinilai tidak hanya mencemari lingkungan darat dan laut, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serius akibat paparan mikroplastik dalam air, udara, dan rantai makanan. Beberapa peserta merekomendasikan perlunya memperkuat riset mengenai dampak plastik terhadap kesehatan manusia, memperluas pendidikan lingkungan di berbagai jenjang, serta mendorong penerapan kebijakan pengurangan plastik sekali pakai secara lebih tegas dan masif oleh pemerintah daerah dan pusat. FKM Unhas dan Komitmen pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Kegiatan Kuliah Tamu Internasional ini menjadi refleksi mendalam atas komitmen FKM Unhas terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya yang berkaitan erat dengan isu lingkungan dan kesehatan. Melalui forum akademik internasional ini, FKM Unhas berupaya membangun kontribusi nyata bagi kesehatan global dan keberlanjutan lingkungan, memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang dikembangkan relevan dan solutif terhadap krisis ekologis yang dihadapi dunia. Kesepakatan dan Visi Masa Depan Kesehatan Berkelanjutan Di akhir sesi yang penuh inspirasi, peserta mencapai kesepakatan bahwa isu perubahan iklim harus direspons secara kolaboratif. Langkah-langkah strategis ke depan harus mencakup: Kegiatan ini memperkuat posisi FKM Unhas sebagai pusat pengembangan ilmu kesehatan masyarakat yang berpikir lintas disiplin dan berkomitmen pada keadilan ekologis. Suasana dialog yang terbuka dan reflektif menjadikan kuliah tamu ini tidak hanya sebagai forum ilmiah yang bermanfaat, tetapi juga sebagai ruang berbagi inspirasi dan gagasan untuk membangun masa depan kesehatan yang lebih berkelanjutan.

Mengubah Paradigma: FKM Unhas Gelar Kuliah Umum “Air Langit”, Membuka Potensi Air Hujan Sebagai Solusi Kemandirian Air Berkelanjutan

“Air Langit: Sumber Daya yang Terabaikan”

