5°07'40.9"S 119°29'11.0"E

fkm@unhas.ac.id

Mengubah Paradigma: FKM Unhas Gelar Kuliah Umum “Air Langit”, Membuka Potensi Air Hujan Sebagai Solusi Kemandirian Air Berkelanjutan

“Air Langit: Sumber Daya yang Terabaikan”

(Alternatif: Inovasi Sanitasi dan Air Bersih: FKM Unhas Angkat Konsep Air Hujan dalam Rangkaian Dies Natalis ke-43)

Air Langit Sumber Daya Terabaikan; Air Hujan Solusi Air Bersih; Kuliah Umum FKM Unhas; Sekolah Air Hujan Banyu Bening; Sriwahyuningsih; Konsep 5M Pengelolaan Air Hujan; ISLAH Instalasi Lumbung Air Hujan; SDGs Air Bersih dan Sanitasi; Kemandirian Air Masyarakat; Kesehatan Lingkungan FKM Unhas; Daya Lenting Perubahan Iklim;

Mengubah Paradigma: FKM Unhas Gelar Kuliah Umum “Air Langit”, Membuka Potensi Air Hujan Sebagai Solusi Kemandirian Air Berkelanjutan

Makassar – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menunjukkan kepeloporannya dalam isu kesehatan lingkungan dan keberlanjutan. Dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-43, FKM Unhas sukses menyelenggarakan Kuliah Umum inspiratif bertajuk “Air Langit: Sumber Daya yang Terabaikan”. Acara penting ini dilaksanakan pada Senin, 13 November 2025, di Aula Prof. Dr. H. Sirajuddin Beku, S.KM., Lantai 2 FKM Unhas, dan dihadiri oleh dosen, mahasiswa, serta praktisi yang antusias terhadap isu pengelolaan sumber daya air.

elektrolisis

Penyelenggaraan kuliah umum ini menjadi respons proaktif FKM Unhas terhadap tantangan ketersediaan air bersih yang semakin mengemuka, terutama di tengah ancaman perubahan iklim global. Sebagai institusi yang berkomitmen pada kesehatan publik, FKM Unhas berupaya menawarkan solusi inovatif dan berbasis komunitas.

Dukungan Institusi: Inovasi untuk Kemandirian Sumber Daya

Kuliah umum dibuka secara resmi oleh Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., MSc.PH., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa kunci untuk menghadapi krisis sumber daya di masa depan adalah melalui inovasi dan kemandirian dalam pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan.

“Air hujan merupakan potensi besar yang belum banyak dimanfaatkan secara optimal di Indonesia. Padahal, dengan teknologi dan kesadaran yang tepat, air hujan dapat menjadi solusi efektif atas permasalahan air bersih di berbagai wilayah yang mengalami kekeringan musiman atau kesulitan akses air pipa,” tegas Prof. Sukri.

Dekan juga mengapresiasi Yayasan Sekolah Air Hujan Banyu Bening atas dedikasi mereka dalam mengedukasi masyarakat, menegaskan bahwa kolaborasi antara akademisi dan komunitas penggiat lingkungan adalah esensial untuk mencapai dampak nyata di lapangan.

Air Hujan: Sumber Kehidupan dan Konsep 5M Berkelanjutan

Narasumber utama kegiatan ini adalah Sriwahyuningsih, S.Ag., Ketua Yayasan Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Beliau membawakan materi utama yang sangat mencerahkan dengan judul: “Air Hujan: Sumber Kehidupan dan Daya Lenting Masyarakat terhadap Perubahan Iklim.”

Dalam paparannya, Sriwahyuningsih memperkenalkan Konsep 5M sebagai pendekatan holistik dan berkelanjutan dalam pengelolaan air hujan di tingkat rumah tangga dan komunitas. Konsep 5M ini meliputi:

  1. Menampung: Menggunakan bak, tandon, atau gentong untuk mengumpulkan air hujan secara efektif.
  2. Mengolah: Menerapkan teknologi sederhana untuk menjernihkan dan mensterilkan air hujan.
  3. Minum: Memastikan air hujan yang diolah memenuhi standar kualitas air minum yang sehat.
  4. Menabung: Menghemat air tanah melalui teknologi sumur resapan, biopori, atau recharge pit agar air hujan dikembalikan ke akuifer bumi.
  5. Mandiri: Mencapai kemandirian air di tingkat rumah tangga atau komunitas, mengurangi ketergantungan pada PDAM atau air tanah dalam.

Melalui pendekatan ini, air hujan yang selama ini sering dianggap sebagai limbah atau penyebab banjir, ditransformasikan menjadi sumber kehidupan yang dapat memperkuat daya lenting (resilience) masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, sekaligus meningkatkan kesehatan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Inovasi Teknologi Sederhana dan Jaminan Kualitas Air

Narasumber secara detail menjelaskan bagaimana teknologi sederhana dan ramah lingkungan dapat diterapkan di tingkat rumah tangga untuk mengelola air hujan. Inovasi yang diperkenalkan termasuk:

  • Instalasi Lumbung Air Hujan (ISLAH): Sistem penampungan yang terintegrasi dengan filter.
  • Sumur Resapan dan Biopori: Metode efektif untuk menabung air ke dalam tanah, mengurangi limpasan air permukaan dan risiko banjir.

