5°07'40.9"S 119°29'11.0"E

fkm@unhas.ac.id

FKM Unhas Menjadi Episentrum Transformasi Layanan Kesehatan Primer di Indonesia Timur

MAKASSAR – Upaya penguatan sistem kesehatan nasional di wilayah Indonesia bagian timur kini memasuki babak baru yang lebih progresif. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) resmi mengambil peran strategis sebagai panggung utama kolaborasi multidimensi yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, serta praktisi kesehatan. Sinergi ini diwujudkan melalui pergelaran Seminar dan Diseminasi Praktik Baik Integrasi Layanan Kesehatan Primer (ILP) yang berlangsung secara hibrida di Makassar. Pertemuan akbar ini digadang-gadang akan menjadi fondasi kokoh bagi pembangunan kesehatan berbasis bukti (evidence-based policy) di masa depan.

Akselerasi transformasi pada sektor pelayanan kesehatan dasar dinilai menjadi kebutuhan mendesak, khususnya bagi kawasan Indonesia Timur yang memiliki tantangan geografis dan demografis yang unik. Melalui forum ini, seluruh pemangku kepentingan berkomitmen penuh untuk menghadirkan reformasi pelayanan kesehatan yang lebih inklusif, merata, dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Komitmen Kementerian Kesehatan dalam Enam Pilar Transformasi

Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Elvieda Sariwati, M.M., menegaskan bahwa percepatan transformasi pada layanan primer bukan lagi sekadar program kerja, melainkan prioritas utama di dalam Cetak Biru Enam Pilar Transformasi Kesehatan Indonesia. Integrasi Layanan Kesehatan Primer (ILP) dirancang dengan paradigma baru: memberikan pelayanan yang tidak lagi terkotak-kotak, melainkan terkoordinasi secara komprehensif dan berkesinambungan sepanjang siklus hidup manusia. Pelayanan ini mencakup fase prapersalinan, bayi, anak-anak, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia (lansia).

Dalam skema ILP yang baru, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) diposisikan kembali sebagai ujung tombak utama. Fungsi Puskesmas dioptimalkan secara seimbang agar tidak hanya fokus pada aspek kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan), melainkan jauh lebih agresif pada ranah promotif (edukasi kesehatan) serta preventif (pencegahan penyakit). Pendekatan holistik ini berorientasi penuh pada kebutuhan riil komunitas di tingkat akar rumput.

Menurut dr. Elvieda, semangat transformasi ini merupakan manifestasi modern dari Bandung Plan yang pernah dicetuskan oleh tokoh legendaris kesehatan Indonesia, Prof. Johannes Leimena. Sejak dekade lampau, Prof. Leimena telah meletakkan prinsip dasar bahwa pertahanan kesehatan terbaik sebuah bangsa berada pada layanan kesehatan dasar masyarakatnya. Pola inilah yang melahirkan cikal bakal sistem Puskesmas di seluruh penjuru Nusantara hingga saat ini.

Unhas Berada di Posisi Strategis Regional

Kendati demikian, implementasi ILP di lapangan tidak dapat berjalan optimal secara top-down dari kementerian pusat saja. Diperlukan ekosistem daerah yang responsif melalui kolaborasi aktif yang melibatkan perguruan tinggi sebagai penyedia riset ilmiah dan inovasi akademis. Dalam konteks inilah, Universitas Hasanuddin diproyeksikan memegang kendali kepemimpinan (leadership) yang krusial.

“Universitas Hasanuddin memiliki posisi geografis dan akademis yang sangat strategis untuk menjadi mitra utama Kementerian Kesehatan. Unhas diharapkan mengawal implementasi, riset mendalam, serta evaluasi berkala terhadap program ILP, tidak hanya untuk wilayah Sulawesi Selatan, tetapi juga sebagai motor penggerak utama bagi seluruh kawasan Indonesia Timur,” ungkap dr. Elvieda dalam pemaparannya.

Dengan amanah tersebut, FKM Unhas ditantang untuk terus memproduksi riset-riset implementasi berkualitas tinggi yang mampu memberikan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah. Dengan demikian, setiap kebijakan kesehatan yang lahir di Indonesia Timur tidak lagi didasarkan pada asumsi, melainkan bertumpu pada data lapangan yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Kunci Keberhasilan

Menanggapi proyeksi besar tersebut, Dekan sekaligus Guru Besar FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH, Ph.D., menyatakan kesiapan institusinya. Dalam pandangannya, mentransformasikan layanan kesehatan primer adalah sebuah misi besar yang mustahil diselesaikan jika hanya dibebankan kepada pundak sektor kesehatan semata. Isu kesehatan adalah isu multisektoral yang berakar pada determinan sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan tempat masyarakat itu tinggal.

“Perilaku sehari-hari masyarakat, akses terhadap air bersih, kondisi sanitasi lingkungan, tingkat pendidikan, hingga stabilitas ekonomi keluarga adalah faktor-faktor determinan yang sangat memengaruhi derajat kesehatan. Oleh karena itu, orientasi dari layanan primer yang baru ini harus benar-benar dekat dengan komunitas dan wajib berkolaborasi lintas sektor,” urai Prof. Sukri Palutturi.

Lebih lanjut, pakar kebijakan kesehatan ini menekankan bahwa keberhasilan integrasi layanan primer harus diukur dari kemampuannya dalam menekan angka kesakitan, mendeteksi dini penyakit tidak menular, serta menurunkan angka kematian ibu dan anak. Kehadiran akademisi di lapangan akan membantu mengurai hambatan birokrasi dan sosial sehingga program ILP dapat diterima dengan baik oleh struktur adat maupun masyarakat lokal di berbagai pelosok Indonesia Timur.