(Alternatif: Inovasi Sanitasi dan Air Bersih: FKM Unhas Angkat Konsep Air Hujan dalam Rangkaian Dies Natalis ke-43) Air Langit Sumber Daya Terabaikan; Air Hujan Solusi Air Bersih; Kuliah Umum FKM Unhas; Sekolah Air Hujan Banyu Bening; Sriwahyuningsih; Konsep 5M Pengelolaan Air Hujan; ISLAH Instalasi Lumbung Air Hujan; SDGs Air Bersih dan Sanitasi; Kemandirian Air Masyarakat; Kesehatan Lingkungan FKM Unhas; Daya Lenting Perubahan Iklim; Mengubah Paradigma: FKM Unhas Gelar Kuliah Umum “Air Langit”, Membuka Potensi Air Hujan Sebagai Solusi Kemandirian Air Berkelanjutan Makassar – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menunjukkan kepeloporannya dalam isu kesehatan lingkungan dan keberlanjutan. Dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-43, FKM Unhas sukses menyelenggarakan Kuliah Umum inspiratif bertajuk “Air Langit: Sumber Daya yang Terabaikan”. Acara penting ini dilaksanakan pada Senin, 13 November 2025, di Aula Prof. Dr. H. Sirajuddin Beku, S.KM., Lantai 2 FKM Unhas, dan dihadiri oleh dosen, mahasiswa, serta praktisi yang antusias terhadap isu pengelolaan sumber daya air. Penyelenggaraan kuliah umum ini menjadi respons proaktif FKM Unhas terhadap tantangan ketersediaan air bersih yang semakin mengemuka, terutama di tengah ancaman perubahan iklim global. Sebagai institusi yang berkomitmen pada kesehatan publik, FKM Unhas berupaya menawarkan solusi inovatif dan berbasis komunitas. Dukungan Institusi: Inovasi untuk Kemandirian Sumber Daya Kuliah umum dibuka secara resmi oleh Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., MSc.PH., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa kunci untuk menghadapi krisis sumber daya di masa depan adalah melalui inovasi dan kemandirian dalam pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan. “Air hujan merupakan potensi besar yang belum banyak dimanfaatkan secara optimal di Indonesia. Padahal, dengan teknologi dan kesadaran yang tepat, air hujan dapat menjadi solusi efektif atas permasalahan air bersih di berbagai wilayah yang mengalami kekeringan musiman atau kesulitan akses air pipa,” tegas Prof. Sukri. Dekan juga mengapresiasi Yayasan Sekolah Air Hujan Banyu Bening atas dedikasi mereka dalam mengedukasi masyarakat, menegaskan bahwa kolaborasi antara akademisi dan komunitas penggiat lingkungan adalah esensial untuk mencapai dampak nyata di lapangan. Air Hujan: Sumber Kehidupan dan Konsep 5M Berkelanjutan Narasumber utama kegiatan ini adalah Sriwahyuningsih, S.Ag., Ketua Yayasan Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Beliau membawakan materi utama yang sangat mencerahkan dengan judul: “Air Hujan: Sumber Kehidupan dan Daya Lenting Masyarakat terhadap Perubahan Iklim.” Dalam paparannya, Sriwahyuningsih memperkenalkan Konsep 5M sebagai pendekatan holistik dan berkelanjutan dalam pengelolaan air hujan di tingkat rumah tangga dan komunitas. Konsep 5M ini meliputi: Melalui pendekatan ini, air hujan yang selama ini sering dianggap sebagai limbah atau penyebab banjir, ditransformasikan menjadi sumber kehidupan yang dapat memperkuat daya lenting (resilience) masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, sekaligus meningkatkan kesehatan, ekonomi, sosial, dan budaya. Inovasi Teknologi Sederhana dan Jaminan Kualitas Air Narasumber secara detail menjelaskan bagaimana teknologi sederhana dan ramah lingkungan dapat diterapkan di tingkat rumah tangga untuk mengelola air hujan. Inovasi yang diperkenalkan termasuk: Salah satu poin penting yang berhasil mematahkan keraguan publik adalah hasil uji kualitas air hujan. Data uji menunjukkan bahwa air hujan yang diolah dengan proses yang benar, seperti melalui filter berlapis, paparan sinar UV (ultraviolet), atau proses elektrolisis, dapat memenuhi standar bakteriologis dan kimiawi air minum yang sehat. Hal ini menegaskan bahwa kualitas air hujan yang diproses jauh lebih aman daripada yang dibayangkan, asalkan proses pengolahannya dilakukan sesuai prosedur kesehatan lingkungan. Sriwahyuningsih menekankan bahwa visi utama Sekolah Air Hujan Banyu Bening adalah “membangun masyarakat tangguh dan mandiri melalui pengelolaan air hujan sebagai sumber air bersih, sehat, dan berkelanjutan.” Visi ini mendorong edukasi masif untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap air hujan dari potensi bencana menjadi sumber daya bernilai tinggi. Diskusi Interaktif: Peluang Implementasi di Kampus dan Komunitas Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. Hasnawati Amoqam, SKM., M.Sc., dosen dari Departemen Kesehatan Lingkungan FKM Unhas. Beliau memfasilitasi dialog yang hidup, di mana peserta antusias membahas peluang penerapan Konsep 5M di lingkungan kampus maupun komunitas sekitar. Peserta diskusi menyoroti potensi besar Unhas untuk menjadi pilot project penerapan sistem pemanenan air hujan, baik untuk kebutuhan non-potable (menyiram tanaman, menyiram toilet) maupun potable (air minum). Hal ini dapat menjadi model bagi universitas lain dan mengurangi beban operasional kampus sekaligus mendukung konservasi air. Diskusi juga menyepakati bahwa kunci sukses terletak pada sinergi antara inovasi teknologi sederhana dan pemberdayaan masyarakat. Inovasi harus mudah diakses dan diterapkan, sementara pemberdayaan harus mengubah perilaku dan kesadaran masyarakat agar mau mengadopsi teknologi baru ini untuk mencapai kemandirian air. FKM Unhas dan Kontribusi Nyata pada SDGs: Air Bersih dan Sanitasi Kuliah umum ini merupakan bagian krusial dari upaya FKM Unhas dalam mendorong kesadaran terhadap pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak). Dengan mengintegrasikan ilmu kesehatan masyarakat dengan solusi berbasis lingkungan seperti pemanfaatan air hujan, FKM Unhas menegaskan perannya dalam menciptakan masyarakat yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga sehat secara ekologis dan memiliki daya lenting tinggi terhadap krisis sumber daya. Penutup: Berkah Air Hujan dan Kesadaran Berilmu Sebagai penutup, pesan kunci dari Sriwahyuningsih menggema kuat, memberikan refleksi mendalam bagi para peserta: “Air hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit, tetapi berkah yang bisa menyelamatkan bumi bila dikelola dengan ilmu dan kesadaran.” Kegiatan ini berhasil membangkitkan kesadaran kolektif bahwa inovasi kesehatan masyarakat di era modern harus melampaui batas-batas klinis dan menyentuh ranah lingkungan serta keberlanjutan sumber daya alam. FKM Unhas, melalui Kuliah Umum ini, telah membuka jalan bagi riset dan implementasi kebijakan yang lebih berani dan inovatif dalam rangka mencapai kemandirian air nasional dan mewujudkan visi kesehatan global yang berkelanjutan.

