MAKASSAR – Dalam upaya berkelanjutan untuk mencetak lulusan yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global, Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) Angkatan 11 sukses melaksanakan rangkaian kegiatan studi banding (hospital benchmarking) berskala nasional dan internasional pada Mei 2026. Kegiatan strategis ini dirancang sebagai jembatan emas bagi para mahasiswa untuk mengomparasikan, menganalisis, dan menyerap tata kelola rumah sakit modern, baik di dalam negeri maupun di kancah global.
Rangkaian kunjungan ini melibatkan sebanyak 32 mahasiswa magister pilihan serta didampingi oleh 3 dosen pakar dari FKM Unhas. Sepanjang program ini, para peserta mendalami lima pilar utama manajemen rumah sakit kontemporer, yaitu strategi pemasaran rumah sakit, penjaminan mutu pelayanan kesehatan, tata kelola sumber daya manusia (SDM), sistem pelayanan kesehatan terpadu, hingga implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) berbasis teknologi masa depan.
Transformasi Layanan Berbasis Mutu: Eksplorasi Komprehensif di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)

Perjalanan ilmiah akademisi MARS FKM Unhas diawali pada tanggal 4 Mei 2026 dengan mengunjungi Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) di Depok, Jawa Barat. Sebagai salah satu pelopor rumah sakit pendidikan tinggi yang mengusung konsep bangunan tahan gempa serta integrasi interprofesional, RSUI menjadi lokus ideal untuk mempelajari bagaimana sebuah institusi kesehatan mengawinkan fungsi edukasi klinis dengan efisiensi bisnis pelayanan kesehatan medis mutakhir.
Kedatangan delegasi Unhas disambut hangat oleh Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategis RSUI beserta segenap jajaran manajemen puncak. Dalam sesi diskusi interaktif yang berlangsung di ruang pertemuan utama, pihak RSUI memaparkan secara mendalam mengenai profil kelembagaan, sistem pengelolaan pelayanan, serta visi pengembangan layanan digital yang berorientasi pada keselamatan pasien (patient safety). Mahasiswa diberikan kesempatan langka untuk membedah bagaimana SIMRS di RSUI mampu mengintegrasikan data rekam medis elektronik guna menunjang kecepatan pengambilan keputusan klinis.
Tidak hanya berdiskusi di dalam ruangan, para mahasiswa yang dibagi ke dalam tiga kelompok juga melakukan hospital tour menyeluruh ke berbagai lini pelayanan. Menariknya, tujuh perwakilan mahasiswa MARS Unhas diberikan akses khusus untuk mengobservasi unit layanan eksklusif (premium) milik RSUI. Observasi khusus ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai manajemen tata kelola patient experience kelas premium, penataan strategi pemasaran (hospital marketing), serta manajemen retensi pasien pasca-rawat.
Menyerap Kunci Sukses Manajemen Keadaan Darurat di Viet Duc University Hospital Vietnam
Melanjutkan komitmen internasionalisasi, pada tanggal 7 Mei 2026, rombongan MARS FKM Unhas terbang menuju Hanoi, Vietnam, untuk melakukan studi banding ke Viet Duc University Hospital. Sebagai salah satu pusat rujukan bedah dan trauma terbesar di Vietnam dengan volume pasien yang luar biasa tinggi setiap harinya, rumah sakit ini menawarkan kompleksitas manajemen tersier yang sangat menantang bagi para calon manajer rumah sakit.
Jajaran direksi, manajer pelayanan medik, serta komite mutu Viet Duc University Hospital menyambut langsung delegasi FKM Unhas. Di sini, fokus pembelajaran ditekankan pada manajemen pelayanan kesehatan darurat dan efisiensi alur kerja klinis. Perwakilan mahasiswa yang mendapatkan kesempatan hospital tour berfokus mengamati performa Instalasi Gawat Darurat (IGD) Viet Duc. Mereka mempelajari bagaimana rumah sakit tersebut menyiagakan 18 dokter spesialis setiap harinya di unit emergensi demi memastikan respons penanganan yang cepat dan akurat.
Selain itu, sistem ketat pembatasan waktu observasi pasien di IGD yang maksimal hanya selama 4 jam sebelum diputuskan untuk rawat inap, operasi, atau pulang, menjadi poin analisis penting bagi mahasiswa terkait pencegahan penumpukan pasien (overcrowding) di IGD. Mahasiswa juga mendalami sistem koordinasi klinis yang ketat, di mana proses pemindahan pasien ke ruang rawat inap wajib mendapatkan klirens dan persetujuan tertulis dari dokter spesialis terkait. Protokol ini diterapkan secara disiplin untuk menjamin ketepatan indikasi medis serta integrasi pengendalian mutu pelayanan.
Inovasi Telemedicine dan Digitalisasi Farmasi di Hanoi Medical University Hospital
Masih di hari yang sama, tanggal 7 Mei 2026, delegasi MARS FKM Unhas juga mengunjungi Hanoi Medical University Hospital (HMUH). Rumah sakit pendidikan ini dikenal luas di Asia Tenggara berkat keberhasilannya meraih indeks kepuasan pasien tertinggi (masuk dalam tiga besar terbaik di Vietnam) melalui pemanfaatan ekosistem digital dan inovasi teknologi kesehatan yang sangat masif.
Kunjungan resmi ini diterima langsung oleh Direktur Utama HMUH bersama Kepala Bidang Mutu Pelayanan. Selama sesi sharing, terungkap bahwa rahasia utama tingginya indeks kepuasan pasien di HMUH adalah komitmen kuat mereka terhadap implementasi teknologi pintar yang memangkas waktu tunggu pasien. Untuk membedah ekosistem digital tersebut, mahasiswa dibagi menjadi tiga kelompok observasi khusus.
Kelompok pertama berfokus pada unit unggulan Cardiology and Cardiovascular Surgery untuk melihat alur penanganan pasien jantung secara cepat. Kelompok kedua mengeksplorasi unit SIMRS yang mengelola pusat telemedicine terintegrasi; sebuah sistem mutakhir yang memungkinkan dokter spesialis memantau tanda-tanda vital pasien di daerah terpencil secara realtime. Di unit ini pula, mahasiswa melihat kecanggihan sistem digitalisasi farmasi, di mana ketersediaan stok obat di seluruh depo terpantau secara otomatis dan presisi oleh sistem pintar.