Salah satu poin penting yang berhasil mematahkan keraguan publik adalah hasil uji kualitas air hujan. Data uji menunjukkan bahwa air hujan yang diolah dengan proses yang benar, seperti melalui filter berlapis, paparan sinar UV (ultraviolet), atau proses elektrolisis, dapat memenuhi standar bakteriologis dan kimiawi air minum yang sehat. Hal ini menegaskan bahwa kualitas air hujan yang diproses jauh lebih aman daripada yang dibayangkan, asalkan proses pengolahannya dilakukan sesuai prosedur kesehatan lingkungan.

Sriwahyuningsih menekankan bahwa visi utama Sekolah Air Hujan Banyu Bening adalah “membangun masyarakat tangguh dan mandiri melalui pengelolaan air hujan sebagai sumber air bersih, sehat, dan berkelanjutan.” Visi ini mendorong edukasi masif untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap air hujan dari potensi bencana menjadi sumber daya bernilai tinggi.

Diskusi Interaktif: Peluang Implementasi di Kampus dan Komunitas

Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. Hasnawati Amoqam, SKM., M.Sc., dosen dari Departemen Kesehatan Lingkungan FKM Unhas. Beliau memfasilitasi dialog yang hidup, di mana peserta antusias membahas peluang penerapan Konsep 5M di lingkungan kampus maupun komunitas sekitar.

Peserta diskusi menyoroti potensi besar Unhas untuk menjadi pilot project penerapan sistem pemanenan air hujan, baik untuk kebutuhan non-potable (menyiram tanaman, menyiram toilet) maupun potable (air minum). Hal ini dapat menjadi model bagi universitas lain dan mengurangi beban operasional kampus sekaligus mendukung konservasi air.

Diskusi juga menyepakati bahwa kunci sukses terletak pada sinergi antara inovasi teknologi sederhana dan pemberdayaan masyarakat. Inovasi harus mudah diakses dan diterapkan, sementara pemberdayaan harus mengubah perilaku dan kesadaran masyarakat agar mau mengadopsi teknologi baru ini untuk mencapai kemandirian air.

FKM Unhas dan Kontribusi Nyata pada SDGs: Air Bersih dan Sanitasi

Kuliah umum ini merupakan bagian krusial dari upaya FKM Unhas dalam mendorong kesadaran terhadap pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak).

  • SDG 6.1 (Akses Air Minum yang Aman): Inisiatif pengelolaan air hujan yang diolah menjadi air minum sehat secara langsung mendukung target untuk mencapai akses universal dan merata terhadap air minum yang aman dan terjangkau.
  • SDG 6.3 (Kualitas Air): Riset dan edukasi tentang pengolahan air hujan dan teknologi sederhana (ISLAH) berkontribusi pada peningkatan kualitas air dan pengurangan polusi yang disebabkan oleh air limbah atau run-off yang tidak terkontrol.
  • SDG 6.4 (Efisiensi Penggunaan Air): Konsep 5M, terutama ‘Menabung’ melalui sumur resapan dan biopori, mendukung peningkatan efisiensi penggunaan air dan pengurangan tekanan pada sumber daya air tawar, yang menjadi kunci dalam adaptasi perubahan iklim.

Dengan mengintegrasikan ilmu kesehatan masyarakat dengan solusi berbasis lingkungan seperti pemanfaatan air hujan, FKM Unhas menegaskan perannya dalam menciptakan masyarakat yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga sehat secara ekologis dan memiliki daya lenting tinggi terhadap krisis sumber daya.

Penutup: Berkah Air Hujan dan Kesadaran Berilmu

Sebagai penutup, pesan kunci dari Sriwahyuningsih menggema kuat, memberikan refleksi mendalam bagi para peserta:

“Air hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit, tetapi berkah yang bisa menyelamatkan bumi bila dikelola dengan ilmu dan kesadaran.”

Kegiatan ini berhasil membangkitkan kesadaran kolektif bahwa inovasi kesehatan masyarakat di era modern harus melampaui batas-batas klinis dan menyentuh ranah lingkungan serta keberlanjutan sumber daya alam. FKM Unhas, melalui Kuliah Umum ini, telah membuka jalan bagi riset dan implementasi kebijakan yang lebih berani dan inovatif dalam rangka mencapai kemandirian air nasional dan mewujudkan visi kesehatan global yang berkelanjutan.

Kabar Terkini

tentang kami

FKM UNHAS

Jln. Perintis Kemerdekaan Km. 10.
Kampus Unhas Tamalanrea Makassar 90245
Sulawesi Selatan, Indonesia