Krisis Iklim Adalah Krisis Kesehatan: FKM Unhas Gelar Kuliah Tamu Internasional, Perkuat Jejaring Riset Global dengan University of Amsterdam

Kuliah Tamu Climate Change

MAKASSAR – [10 November 2025] – Di tengah tantangan global berupa kenaikan suhu ekstrem, penipisan kualitas udara, dan destabilisasi ekosistem, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) tampil mengambil peran krusial. Dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-43, FKM Unhas sukses menggelar Kuliah Tamu Internasional yang berfokus pada isu paling mendesak abad ini: kesehatan publik di tengah krisis perubahan iklim. Kegiatan ilmiah bergengsi ini mengusung tema provokatif, “Public Health in a Climate-Changing World: Rethinking Risk Across Species and Scales,” dan secara khusus menghadirkan pakar antropologi kesehatan terkemuka dari Eropa, Prof. dr. E.M. (Eileen) Moyer dari Department of Anthropology, University of Amsterdam, The Netherlands. Forum lintas benua ini tidak hanya menjadi ajang transfer ilmu, namun bertransformasi menjadi panggung dialog strategis yang menuntut komunitas akademik untuk meninjau kembali fondasi kesehatan masyarakat dalam konteks ekosistem yang rapuh dan saling terhubung. Meneguhkan Komitmen Kolaborasi Ilmiah di Tengah Darurat Global Acara dibuka secara resmi dan penuh semangat oleh jajaran pimpinan fakultas. Prof. Dr. Atjo Wahyu, S.KM., M.Kes. bersama Prof. Anwar Mallongi, S.KM., M.Sc.PH., Ph.D., menegaskan bahwa paradigma kesehatan kini telah bergeser dan tidak lagi dapat dilihat secara terpisah dari kondisi lingkungan. “Krisis iklim adalah krisis kesehatan. Kita tidak bisa lagi hanya berfokus pada individu. Tantangan global yang kompleks ini menuntut adanya kolaborasi lintas disiplin dan lintas bangsa untuk memahami dan menyelesaikan permasalahannya,” tegas Prof. Atjo Wahyu, yang sambutannya disambut hangat oleh peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa pascasarjana, dan peneliti. Penguatan jejaring internasional menjadi salah satu fokus utama dalam acara Dies Natalis kali ini. Dr. Dian Sidik Arsyad, S.KM., M.KM., Ph.D., Ketua Departemen Epidemiologi FKM Unhas sekaligus alumni perguruan tinggi di Belanda, menekankan pentingnya inisiatif semacam ini. “Forum akademik ini adalah momentum emas untuk memperkuat simpul jejaring ilmiah antara Unhas, sebagai representasi dari Global South, dan universitas-universitas terkemuka di Eropa,” ujar Dr. Dian. “Riset global yang berdampak dimulai dari dialog lintas budaya yang setara. FKM Unhas memiliki posisi strategis dan siap menjadi jembatan pengetahuan yang menghubungkan selatan dan utara dunia dalam menghadapi tantangan kesehatan planet.” Kehadiran Prof. Moyer dari University of Amsterdam, salah satu institusi riset terbaik dunia, merupakan bukti nyata komitmen FKM Unhas untuk selalu berada di garis depan wacana kesehatan global dan memfasilitasi pertukaran gagasan terbaik bagi civitas akademika di Timur Indonesia. Membaca Gejala Iklim: Antropologi dan Diagnosis Kesehatan Planet Sesi inti Kuliah Tamu berjalan interaktif selama 90 menit dan dipandu oleh Basir, S.KM., M.Sc. dari Departemen Kesehatan Lingkungan. Prof. Moyer memaparkan perspektif antropologis yang mendalam mengenai keterkaitan antara Perubahan Iklim, pola penyakit, dan adaptasi perilaku manusia. Menurutnya, krisis iklim bukanlah sekadar bencana alam atau permasalahan teknis lingkungan, melainkan sebuah “penyakit