5°07'40.9"S 119°29'11.0"E

fkm@unhas.ac.id

Menggagas Solusi Kota Sehat Global: Dekan FKM Unhas Hadiri Forum WHO di Malaysia, Identifikasi ‘Pergantian Pemimpin’ sebagai Tantangan Kunci Implementasi Berkelanjutan

Makassar – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) terus memperluas kontribusi akademiknya ke level internasional, khususnya dalam isu-isu kesehatan masyarakat dan lingkungan perkotaan. Prof. Sukri Palluturi, Dekan FKM Unhas, diundang secara khusus untuk berpartisipasi dan memberikan pemaparan krusial dalam sebuah forum bergengsi: Forum WHO Perwakilan Malaysia, Brunei, dan Singapura Rumpun Negara di Western Pacific Region Organization (WPRO).

Forum yang diselenggarakan pada 25-26 November di Royale Chulan Penang George Town, Malaysia, ini menjadi ajang pertemuan penting bagi para pengambil kebijakan, akademisi, dan praktisi kesehatan dari kawasan Asia Pasifik. Kehadiran Prof. Sukri Palluturi menjadi penegasan atas pengakuan internasional terhadap kepakaran FKM Unhas dalam kajian kesehatan lingkungan dan pembangunan kota berkelanjutan.

Forum ini secara spesifik membahas penguatan pengaturan tatanan sehat di bawah inisiatif AFCC (Alliance for Healthy Cities) di Malaysia, dihadiri oleh berbagai Wali Kota Asia Pasifik yang berkomitmen pada visi Healthy Cities.

Pergantian Pemimpin: Tantangan Wujudkan Kota Sehat

Dalam pemaparannya yang mendalam, Prof. Sukri Palluturi menyoroti tantangan paling krusial yang secara struktural menghambat upaya berkelanjutan dalam mewujudkan Kota Sehat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurut alumni Griffith University Australia ini, isu yang paling merusak kesinambungan program adalah:

“Tantangan paling krusial dalam penyelenggaraan kota sehat adalah pergantian pimpinan daerah, seperti bupati dan walikota, yang juga diikuti dengan pergantian para pimpinan OPD (Organisasi Perangkat Daerah),” tegasnya.

Prof. Sukri menjelaskan bahwa dampak domino dari pergantian kepala daerah adalah hilangnya memori institusional program kesehatan. Setiap kepemimpinan baru yang masuk seringkali memerlukan penjelasan ulang (mulai dari nol) mengenai esensi Kota Sehat—baik dalam konteks nasional maupun internasional, hingga urgensi dari program jangka panjang tersebut. Hal ini menciptakan ketidakpastian kebijakan, pemutusan alokasi sumber daya, dan kegagalan dalam mewujudkan rencana pembangunan berkelanjutan yang telah disusun oleh pendahulu.

Tiga Pilar Masalah Krusial Berdasarkan Kajian FKM Unhas

Berdasarkan kajian mendalam (review berbagai literatur dan pengalaman praktik di hampir semua regional WHO) yang dilakukan oleh tim FKM Unhas, Prof. Sukri mengidentifikasi tiga pilar masalah utama yang menghambat implementasi program Kota Sehat:

1. Masalah Pemahaman dan Kapasitas: Prof. Sukri melihat bahwa masalah yang dihadapi berkaitan dengan pemahaman mengenai kota sehat yang belum dipahami secara komprehensif oleh seluruh pemangku kepentingan, terutama para pejabat baru di OPD. Karena itu, pengembangan kapasitas menjadi sangat penting dan harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya pada tingkat teknis, tetapi juga pada tingkat konseptual dan kebijakan.

2. Masalah Kelembagaan dan Pendanaan: “Kedua adalah berkaitan dengan kelembagaan dan pendanaan. Kelembagaan kota sehat beragam, seringkali tumpang tindih atau tidak memiliki otoritas kuat, demikian pula sumber-sumber pendanaan yang relatif terbatas dan tidak berkelanjutan,” ujarnya. Keterbatasan pendanaan menyebabkan program hanya berjalan sesaat dan gagal mencapai dampak sistemik yang diharapkan.

3. Masalah Ketidaksinambungan Kepemimpinan: Inilah pilar tantangan yang paling krusial, di mana pergantian rezim politik mengganggu visi jangka panjang pembangunan kesehatan.

Dari Sistem Sakit (Sick System) menuju Sistem Kesehatan Komprehensif

Forum di Penang ini juga memperkaya wawasan Prof. Sukri dengan perspektif internasional yang sejalan. Dalam pemaparan yang sangat komprehensif oleh perwakilan tuan rumah, ditekankan bahwa pendekatan kesehatan di banyak negara masih didominasi oleh pendekatan sakit (sick system).