Kontribusi Nyata Terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Langkah masif yang diinisiasi oleh FKM Unhas bersama Kementerian Kesehatan ini merupakan kontribusi konkret yang sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Secara spesifik, transformasi layanan primer ini adalah tulang punggung utama dalam pencapaian SDGs Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). Melalui penguatan sistem ILP di Puskesmas, Indonesia Timur dapat mempercepat pencapaian target Universal Health Coverage (UHC) atau Cakupan Kesehatan Semesta, memastikan semua orang mendapatkan akses layanan kesehatan bermutu tanpa harus mengalami kesulitan finansial.

Selain itu, karena sistem pelayanan ini mengutamakan keterlibatan komunitas dan lintas sektor, program ini turut mendukung SDGs Tujuan 5: Kesetaraan Gender melalui perlindungan kesehatan reproduksi perempuan, serta SDGs Tujuan 10: Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities) dengan cara memangkas disparitas fasilitas kesehatan antara wilayah barat dan timur Indonesia. Upaya bersama ini juga mencerminkan semangat SDGs Tujuan 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals), di mana institusi pendidikan tinggi seperti Unhas bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan kebijakan makro pemerintah dengan kebutuhan mikro di tengah-tengah masyarakat rural.

Peran PHC Consortium dan Ruang Kerja Bersama

Guna memperlancar jalannya transformasi, dibentuklah sebuah wadah kolaboratif bernama Primary Health Care (PHC) Consortium. Wadah ini mengintegrasikan peran pemerintah, lembaga donor, mitra pembangunan internasional, akademisi, dan praktisi kesehatan ke dalam satu ekosistem kerja yang terpadu.

Koordinator Sekretariat PHC Consortium, Wahyu Manggala Putra, memaparkan fakta lapangan bahwa selama ini banyak lembaga swadaya maupun institusi akademik yang berjalan sendiri-sendiri. Mereka kerap kali meneliti dan menggarap isu kesehatan yang sama di daerah yang berdekatan, tetapi tidak ada pertukaran data yang intensif. Akibatnya, dampak dari program yang dijalankan menjadi kurang masif dan cenderung tumpang tindih.

“Di sinilah esensi dari kehadiran PHC Consortium. Kami berfokus untuk menyediakan ruang kolaborasi yang efektif dan inklusif. Dengan adanya wadah ini, seluruh pihak dapat saling berbagi praktik baik (best practices), mengevaluasi kegagalan, dan menyatukan sumber daya demi memperkuat akselerasi transformasi pelayanan kesehatan primer di Indonesia,” kata Wahyu.

Menuju Leimena Conference: Panggung Inovasi Ilmiah

Sebagai bagian dari rencana strategis jangka panjang, momentum seminar FKM Unhas ini juga dimanfaatkan untuk mensosialisasikan agenda ilmiah berskala besar, yaitu Leimena Conference. Forum ilmiah nasional pertama ini dirancang khusus untuk memfokuskan pembahasan pada inovasi serta hasil riset pelayanan kesehatan primer berbasis bukti di Indonesia.

Konferensi ini diharapkan menjadi wadah bertemunya para peneliti muda, bidan, perawat, dokter puskesmas, hingga pembuat kebijakan untuk mempresentasikan temuan inovatif mereka dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dasar. Guna merangsang minat riset di lingkungan internal, Sekretariat PHC Consortium mengumumkan pemberian beasiswa penuh bagi tiga pengirim abstrak riset terbaik. Beasiswa ini dialokasikan khusus bagi dosen, mahasiswa aktif, tenaga kesehatan, maupun alumni Universitas Hasanuddin agar dapat mempresentasikan hasil karya ilmiah mereka di forum prestisius tersebut.

Antusiasme dan Partisipasi yang Luas

Agenda diseminasi yang diselenggarakan FKM Unhas ini menuai antusiasme yang luar biasa tinggi. Tercatat lebih dari 200 peserta menghadiri acara ini, baik secara langsung di aula kampus maupun melalui ruang pertemuan virtual. Peserta didominasi oleh perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta Kepala Puskesmas dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Kehadiran para praktisi lapangan ini krusial mengingat merekalah yang akan menjadi eksekutor utama kebijakan ILP di daerah masing-masing.

Acara ini juga dihadiri oleh jajaran Wakil Dekan FKM Unhas, Dewan Guru Besar, serta mahasiswa pascasarjana. Diskusi panel diperkaya dengan kehadiran jajaran pakar kesehatan nasional terkemuka. Di antaranya adalah Trihono (Koordinator PHC Consortium), Samkani (Tim Kerja Integrasi Layanan Primer Kemenkes), perwakilan praktisi dari Puskesmas Maros Baru yang membagikan kisah sukses implementasi di tingkat desa, serta Guru Besar Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. dr. Deni Kurniadi Sunjaya, DESS, yang memberikan perspektif teoretis yang tajam mengenai tata kelola kesehatan dasar secara daring.

Melalui seminar dan diseminasi ini, FKM Unhas membuktikan komitmennya bukan hanya sebagai lembaga menara gading yang melahirkan teori, melainkan sebagai institusi yang membumi, adaptif, dan siap memimpin transformasi kesehatan demi mewujudkan masyarakat Indonesia Timur yang jauh lebih sehat, tangguh, dan sejahtera.

Kabar Terkini

tentang kami

FKM UNHAS

Jln. Perintis Kemerdekaan Km. 10.
Kampus Unhas Tamalanrea Makassar 90245
Sulawesi Selatan, Indonesia