sosial” yang secara telanjang memperlihatkan bagaimana sistem ekonomi yang dominan, struktur budaya, dan ekologi alam saling tumpang tindih dan memengaruhi. “To rethink public health in a climate-changing world means to recognize that human wellbeing is deeply intertwined with the health of ecosystems and other species,” jelas Prof. Moyer. Ia menyerukan bahwa memikirkan ulang kesehatan masyarakat berarti mengakui bahwa kesejahteraan manusia terkait erat dengan kesehatan ekosistem dan spesies lainnya. Melalui pendekatan lintas spesies (multi-species approach), Prof. Moyer mengajak peserta untuk memperluas lensa pemahaman mereka: kesehatan tidak lagi hanya diukur dari status tubuh manusia semata, tetapi harus dipahami dari jaring kehidupan secara menyeluruh—mencakup kualitas air yang kita minum, udara yang kita hirup, kesuburan tanah, hingga kondisi makhluk lain yang berbagi ruang hidup di Bumi. Perspektif ini sangat relevan dalam konteks Indonesia, yang kaya akan keanekaragaman hayati namun rentan terhadap dampak krisis iklim. Dari Laboratorium Kampus ke Realitas Komunitas: Mengatasi Ancaman Lokal Sesi dialog dan tanya jawab menjadi sangat hidup ketika para dosen dan mahasiswa FKM Unhas berbagi temuan empiris dan observasi langsung dari lapangan. Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan, sangat rentan terhadap penyakit berbasis lingkungan yang dipicu oleh perubahan iklim, seperti: Isu lingkungan yang tidak kalah penting yang diangkat oleh peserta adalah masalah sampah plastik. Ditekankan bahwa kontaminasi mikroplastik kini telah menjadi ancaman kesehatan tersembunyi, mencemari air minum, udara yang dihirup, bahkan rantai makanan laut. Para peserta, yang terdiri dari akademisi Departemen Kesehatan Lingkungan, Epidemiologi, hingga Administrasi Kebijakan Kesehatan, menyerukan adanya tiga aksi strategis: Menata Ulang Visi Ilmu dan Kepemimpinan Akademik Menutup sesi, Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, S.KM., M.Kes., MSc.PH., Ph.D., memberikan penegasan yang menjadi refleksi moral bagi peran universitas. “Kuliah tamu internasional ini bukan sekadar rutinitas transfer ilmu pengetahuan. Ini adalah refleksi moral dan etika universitas terhadap isu kemanusiaan global,” kata Prof. Sukri. “Kesehatan publik bukan hanya urusan di dalam laboratorium, tetapi urusan bumi dan nurani kolektif kita. Kita perlu menggeser pandangan dan mulai melihat kesehatan sebagai wujud dari keadilan ekologis.” Kesimpulan dari forum ini bulat: masa depan kesehatan publik sangat bergantung pada kemampuan manusia untuk membangun solidaritas ekologis—sebuah kesadaran mendasar bahwa keberlangsungan peradaban manusia tidak mungkin dipisahkan dari terjaganya keseimbangan alam. Melalui keberhasilan penyelenggaraan Kuliah Tamu Internasional ini, FKM Unhas kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu poros pemikiran dan pusat wacana kesehatan masyarakat yang relevan dan strategis di kawasan Asia Tenggara. Forum akademik ini tidak hanya berhasil memperluas jaringan ilmiah dan riset, tetapi juga memperkaya kesadaran kolektif bahwa sains, etika, dan lingkungan harus bersatu dalam satu visi tunggal: Menjaga Kehidupan. Dari kampus yang berada di Timur Indonesia, FKM Unhas telah mengirimkan gema ilmiah yang bergema hingga Amsterdam dan komunitas akademik global, membawa pandangan baru tentang kesehatan planet: sehatnya manusia bergantung pada sehatnya bumi.