“Dia menekankan bahwa pendekatan kesehatan banyak dilakukan pendekatan sakit, melayani orang sakit dan cenderung reaktif sehingga gagal meningkatkan derajat kesehatan, padahal ada sistem kesehatan yang lebih komprehensif untuk melihat masalah kesehatan secara keseluruhan,” ucap Prof. Sukri.

Dr. Rabindra, Perwakilan WHO Malaysia, Brunei, dan Singapura, juga menjelaskan secara rinci tentang pentingnya menggeser fokus ke populasi yang lebih sehat dari pendekatan sick system ke sistem kesehatan yang proaktif. Pendekatan ini membutuhkan investasi pada determinan kesehatan sosial dan lingkungan, bukan hanya pada penyediaan layanan kuratif di rumah sakit.

Sementara itu, Dr. Devender Singh selaku Koordinator Pelaksana Unit Masyarakat Pemberdayaan Kesehatan WPRO, menambahkan bahwa penggunaan determinan kesehatan untuk mengkaji masalah kesehatan memberikan ruang yang lebih luas untuk melihat dan menyelesaikan akar masalahnya, bukan hanya gejala penyakit. Pendekatan ini sangat sejalan dengan filosofi Ilmu Kesehatan Masyarakat yang diusung oleh FKM Unhas.

Peran Strategis FKM Unhas dalam Solusi Kota Sehat

Keikutsertaan Prof. Sukri Palluturi dalam forum WHO ini menunjukkan bahwa FKM Unhas tidak hanya aktif dalam riset lokal, tetapi juga berkontribusi pada dialog kebijakan kesehatan global. FKM Unhas berpotensi menjadi pusat kajian yang mampu menjembatani pemahaman dan implementasi program Kota Sehat di Indonesia.

Temuan mengenai tantangan pergantian kepemimpinan, pemahaman, dan pendanaan akan menjadi masukan berharga bagi pemerintah pusat dan daerah di Indonesia. FKM Unhas dapat menawarkan program pengembangan kapasitas yang berkelanjutan bagi para pimpinan OPD dan teknokrat daerah, memastikan bahwa pemahaman tentang Kota Sehat tetap utuh meskipun terjadi rotasi jabatan.

Keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

Isu Kota Sehat yang diangkat dalam forum WHO ini memiliki korelasi yang sangat kuat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya yang menjadi inti dari upaya keberlanjutan global:

  • SDG 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan): Peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara komprehensif, dengan fokus pada pencegahan dan sistem kesehatan yang proaktif, adalah jantung dari SDG 3. Kota Sehat adalah manifestasi fisik dan kebijakan untuk mencapai tujuan ini.
  • SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan): Isu ini secara langsung berfokus pada pembangunan kota yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Tantangan keberlanjutan program akibat pergantian pimpinan yang disoroti Prof. Sukri adalah hambatan utama dalam mencapai Target 11.A tentang perencanaan regional yang terpadu dan berkelanjutan.
  • SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): Forum WHO WPRO ini adalah contoh nyata dari kemitraan global yang penting untuk transfer pengetahuan dan best practices. Partisipasi FKM Unhas memperkuat kemitraan akademik-kebijakan yang vital untuk mengatasi masalah kesehatan perkotaan yang kompleks.

Penutup: Agenda FKM Unhas untuk Keberlanjutan Inovasi Kebijakan

Partisipasi aktif Prof. Sukri Palluturi dalam forum internasional ini menegaskan kembali peran FKM Unhas sebagai institusi yang berorientasi pada riset yang berdampak kebijakan (policy-oriented research). Hasil kajian dan insight yang diperoleh dari forum WHO WPRO akan diintegrasikan ke dalam kurikulum dan program pengabdian masyarakat FKM Unhas.

Fokus untuk mengatasi tantangan pergantian pemimpin melalui pengembangan master lan kota sehat yang diikat secara hukum dan program pengembangan kapastitas yang terus menerus akan menjadi agenda utama FKM Unhas ke depan, demi memastikan bahwa upaya mewujudkan kota yang sehat di Indonesia dapat terus berlanjut tanpa terpengaruh oleh dinamika politik daerah.

Kabar Terkini

tentang kami

FKM UNHAS

Jln. Perintis Kemerdekaan Km. 10.
Kampus Unhas Tamalanrea Makassar 90245
Sulawesi Selatan, Indonesia