MAKASSAR – Di tengah dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, tantangan dalam menjaring mahasiswa baru untuk jenjang pascasarjana menjadi isu krusial bagi banyak perguruan tinggi di Indonesia. Pergeseran tren minat calon mahasiswa serta banyaknya pilihan institusi pendidikan menuntut pengelola program studi untuk lebih kreatif dan strategis. Menanggapi tantangan ini, Program Studi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) berbagi pengalaman sukses dalam menjaga stabilitas rekrutmen melalui pendekatan kolaborasi kelembagaan yang kuat.

Dalam Workshop Rencana Kerja Strategis (Renstra) 2025-2029 yang digelar baru-baru ini, Ketua Program Studi S2 AKK FKM Unhas, Prof. Amran Razak, S.E., M.Sc., memaparkan berbagai tips praktis dan tren rekrutmen yang efektif. Menurutnya, kunci keberhasilan bukan lagi sekadar mengandalkan promosi konvensional, melainkan membangun kepercayaan melalui jejaring profesional dan kemitraan strategis dengan pemerintah daerah.
Menembus Batas Kampus: Strategi Kolaborasi Pemerintah Daerah
Salah satu capaian menonjol dari Prodi S2 AKK adalah kemampuannya mempertahankan kuota mahasiswa ideal, yakni sekitar 35 mahasiswa per angkatan. Hal ini dicapai bukan melalui iklan masif, melainkan lewat skema kerja sama strategis (MoU) dengan berbagai instansi pemerintah di luar Sulawesi Selatan.
Prof. Amran mengungkapkan bahwa kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Kesehatan menjadi salah satu contoh sukses. Saat ini, sebanyak 24 Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Maluku tengah menempuh pendidikan magister di Prodi S2 AKK FKM Unhas. Keberhasilan ini merupakan hasil dari komunikasi intensif antara pihak Prodi dan dukungan penuh dari Dekanat FKM Unhas yang dipimpin oleh Prof. Sukri Palutturi, Ph.D.
“Kemitraan ini bersifat mutualisme. Para mahasiswa yang merupakan praktisi kesehatan di daerah asal tidak hanya belajar secara akademis, tetapi juga tetap terhubung dengan kebutuhan birokrasi mereka. Kami membantu mereka meningkatkan kapasitas SDM, sementara universitas mendapatkan input mahasiswa yang berkualitas dan berpengalaman,” jelas Prof. Amran.
Selain Maluku, rekam jejak kerja sama Prodi S2 AKK juga mencakup wilayah Kalimantan Utara, terutama pada masa kepemimpinan Gubernur Zainal Arifin Paliwang. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan institusional kepada kepala daerah dan pemangku kebijakan merupakan strategi yang sangat efektif untuk memperluas jangkauan rekrutmen di jenjang S1, S2, hingga S3.
Fleksibilitas Pembelajaran: Metode Blocking Class dan Kedekatan Emosional
Menyadari bahwa sebagian besar mahasiswa pascasarjana adalah pekerja profesional, FKM Unhas menerapkan metode pembelajaran yang adaptif. Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, menjelaskan bahwa Prodi S2 AKK menerapkan sistem blocking class.
Dalam skema ini, jadwal perkuliahan disusun berdasarkan kesepakatan bersama sehingga mahasiswa dapat mengikuti proses belajar mengajar secara intensif dalam periode waktu tertentu tanpa harus meninggalkan kewajiban pekerjaan mereka secara total. Lokasi pembelajaran pun bersifat fleksibel; perkuliahan dapat dilaksanakan secara luring di Kampus Tamalanrea Makassar maupun di lokasi daerah mitra.
Namun, Prof. Sukri menekankan bahwa kehadiran fisik di kampus tetap menjadi aspek penting. “Penting bagi mahasiswa untuk mengenal almamaternya secara langsung. Mereka harus merasakan atmosfer akademik di FKM Unhas agar terbangun kedekatan emosional dan rasa bangga terhadap universitas. Hal ini akan memperkuat solidaritas alumni di masa depan,” tambahnya.
Optimalisasi Jejaring Personal dan Profesional
Prof. Amran Razak, yang juga memiliki pengalaman sebagai tenaga ahli di kementerian, menekankan pentingnya memanfaatkan jejaring personal pengelola fakultas dan para guru besar. Komunikasi etis dengan kepala daerah atau pimpinan lembaga menjadi pintu masuk utama dalam membangun kerja sama pendidikan yang tematik.
“Kerja sama bisa dirancang sesuai kebutuhan spesifik daerah, misalnya kelas khusus kebijakan kesehatan atau administrasi rumah sakit. Jika sosialisasi ini dilakukan secara lebih terstruktur melalui Ikatan Alumni (IKA) Unhas atau organisasi profesi, potensinya tentu akan jauh lebih besar lagi,” urai Prof. Amran.
Sinergi dengan Sustainable Development Goals (SDGs)
Langkah strategis yang dilakukan oleh Prodi S2 AKK FKM Unhas ini sejatinya merupakan kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Khususnya pada SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
Dengan mempermudah akses pendidikan tinggi bagi para praktisi kesehatan di daerah terpencil melalui kerja sama pemerintah, FKM Unhas berperan dalam meningkatkan kualitas SDM yang kompeten dalam mengelola kebijakan kesehatan nasional. Pendidikan yang inklusif dan merata (SDG 4) akan berujung pada penguatan sistem kesehatan masyarakat di tingkat daerah, yang secara langsung mendukung target kesehatan global (SDG 3).
Selain itu, kemitraan antara universitas dan pemerintah daerah mencerminkan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sinergi ini membuktikan bahwa tantangan kompleks di sektor kesehatan dan pendidikan tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
Kesimpulan dan Harapan Masa Depan
Pengalaman dari Program Studi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas menjadi pembelajaran berharga bagi program studi lain. Kunci keberlanjutan sebuah program studi di era modern bukan hanya terletak pada kurikulum, tetapi pada kemampuan membaca kebutuhan pasar, membangun kepercayaan dengan mitra eksternal, dan menyediakan solusi pendidikan yang fleksibel namun tetap berkualitas.
Dengan terus memperkuat jejaring dan melakukan inovasi dalam metode rekrutmen, FKM Unhas optimis dapat terus melahirkan pemimpin-pemimpin di bidang kesehatan masyarakat yang mampu membawa perubahan positif bagi Indonesia dan dunia.