Inovasi Tim Pengabdian FKM Unhas Hadirkan Solusi Air Bersih Berbasis Kearipan Lokal di Barru

Sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin bersama tim pengabdian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) yang tergabung dalam Coastal Domestic Water Research Group (CDWRG) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Cilellang, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, pada Rabu, 23 Juli 2025. Kegiatan bertema “Penerapan Pengolahan Air Bersih melalui Proses Koagulasi-Filtrasi Menggunakan Bahan Alami” ini dipimpin oleh Dr. Agus Bintara Birawida, S.Kel., M.Kes., dengan anggota tim Prof. Anwar Daud, SKM., M.Kes. dan Dr. Sri Handayani, S.Km., M.Kes. Ketiganya merupakan akademisi FKM Unhas yang berpengalaman dalam bidang kesehatan lingkungan, khususnya sanitasi dan pengelolaan air bersih berbasis masyarakat. Desa Cilellang dipilih sebagai lokasi karena tingginya kebutuhan warga terhadap akses air bersih. Air yang tersedia di wilayah ini umumnya keruh, berwarna, dan berbau, sehingga tidak layak konsumsi. Permasalahan ini mendorong dilakukannya intervensi teknologi pengolahan air yang ramah lingkungan dan mudah diterapkan. Kegiatan diawali dengan penyuluhan mengenai pentingnya air bersih bagi kesehatan dan prinsip dasar pengolahannya. Selanjutnya, masyarakat diajak untuk mempraktikkan langsung teknologi pengolahan air sederhana berbasis koagulasi-filtrasi dengan bahan alami, termasuk penggunaan biji kelor (Moringa oleifera) sebagai koagulan. Air kemudian disaring melalui lapisan arang aktif, batu apung, dan pasir silika, sehingga menghasilkan air yang lebih jernih dan bebas bau. Sebagai bentuk keberlanjutan, tim pengabdian menyerahkan unit alat pengolahan air kepada masyarakat dan pemerintah desa setempat. Inovasi ini tidak hanya menjawab kebutuhan dasar warga, tetapi juga mendukung pencapaian SDG 6 (Clean Water and Sanitation) serta sejalan dengan Asta Cita kelima, yaitu peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Dengan pendekatan ilmiah dan teknologi tepat guna, kegiatan ini memperkuat komitmen Unhas dalam menghadirkan solusi lokal untuk tantangan global, terutama dalam bidang kesehatan lingkungan dan ketahanan air. Lebih dari sekadar alih teknologi, program ini mencerminkan kolaborasi antara kampus dan masyarakat dalam membangun lingkungan yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan.

FKM Unhas Lepas Mahasiswa PBL 1 di Kabupaten Soppeng: Komitmen Nyata untuk Pengabdian Masyarakat

