MAKASSAR – Tantangan kesehatan masyarakat di era modern tidak lagi hanya berkutat pada persoalan klinis, melainkan telah bergeser ke arah kompleksitas lingkungan dan ekosistem perkotaan. Di tengah dinamika ini, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) bangga memperkenalkan salah satu akademisi mudanya yang progresif, Basir, S.K.M, M.Sc. Ia adalah sosok ilmuwan yang mendedikasikan pemikirannya untuk membedah keterkaitan antara kualitas lingkungan dengan kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang sering terpinggirkan.
Fokus pada Kesehatan Lingkungan dan Realitas Urban
Basir membawa perspektif baru dalam memandang isu kesehatan lingkungan. Baginya, kesehatan lingkungan bukan sekadar angka-angka di laboratorium, melainkan sebuah realitas sosial yang harus dihadapi langsung di lapangan. Salah satu fokus utama penelitian dan advokasi yang ia lakukan saat ini tertuju pada kawasan Tallo, Makassar.
Tallo merupakan salah satu wilayah historis yang kini menghadapi tantangan kesehatan urban yang sangat kompleks. Menurut Basir, problem kesehatan di kawasan seperti Tallo tidak bisa dipahami secara parsial atau sektoral saja. Fenomena penumpukan limbah, sanitasi yang buruk, hingga kerentanan sosial seperti kriminalitas dan narkoba, semuanya saling bertaut dalam satu ekosistem yang ia sebut sebagai “ekosistem kerentanan”.
“Isu lingkungan di wilayah urban bukan hanya soal sampah, tapi soal bagaimana manusia berinteraksi dengan ruangnya. Ketika ruang tersebut tidak lagi sehat secara fisik, maka aspek sosial dan psikologis masyarakatnya pun ikut terancam,” ujar Basir dalam sebuah kesempatan diskusi.
Menembus Batas Akademik: Turun ke Lapangan
Sebagai seorang akademisi muda FKM Unhas, Basir memilih gaya pendekatan yang inklusif. Ia meyakini bahwa keberpihakan seorang ilmuwan dimulai dengan hadir dan mendengar suara masyarakat. Baginya, data yang paling valid ditemukan di sela-sela permukiman padat, di mana warga berjuang setiap hari dengan kondisi lingkungan yang kurang ideal.
Ia menyoroti secara khusus kondisi di RW 5 kawasan Tallo, belakang SMK 5 Makassar. Wilayah ini menjadi salah satu potret nyata betapa mendesaknya intervensi kesehatan lingkungan. Basir tidak ragu untuk meninggalkan kenyamanan ruang akademik demi menyusuri gang-gang sempit dan berinteraksi langsung dengan warga untuk memahami akar permasalahan kesehatan yang mereka hadapi.
Pendekatan ini sangat relevan dengan visi FKM Unhas untuk melahirkan tenaga ahli yang tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga peka terhadap kebutuhan riil masyarakat (community-based approach).
Kontribusi pada Tata Kelola Lingkungan Nasional
Selain fokus pada isu urban di Makassar, kepakaran Basir juga mencakup penguatan tata kelola lingkungan di wilayah-wilayah rentan lainnya di Indonesia, termasuk daerah yang terdampak oleh aktivitas pertambangan rakyat. Aktivitas tambang seringkali menyisakan residu logam berat dan kerusakan ekosistem yang berdampak jangka panjang bagi kesehatan penduduk lokal.
Melalui riset-risetnya, Basir berupaya mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Ia berharap model tata kelola yang ia kembangkan dapat diaplikasikan untuk memitigasi risiko kesehatan di wilayah-wilayah dengan aktivitas industri tinggi, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak harus dibayar mahal dengan rusaknya kesehatan publik.
Sinergi dengan Sustainable Development Goals (SDGs)
Kiprah Basir di FKM Unhas merupakan manifestasi nyata dari komitmen universitas dalam mendukung agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Fokus kerjanya bersentuhan langsung dengan beberapa poin krusial dalam SDGs:
- SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Melalui upayanya memperbaiki kesehatan lingkungan, Basir berkontribusi langsung pada penurunan angka kesakitan akibat polusi dan penyakit lingkungan.
- SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak): Advokasinya mengenai perbaikan sanitasi di kawasan Tallo sejalan dengan upaya penyediaan akses sanitasi yang aman bagi seluruh lapisan masyarakat.
- SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan): Kajiannya mengenai kesehatan urban sangat penting untuk mewujudkan kota yang inklusif, aman, dan tangguh.
- SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Dengan mendorong tata kelola lingkungan yang baik, ia turut membantu masyarakat beradaptasi terhadap dampak perubahan lingkungan yang ekstrem.
Keterkaitan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh akademisi FKM Unhas bukan sekadar kewajiban profesional, melainkan bagian dari gerakan global untuk menyelamatkan planet dan manusia.
Harapan Masa Depan bagi FKM Unhas
Kehadiran akademisi muda seperti Basir memberikan napas segar bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya di Universitas Hasanuddin. Ia membuktikan bahwa ilmu kesehatan masyarakat adalah jembatan antara kebijakan pemerintah dengan realitas di akar rumput.
FKM Unhas terus berkomitmen untuk mendukung riset-riset inovatif yang dilakukan oleh para dosen mudanya. Harapannya, hasil kajian dari tokoh seperti Basir dapat menjadi rujukan bagi Pemerintah Kota Makassar maupun pemerintah pusat dalam merancang kebijakan pembangunan yang berbasis kesehatan lingkungan.
Kesehatan lingkungan adalah investasi masa depan. Dengan lingkungan yang sehat, kita tidak hanya memperpanjang usia harapan hidup, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang agar lebih produktif dan sejahtera.