Sementara itu, kelompok ketiga berkesempatan meninjau laboratorium otomatis yang telah memanfaatkan pneumatic tube system. Sistem transportasi logistik medis berbasis tekanan udara ini mampu mengirimkan sampel darah, dokumen medis, dan obat-obatan dari satu ruangan ke ruangan lain dalam hitungan detik. Penggunaan teknologi ini secara signifikan meminimalkan risiko kesalahan manusia (human error) dan mempercepat penegakan diagnosis klinis pasien di rumah sakit.
Kontribusi Nyata Terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Rangkaian kegiatan hospital benchmarking internasional yang diinisiasi oleh Program Studi MARS FKM Unhas ini memegang peranan krusial dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Melalui transfer pengetahuan dan adopsi praktik terbaik (best practices) dari institusi kesehatan global kelas dunia, FKM Unhas secara langsung berkontribusi pada peningkatan mutu tata kelola layanan kesehatan domestik. Lulusan yang dibekali pemahaman mendalam tentang efisiensi IGD, digitalisasi SIMRS, dan manajemen patient safety diharapkan mampu merancang kebijakan operasional rumah sakit di Indonesia yang lebih inklusif, responsif, dan bermutu tinggi, guna memastikan akses kesehatan yang prima bagi seluruh lapisan masyarakat.
Penguatan Hubungan Kelembagaan Internasional dan Masa Depan Alumni MARS Unhas
Sebagai bentuk komitmen kemitraan strategis, di akhir setiap sesi kunjungan, FKM Universitas Hasanuddin yang diwakili oleh tim dosen pendamping menyerahkan plakat penghargaan dan cenderamata kepada pihak manajemen RSUI, Viet Duc University Hospital, dan Hanoi Medical University Hospital. Langkah ini menjadi simbol apresiasi mendalam sekaligus membuka peluang kolaborasi riset bersama, pertukaran staf, maupun program magang internasional bagi mahasiswa Unhas di masa yang akan datang.

Melalui pengalaman langsung (experiential learning) di tiga rumah sakit terkemuka ini, mahasiswa MARS FKM Unhas Angkatan 11 diharapkan tidak hanya menguasai teori di dalam kelas, melainkan memiliki ketajaman analisis praktis dalam memecahkan masalah manajemen perumahsakitan nasional. Pemahaman holistik mengenai integrasi teknologi, manajemen mutu, serta efisiensi operasional mutlak diperlukan agar alumni FKM Unhas mampu menjadi agen perubahan (agent of change) yang membawa sistem kesehatan Indonesia bersaing di tingkat global.