Makassar, 10 Juli 2025 – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendidik mahasiswa yang siap mengabdi kepada masyarakat. Bertempat di Kampus FKM Unhas, telah dilaksanakan acara pelepasan mahasiswa untuk kegiatan Praktik Belajar Lapangan (PBL) 1 yang akan berlangsung di Kabupaten Soppeng pada 14–28 Juli 2025. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa angkatan 2023 yang saat ini menempuh semester empat. Sebanyak 36 desa dan kelurahan di delapan kecamatan akan menjadi lokasi praktik, yaitu Kecamatan Marioriwawo, Liliriaja, Lilirilau, Lalabata, Donri-Donri, Marioriawa, Ganra, dan Citta. Sebagai bentuk pendampingan akademik, 36 dosen dari berbagai departemen FKM Unhas turut serta sebagai supervisor yang akan membimbing langsung proses pembelajaran di lapangan. Ketua panitia PBL 1, Bapak Dian Saputra Marzuki, S.KM., M.Kes., yang juga merupakan dosen Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dari kurikulum akademik yang dirancang untuk melatih mahasiswa mengenali permasalahan kesehatan secara langsung di masyarakat serta menentukan prioritas penanganannya secara sistematis. “PBL 1 menjadi jembatan penting antara teori yang telah dipelajari di kelas dan realitas di lapangan. Mahasiswa tidak hanya belajar mengidentifikasi masalah kesehatan, tetapi juga bagaimana berinteraksi dengan masyarakat secara etis dan profesional,” ujarnya. Ketua panitia PBL 1, Bapak Dian Saputra Marzuki, S.KM., M.Kes., memberikan sambutan dalam kegiatan pelepasan PBL 1 Dalam sesi pengarahan, para mahasiswa dibekali dengan motivasi serta pesan untuk menjaga etika, integritas, dan profesionalisme selama berada di lapangan. Dekan FKM Unhas menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya institusi dalam mencetak lulusan yang berkualitas, memiliki kepekaan sosial, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Kegiatan PBL 1 ini juga menjadi wujud dukungan FKM Unhas terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yaitu “Menjamin Kehidupan yang Sehat dan Meningkatkan Kesejahteraan Semua Orang di Segala Usia.” Melalui penguatan kapasitas mahasiswa dalam memahami serta menangani isu-isu kesehatan masyarakat, FKM Unhas turut berperan aktif dalam mendorong pencapaian target pembangunan global tersebut. Dengan semangat pengabdian, FKM Unhas mengirimkan para mahasiswa ke tengah masyarakat tidak hanya sebagai bagian dari proses akademik, tetapi juga sebagai kontribusi institusional dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pendekatan kesehatan berbasis masyarakat.

Mahasiswa Magister Kesehatan Lingkungan Unhas Tingkatkan Kapasitas dan Jejaring Internasional di Mahidol University, Thailand

