MAKASSAR – Universitas Hasanuddin (Unhas) terus memantapkan langkahnya sebagai institusi pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai transparansi dan akuntabilitas. Di tengah upaya kolektif ini, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas muncul sebagai garda terdepan sekaligus sumber inspirasi dalam pembangunan Zona Integritas (ZI). Sebagai salah satu fakultas yang berhasil lolos penilaian internal dan mewakili universitas di tingkat nasional, FKM Unhas menunjukkan bahwa integritas bukanlah sekadar jargon, melainkan budaya kerja yang mendarah daging.
Langkah strategis ini diawali dari visi Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, M.Sc, yang mendorong seluruh unit layanan untuk bertransformasi menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK). Dalam perjalanannya, FKM Unhas terpilih bersama Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kehutanan sebagai pionir yang memenuhi standar ketat Kementerian PAN-RB. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan fakultas yang profesional mampu menciptakan lingkungan akademik yang bersih dan melayani.
Membangun Fondasi Melalui Enam Area Perubahan
Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, S.K.M, Ph.D, menjelaskan bahwa keberhasilan ini didasarkan pada implementasi konsisten terhadap enam area perubahan. Enam pilar inilah yang menjadi kompas bagi seluruh sivitas akademika dalam menjalankan tugas sehari-hari.
1. Manajemen Perubahan: Revolusi Mental dan Digitalisasi
Perubahan dimulai dari pola pikir. Manajemen perubahan di FKM Unhas menekankan pada komitmen pimpinan yang turun langsung menjadi teladan. Salah satu terobosan besar adalah digitalisasi layanan. Dengan meminimalisir kontak fisik melalui sistem daring, peluang terjadinya gratifikasi atau penyimpangan administrasi dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, aspek kenyamanan tamu juga diperhatikan dengan adanya Unit Layanan Fakultas yang representatif, menciptakan kesan bahwa pelayanan publik adalah prioritas utama.
2. Penataan Tata Laksana yang Inklusif
FKM Unhas melakukan audit terhadap seluruh alur birokrasi agar lebih efektif dan efisien. Hal yang patut diapresiasi adalah komitmen terhadap inklusivitas. Fakultas ini menjadi salah satu yang paling ramah disabilitas di lingkungan Unhas. Dari penyediaan jalur landai (ramp) yang sesuai standar teknis hingga keterlibatan relawan pendamping mahasiswa disabilitas, FKM membuktikan bahwa tata laksana yang baik harus menyentuh semua lapisan tanpa terkecuali.
3. Penataan Sistem Manajemen SDM
Kualitas institusi ditentukan oleh manusianya. FKM Unhas sangat serius dalam pengembangan kapasitas staf. Bagi dosen yang masih bergelar S2, terdapat pendampingan intensif agar segera melanjutkan studi S3. Tidak hanya dosen, tenaga kependidikan dan petugas kebersihan pun dilatih dengan standar Service Excellence. Pelatihan pelayanan prima yang pernah dilaksanakan di Malino menjadi bukti bahwa setiap personel, dari pimpinan hingga petugas lapangan, adalah wajah dari FKM Unhas yang harus bersikap ramah, profesional, dan informatif.
4. Penguatan Pengawasan Berbasis Teknologi
Transparansi didukung oleh sistem pengawasan yang ketat. Penggunaan CCTV 24 jam bukan hanya untuk keamanan fisik, tetapi juga sebagai alat pemantauan kedisiplinan dan budaya lingkungan, seperti penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Prinsipnya adalah preventif; sistem ini hadir untuk membangun kesadaran kolektif agar setiap individu merasa diawasi oleh komitmennya sendiri.
5. Penguatan Akuntabilitas Kinerja
Setiap sen anggaran dan setiap kebijakan harus dapat dipertanggungjawabkan. Di FKM Unhas, akuntabilitas dipandang sebagai amanah publik. Seluruh pimpinan dan staf bekerja berbasis target kinerja yang terukur, memastikan bahwa visi fakultas selaras dengan pencapaian universitas.
6. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
Layanan publik di FKM tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa, tetapi juga bagi seluruh pemangku kepentingan. Interaksi yang beradab dan profesional menjadi standar operasional prosedur yang wajib ditaati. Dengan sistem umpan balik yang terbuka, fakultas terus melakukan evaluasi terhadap setiap masukan dari pengguna layanan.
Relevansi dengan Sustainable Development Goals (SDGs)
Upaya FKM Unhas dalam membangun Zona Integritas memiliki kaitan erat dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs Poin 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Melalui pencegahan korupsi, peningkatan transparansi, dan efisiensi birokrasi, FKM Unhas berkontribusi dalam membangun lembaga yang efektif, akuntabel, dan transparan di semua tingkatan.
Selain itu, fokus FKM pada layanan ramah disabilitas juga mendukung SDGs Poin 10: Mengurangi Ketimpangan, dengan memastikan akses pendidikan dan layanan publik yang setara bagi semua orang. Sebagai fakultas kesehatan, prinsip “Mencegah lebih baik daripada mengobati” yang diterapkan dalam tata kelola organisasi merupakan manifestasi dari filosofi kesehatan masyarakat yang mendukung SDGs Poin 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Lembaga yang bersih dari korupsi akan menjamin distribusi sumber daya pendidikan kesehatan yang lebih tepat sasaran, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas lulusan dan derajat kesehatan masyarakat secara luas.
Mencegah sebagai Filosofi Organisasi
Prof. Sukri Palutturi menegaskan bahwa filosofi kesehatan masyarakat sangat memengaruhi cara fakultas ini dikelola. “Sebagai orang kesehatan masyarakat, kami percaya bahwa mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Hal ini kami terapkan dalam sistem manajemen. Kami membangun sistem pengawasan dan budaya integritas untuk mencegah terjadinya pelanggaran, bukan sekadar menghukum setelah ada kesalahan,” ungkapnya.
Langkah FKM Unhas ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi fakultas lain di Universitas Hasanuddin. Transformasi ini membuktikan bahwa dengan kemauan yang kuat, universitas dapat menjadi institusi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi teladan dalam moralitas dan etika publik.
Ke depannya, FKM Unhas berkomitmen untuk terus mempertahankan predikat ini dan terus berinovasi dalam memberikan layanan terbaik bagi bangsa. Karena pada akhirnya, integritas adalah fondasi utama dalam mencetak generasi pemimpin masa depan yang berkarakter.