Bangkok, UNHAS.TV – Komitmen Universitas Hasanuddin (Unhas) dalam mendukung internasionalisasi pendidikan terus diperkuat melalui pengiriman 31 mahasiswa Magister Kesehatan Lingkungan ke Mahidol University, Thailand. Kegiatan ini berlangsung pada 7–8 Juli 2025 dalam bentuk program benchmarking dan pelatihan intensif bertema “Environmental Health Technology, Management, and Sustainability”, yang diselenggarakan oleh salah satu institusi kesehatan masyarakat terkemuka di Asia Tenggara. Selama dua hari penuh, para peserta terlibat aktif dalam diskusi akademik, pemaparan materi, serta lokakarya yang membahas perkembangan teknologi dan pendekatan manajemen terbaru dalam bidang kesehatan lingkungan berkelanjutan. Salah satu sesi paling menonjol adalah lokakarya tentang Health Risk Assessment (HRA) yang dipandu langsung oleh Assoc. Prof. Suphaphat Kwonpongsagoon, Ph.D, pakar terkemuka dari Faculty of Public Health Mahidol University. Dalam sesinya, Prof. Kwonpongsagoon menekankan pentingnya pemanfaatan data dalam menganalisis dan mengelola risiko kesehatan lingkungan secara menyeluruh. HRA, menurut beliau, merupakan pendekatan strategis dalam mengidentifikasi, mengevaluasi, dan merespons risiko lingkungan, serta menjadi landasan bagi perumusan kebijakan yang berbasis bukti dan berorientasi pada keberlanjutan, terutama di kawasan Asia Tenggara. Assoc. Prof. Suphaphat Kwonpongsagoon, PhD dosen di Faculty of Public Health Mahidol University sekaligus pakar dalam bidang Analysis Risiko Kesehatan Lingkungan. Memperkuat Fondasi Kolaborasi Internasional Ketua Program Studi Pascasarjana Kesehatan Lingkungan FKM Unhas, Prof. Dr. Anwar Daud, M.Kes, menyampaikan bahwa program ini memberikan manfaat besar dalam penguatan mutu kurikulum dan peningkatan kapasitas riset mahasiswa. Ia menambahkan bahwa potensi kolaborasi dengan Mahidol University sangat terbuka, khususnya dalam pengembangan teknologi pemantauan kualitas lingkungan, sistem pengelolaan limbah berkelanjutan, serta studi tentang paparan bahan kimia dan mikroorganisme lingkungan. Sebagai alumni program doktoral Mahidol University, Prof. Anwar menyampaikan bahwa pengalaman institusi tersebut dalam pengembangan pendidikan dan riset dapat menjadi rujukan strategis dalam pengembangan program pascasarjana di Unhas. Senada dengan hal tersebut, Dekan FKM Unhas, Prof. Dr. Sukri Palutturi, Ph.D, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan peluang penting untuk membangun pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara dua institusi. Ia berharap kegiatan ini membuka jalan bagi kolaborasi akademik yang lebih luas seperti pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, serta publikasi ilmiah kolaboratif di masa mendatang. Ketua Program Studi Pascasarjana Kesehatan Lingkungan Unhas, Prof. Dr. Anwar Daud, M.Kes (ketiga dari kiri), bersama Assoc. Prof. Suphaphat Kwonpongsagoon, PhD (kedua dari kiri), dan perwakilan Mahidol University saat kegiatan benchmarking di Faculty of Public Health, Mahidol University, Thailand. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat mutu kurikulum dan riset kesehatan lingkungan. Menuju Visi Internasionalisasi dan SDGs Mahidol University dikenal luas atas dedikasinya dalam pengembangan ilmu kesehatan masyarakat yang berlandaskan inovasi dan prinsip keberlanjutan. Kegiatan benchmarking ini sejalan dengan komitmen Unhas untuk mewujudkan visi internasionalisasi kampus dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada isu kesehatan lingkungan. Kegiatan ini menjadi wujud nyata peran Unhas dalam menjawab tantangan global melalui pendekatan ilmiah dan kolaboratif. Upaya yang digagas oleh Prof. Dr. Anwar Daud, SKM., M.Kes., EHS dan Prof. Anwar Mallongi, SKM., MSc., Ph.D ini diharapkan dapat berkembang lebih luas dan menjangkau kerja sama internasional yang lebih intensif sebagai langkah menuju Unhas sebagai World Class University.

Menguatkan Jejaring Global: FKM Unhas Jajaki Kolaborasi Pascasarjana dengan Mahidol University

Bangkok, UNHAS.TV – Dalam upaya memperluas kemitraan akademik internasional, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin menjalin komunikasi strategis dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Mahidol University, Thailand. Inisiatif ini menjadi langkah awal menuju kerja sama resmi yang direncanakan akan dituangkan dalam bentuk Memorandum of Agreement (MoA), khususnya di bidang pendidikan dan riset pascasarjana kesehatan masyarakat dan lingkungan. Pertemuan bilateral ini berlangsung pada 8 Juli 2025 di Bangkok, bertepatan dengan pelaksanaan Workshop on Environmental Health Technology, Management, and Sustainability pada 7–8 Juli 2025 di kampus Mahidol University. Forum ilmiah tersebut menjadi titik temu yang mempertemukan para pakar dari berbagai institusi dan memperkuat wacana kolaboratif lintas negara. FKM Unhas diwakili oleh dua tokoh penting: Prof. Dr. Anwar Daud, SKM., M.Kes, Ketua Program Studi Magister Kesehatan Lingkungan, dan Prof. Anwar Mallongi, SKM., MSc., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, dan Inovasi. Sementara dari pihak Mahidol University, pertemuan dihadiri langsung oleh Dekan FKM Mahidol, Dr. Sarawut Thepanondh. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Mahidol University, Thailand, Dr. Sarawut Thepanondh memberikan sambutan dihadapan delegasi FKM Unhas. Fokus Kolaborasi: Kurikulum, Riset, dan Aktivitas Akademik Bersama Diskusi antara kedua institusi mencakup pengembangan kurikulum bersama, yang diharapkan dapat menciptakan standar pendidikan pascasarjana yang setara dan berwawasan global. Kolaborasi ini juga membuka peluang pertukaran mahasiswa dan dosen, serta memperkuat kapasitas lulusan dalam menjawab tantangan kesehatan masyarakat internasional. Aspek riset menjadi perhatian utama, terutama dalam isu-isu krusial seperti perubahan iklim, pengelolaan limbah, dan keberlanjutan lingkungan. Kolaborasi ini memungkinkan pertukaran keahlian dan sumber daya dalam penelitian, guna menghasilkan temuan yang relevan dan berdampak luas. Lebih lanjut, rencana kerja sama juga mencakup penyelenggaraan kuliah tamu dan seminar internasional secara bersama-sama, sebagai upaya meningkatkan kualitas pengalaman akademik bagi sivitas akademika kedua belah pihak. Suasana hangat diskusi di FKM Mahidol University, Bangkok. Perwakilan FKM Unhas, Prof. Dr. Anwar Daud (Ketua Prodi Magister Kesling) dan Prof. Anwar Mallongi (Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, dan Inovasi), bersama jajaran Mahidol University (termasuk Dr. Sarawut Thepanondh, Dekan FKM Mahidol) membahas potensi kolaborasi doktoral dan magister. Misi kami: mencapai standar internasional dalam pendidikan dan riset kesehatan masyarakat Menuju Implementasi Nyata Menurut Prof. Dr. Anwar Daud, kolaborasi ini tidak hanya bertujuan memperluas jaringan akademik, tetapi juga menjadi upaya konkret untuk mencapai standar internasional dalam pendidikan dan penelitian. “Kemitraan ini diharapkan dapat memperluas wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam konteks kesehatan masyarakat global,” ungkapnya. Langkah selanjutnya adalah penyusunan draf MoA yang mencakup agenda kerja kolaboratif, sebagai fondasi implementasi program bersama yang berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks. Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa kerja sama lintas negara merupakan strategi esensial dalam membangun solusi inovatif dan berkelanjutan. Dengan pondasi yang telah dibangun, kemitraan antara FKM Unhas dan Mahidol University diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu kesehatan masyarakat di tingkat regional dan global.

PPMU FKM Unhas Laksanakan Edukasi Pengelolaan Sampah Tanpa Asap di Desa Wanio, Sidrap

Sidrap, 20 Juni 2025 — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin (PPMU Unhas) menyelenggarakan kegiatan edukatif bertajuk “Edukasi Pengelolaan Sampah Nir Asap” di Desa Wanio, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidenreng Rappang. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 20 Juni 2025, sebagai bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PPMU-PKM) yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unhas tahun anggaran 2025. Tim pelaksana kegiatan diketuai oleh Dr. Syamsuar Manyullei, SKM., M.Kes., MSc.PH, bersama anggota tim Dr. Wahiduddin, SKM., M.Kes., dan Nasrah, SKM., M.Kes. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan lokal, termasuk Kepala Desa Wanio Muhammad Aziqin, perwakilan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), para kepala dusun, kader kesehatan desa, serta tokoh masyarakat setempat. Dalam sambutannya, Dr. Syamsuar menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Menurutnya, pendekatan edukatif seperti ini menjadi langkah awal dalam membentuk budaya sadar lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah rumah tangga yang sehat dan aman. Materi utama yang disampaikan dalam kegiatan ini meliputi metode pengelolaan sampah menggunakan alat pembakar khusus yang dirancang untuk meminimalkan emisi asap berbahaya. Selain itu, peserta juga diberikan pengetahuan mengenai pemanfaatan hasil pembakaran—baik berupa abu maupun cairan hasil kondensasi—sebagai bahan pupuk organik cair yang dapat digunakan untuk kebutuhan pertanian lokal. “Sampah bukanlah musuh jika kita tahu cara mengelolanya secara bijak. Melalui alat pembakar tanpa asap ini, kami ingin memperkenalkan alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan bagi masyarakat,” ungkap Dr. Syamsuar saat menyampaikan materi penyuluhan. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Hasanuddin dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui penguatan kapasitas masyarakat desa dalam bidang kesehatan lingkungan dan pengelolaan limbah.